Kopi Gayo: Potensi Memperkuat PAD di Aceh

Pembina Teknis Perbendaharaan Negara KPPN Kutacane
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hamzah Akbar Silalahi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Kalau seandainya mau mengandalkan anggaran ini (dana transfer pusat) saja, berat.”
— Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, 9 April 2026
Pernyataan tersebut menjadi pengingat penting bagi pemerintah daerah untuk memperkuat Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan tidak sepenuhnya bergantung pada transfer pemerintah pusat. Bagi Aceh, salah satu peluang yang dapat dikembangkan adalah komoditas Kopi Gayo.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan, realisasi pendapatan Provinsi Aceh dan 23 kabupaten/kota pada 2025 mencapai sekitar Rp38,64 triliun, sementara PAD hanya sekitar Rp6,22 triliun atau 16,10 persen. Kondisi ini menunjukkan masih terdapat ruang untuk memperkuat basis ekonomi dan penerimaan daerah.
Peluang tersebut didukung oleh besarnya potensi kopi Aceh. Data Kementerian Pertanian mencatat produksi kopi Arabika Aceh meningkat dari 39.457 ton pada 2010 menjadi 62.091 ton pada 2025, atau naik sekitar 57 persen. Produksi tersebut mencapai sekitar 27,62 persen produksi Arabika nasional.
Namun, besarnya produksi belum otomatis menghasilkan nilai ekonomi yang maksimal bagi daerah. Sebagian besar Kopi Gayo masih dipasarkan dalam bentuk green bean. Karena itu, pengembangan perlu diarahkan pada peningkatan nilai tambah, mulai dari pengolahan pascapanen, roasting, pengemasan, sertifikasi, pemasaran, hingga pengembangan produk turunan.
Penelitian di Aceh Tengah menunjukkan bahwa kopi Arabika Gayo premium bersertifikat organik memiliki rasio nilai tambah 49,51 persen, lebih tinggi dibandingkan kopi premium tanpa sertifikasi sebesar 46,81 persen. Artinya, peningkatan kualitas dan diferensiasi produk dapat memperbesar nilai ekonomi yang tercipta di daerah.
Potensi Kopi Gayo juga tidak berhenti pada sektor perkebunan. Branding, wisata kopi, dan pengembangan UMKM dapat memperluas rantai ekonomi. Perkebunan dan pengolahan kopi dapat menjadi bagian dari destinasi wisata, sementara kopi dapat dikembangkan menjadi berbagai produk makanan, minuman, dan oleh-oleh. Aktivitas tersebut kemudian menggerakkan perdagangan, industri pengolahan, transportasi, akomodasi, serta jasa lainnya.
Dari sisi ekonomi daerah, semakin panjang rantai nilai yang terbentuk di Aceh, semakin besar kontribusinya terhadap PDRB. Aktivitas ekonomi yang meningkat juga dapat memperluas basis penerimaan daerah. Meski demikian, peningkatan PDRB tidak otomatis menjadi PAD karena tetap bergantung pada jenis kegiatan, kewenangan perpajakan dan retribusi daerah, serta efektivitas pemungutannya.
Karena itu, pengembangan Kopi Gayo perlu dipandang lebih luas daripada sekadar meningkatkan produksi. Fokus utamanya adalah memastikan semakin banyak nilai tambah kopi tercipta dan berputar di Aceh.
Dengan penguatan koperasi, industri pengolahan, sertifikasi, branding, UMKM, perdagangan, dan wisata kopi secara terintegrasi, Kopi Gayo dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah. Kopi Gayo bukan sekadar komoditas perkebunan, tetapi dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat PDRB, memperluas aktivitas usaha, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan membuka ruang penguatan PAD Aceh.
