Konten dari Pengguna

Ekonomi Tumbuh, Tapi Kenapa Dompet Masih Terasa Tipis?

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Haikal Ramadhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perkembangan Harga Indeks Konsumen Agustus 2026. Dokumen: Badan Pusat Statistik
zoom-in-whitePerbesar
Perkembangan Harga Indeks Konsumen Agustus 2026. Dokumen: Badan Pusat Statistik

Setiap kali pemerintah mengumumkan pertumbuhan ekonomi, kita sering mendengar kabar bahwa ekonomi Indonesia tetap tumbuh dan berada dalam kondisi yang cukup baik. Namun, di tengah kabar tersebut, ada pertanyaan yang mungkin juga muncul dalam kehidupan sehari-hari: kalau ekonomi memang tumbuh, mengapa sebagian masyarakat masih merasa pengeluaran semakin berat?

Pertanyaan ini menjadi semakin menarik ketika melihat kondisi ekonomi Indonesia sepanjang 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan. Angka tersebut memang menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi tetap berjalan dan Indonesia masih mampu tumbuh di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pada triwulan sebelumnya, ekonomi bahkan tumbuh 5,61 persen.

Bank Indonesia juga mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2026 didukung oleh konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, konsumsi pemerintah, investasi, dan ekspor. Artinya, secara makro ekonomi Indonesia masih memiliki mesin pertumbuhan yang bekerja.

Namun, pertumbuhan ekonomi dan kondisi keuangan setiap orang adalah dua hal yang tidak selalu bergerak dalam arah yang sama.

Pertumbuhan Ekonomi Bukan Berarti Semua Orang Langsung Lebih Sejahtera

Sederhananya, pertumbuhan ekonomi menggambarkan bertambahnya aktivitas dan nilai produksi barang serta jasa dalam suatu perekonomian. Salah satu ukuran yang paling sering digunakan adalah Produk Domestik Bruto atau PDB.

Masalahnya, angka PDB adalah angka agregat. Angka tersebut menggambarkan kondisi perekonomian secara keseluruhan, bukan secara langsung menunjukkan berapa banyak uang yang tersisa di dompet setiap masyarakat.

Misalnya, sebuah industri dapat meningkatkan produksi, investasi meningkat, dan ekspor bertambah sehingga PDB ikut naik. Tetapi pada saat yang sama, seseorang bisa saja menghadapi kenaikan harga makanan, biaya transportasi, biaya pendidikan, atau kebutuhan rumah tangga lainnya.

Inilah mengapa pertumbuhan ekonomi yang terlihat bagus di tingkat nasional belum tentu langsung terasa sama oleh seluruh masyarakat.

Bahkan, Bank Indonesia dalam Tinjauan Kebijakan Moneter Agustus 2026 menyebut konsumsi rumah tangga tetap baik, tetapi masih perlu terus ditingkatkan agar dapat memanfaatkan momentum stimulus fiskal. Ini menunjukkan bahwa konsumsi masyarakat tetap menjadi bagian penting dari pertumbuhan, tetapi daya beli tetap menjadi perhatian.

Harga Naik, Meski Inflasi Masih Terkendali

Salah satu alasan mengapa masyarakat dapat merasa dompet semakin tipis adalah kenaikan harga.

BPS mencatat inflasi Indonesia pada Agustus 2026 sebesar 3,19 persen secara tahunan. Secara bulanan, inflasi tercatat 0,21 persen, sedangkan inflasi sejak awal tahun mencapai 1,86 persen. Inflasi inti berada di angka 2,92 persen.

Angka 3,19 persen tidak berarti semua barang mengalami kenaikan harga sebesar 3,19 persen. Inflasi merupakan gambaran umum perubahan harga berbagai barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat.

Karena pola konsumsi setiap orang berbeda, dampaknya juga berbeda.

Bagi masyarakat yang sebagian besar pendapatannya digunakan untuk makanan, transportasi, sewa tempat tinggal, atau kebutuhan pokok, kenaikan harga pada kelompok barang tertentu bisa terasa jauh lebih berat dibandingkan angka inflasi umum.

Jadi, ketika seseorang mengatakan, “Inflasi katanya cuma sekitar 3 persen, tetapi belanja saya terasa jauh lebih mahal,” perasaan tersebut tidak otomatis bertentangan dengan data. Angka inflasi nasional adalah rata-rata, sementara pengalaman setiap rumah tangga bisa berbeda.

Lalu Bagaimana dengan Pendapatan?

Di sinilah persoalan daya beli menjadi lebih menarik.

BPS mencatat rata-rata upah buruh pada Mei 2026 sebesar Rp3,39 juta per bulan. Pada periode yang sama, jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai 155,41 juta orang dan penduduk yang bekerja sebanyak 148,19 juta orang. Tingkat Pengangguran Terbuka tercatat 4,65 persen.

Angka tersebut menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja Indonesia tetap bergerak. Namun, besarnya rata-rata upah tidak otomatis menggambarkan kondisi semua pekerja.

Ada pekerja dengan pendapatan jauh di atas rata-rata, tetapi ada pula pekerja yang pendapatannya berada di bawah angka tersebut. Selain itu, biaya hidup di setiap daerah juga berbeda.

Karena itu, yang penting bukan hanya berapa besar pendapatan seseorang, tetapi juga seberapa besar pendapatan tersebut mampu membeli barang dan jasa.

Kalau pendapatan naik 5 persen tetapi kebutuhan hidup naik lebih cepat, masyarakat belum tentu merasa lebih sejahtera. Sebaliknya, ketika pendapatan tumbuh lebih cepat daripada harga, daya beli akan terasa lebih kuat.

Dengan kata lain, persoalannya bukan hanya “berapa uang yang kita dapatkan?,” tetapi juga “berapa banyak kebutuhan yang bisa kita beli dengan uang tersebut?”

Ada Kabar Baik: Keyakinan Konsumen Justru Meningkat

Meski ada alasan untuk merasa khawatir terhadap daya beli, data juga menunjukkan bahwa kondisi masyarakat tidak sepenuhnya negatif.

Bank Indonesia mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Agustus 2026 berada pada level 118,5. Angka tersebut meningkat dibandingkan Juli 2026 yang berada di level 116,8.

Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini juga meningkat dari 107,9 menjadi 109,4, sedangkan Indeks Ekspektasi Konsumen naik dari 125,7 menjadi 127,6.

Artinya, masyarakat secara umum masih melihat kondisi ekonomi dan masa depan ekonomi dengan cukup optimistis.

Hal ini penting karena konsumsi rumah tangga merupakan salah satu mesin utama perekonomian Indonesia. Ketika masyarakat memiliki pendapatan dan keyakinan yang cukup, mereka akan lebih berani berbelanja. Aktivitas tersebut kemudian mendorong penjualan, produksi, investasi, dan pada akhirnya pertumbuhan ekonomi.

Jadi, cerita tentang daya beli masyarakat sebenarnya tidak sesederhana “ekonomi sedang buruk” atau “ekonomi sedang baik”. Ada indikator yang menunjukkan kekuatan, tetapi ada pula tantangan yang masih harus diperhatikan.

Mengapa Pergantian Menteri Keuangan Ikut Menjadi Perhatian?

Menariknya, pembicaraan mengenai kondisi ekonomi Indonesia saat ini tidak bisa dilepaskan dari peristiwa yang baru terjadi.

Pada 14 September 2026, Presiden Prabowo Subianto mengganti Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan menunjuk Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan yang baru.

Pergantian ini mendapat perhatian besar karena Menteri Keuangan memiliki peran penting dalam mengelola APBN dan menentukan arah kebijakan fiskal pemerintah.

Reuters melaporkan bahwa pergantian tersebut mengejutkan pasar, tetapi juga dipandang sebagian analis sebagai upaya untuk memulihkan kepercayaan terhadap kebijakan fiskal Indonesia. Suahasil kemudian menyatakan komitmennya untuk menjaga kredibilitas APBN dan mempertahankan defisit anggaran di bawah batas 3 persen dari PDB.

Yang menarik, Reuters juga mencatat bahwa masa jabatan Purbaya berlangsung bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi yang mencapai level tertinggi dalam tiga tahun, tetapi di sisi lain terdapat pelebaran defisit anggaran dan penurunan outlook peringkat kredit dari Fitch dan Moody's.

Di sini kita kembali menemukan satu hal penting: pertumbuhan ekonomi saja tidak cukup untuk menggambarkan seluruh kesehatan ekonomi.

Pemerintah juga harus menjaga kredibilitas fiskal, stabilitas rupiah, kepercayaan investor, dan kemampuan masyarakat dalam mempertahankan konsumsi.

IHSG Menunjukkan Betapa Sensitifnya Kepercayaan Investor

Reaksi pasar setelah pergantian Menteri Keuangan juga menarik untuk diperhatikan.

Pada 15 September 2026, sehari setelah pergantian tersebut, IHSG pada penutupan sesi I berada di level 6.484, turun 49,77 poin atau 0,76 persen. Pada saat yang sama, investor asing mencatatkan net sell sekitar Rp383,65 miliar pada seluruh pasar.

Namun, pergerakan IHSG tidak boleh langsung disimpulkan sebagai akibat tunggal dari pergantian Menteri Keuangan. Pasar saham dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kondisi global, harga minyak, nilai tukar rupiah, suku bunga, ekspektasi terhadap The Fed, hingga sentimen terhadap masing-masing perusahaan.

Sehari sebelumnya, IHSG bahkan sempat mengalami tekanan besar dan kemudian berbalik setelah pengumuman Suahasil. Media pasar melaporkan bahwa IHSG sempat menyentuh level 6.371,39 sebelum rebound ke sekitar 6.546,74 pada perdagangan 14 September. Analis Mirae Asset menilai penguatan tersebut sebagai respons awal investor terhadap pengumuman pergantian Menkeu.

Artinya, pasar tidak hanya melihat siapa yang menjadi Menteri Keuangan. Investor juga melihat arah kebijakan yang akan dibawa oleh menteri baru.

Ekonomi Tumbuh, tetapi Kepercayaan Tetap Penting

Ada satu pernyataan menarik dari Shinta Kamdani, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), yang dikutip Reuters setelah pergantian Menteri Keuangan.

Ia berharap pergantian tersebut tetap menjaga kesinambungan kebijakan dan tidak menimbulkan perubahan arah kebijakan secara tiba-tiba. Menurutnya, dukungan pemerintah tetap dibutuhkan untuk menjaga daya beli, meningkatkan investasi, dan produktivitas.

Menurut saya, pernyataan tersebut cukup menggambarkan persoalan ekonomi Indonesia saat ini.

Kita tidak hanya membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Kita juga membutuhkan pertumbuhan yang bisa dirasakan masyarakat melalui pekerjaan, pendapatan, konsumsi, investasi, dan kesempatan ekonomi.

Pertumbuhan 5,29 persen tentu bukan angka yang buruk. Bahkan, di tengah ketidakpastian global, angka tersebut menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia masih memiliki ketahanan.

Tetapi, pemerintah tetap perlu memastikan bahwa pertumbuhan tersebut tidak hanya terlihat bagus di atas kertas.

Jadi, Mengapa Dompet Masih Terasa Tipis?

Pada akhirnya, pertanyaan dalam judul artikel ini tidak berarti bahwa ekonomi Indonesia sedang gagal.

Justru data menunjukkan gambaran yang lebih kompleks.

Profil Kemiskinan Indonesia. Dokumen: Badan Pusat Statistik

Ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen pada triwulan II 2026. Inflasi masih berada dalam sasaran yang ditetapkan Bank Indonesia, meskipun pada Agustus mencapai 3,19 persen. Kemiskinan juga menurun menjadi 8,07 persen pada Maret 2026 atau sekitar 22,93 juta orang. Di sisi lain, rata-rata upah buruh pada Mei berada di Rp3,39 juta dan konsumsi rumah tangga masih perlu diperkuat.

Jadi, ekonomi Indonesia memang tumbuh. Namun, pertumbuhan ekonomi tidak otomatis membuat semua orang merasakan peningkatan kesejahteraan pada waktu yang sama.

Ada jarak antara angka makroekonomi dan pengalaman ekonomi sehari-hari.

Bagi pemerintah, tantangannya bukan hanya mempertahankan pertumbuhan, tetapi juga memastikan pertumbuhan tersebut mampu menciptakan lapangan kerja yang berkualitas, meningkatkan pendapatan masyarakat, menjaga stabilitas harga, dan mempertahankan kepercayaan dunia usaha serta investor.

Pergantian Menteri Keuangan yang baru terjadi menjadi pengingat bahwa kebijakan ekonomi sangat berkaitan dengan kepercayaan. Investor memperhatikan arah kebijakan fiskal, masyarakat memperhatikan harga dan pendapatan, sementara pemerintah harus menjaga keseimbangan antara mendorong pertumbuhan dan mempertahankan kesehatan APBN.

Karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan lagi “Apakah ekonomi Indonesia tumbuh?”

Jawabannya sudah jelas: ya, ekonomi Indonesia tumbuh.

Pertanyaan berikutnya adalah: apakah pertumbuhan tersebut cukup kuat untuk membuat masyarakat merasa hidupnya benar-benar lebih baik?

Di situlah kualitas pertumbuhan ekonomi sebenarnya diuji.