Luka Pengasuhan: Pola Lama yang Tanpa Sadar Kita Ulangi ke Anak

Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidatullah Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Khalisah Hanan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak sih kamu mendengar seseorang berkata, “Pokoknya kalau aku jadi orang tua, nggak mau kayak orang tua aku,” atau “Aku takut kalau jadi orang tua, aku bakalan kayak orang tua aku” Pikiran seperti ini sering kali muncul bukan tanpa alasan, lho. Banyak orang menyimpannya sebagai reaksi dari luka pengasuhan yang mereka alami di masa kecil, dan tanpa disadari pola traumatis ini bisa terbawa hingga dewasa dan memengaruhi cara kita memandang hubungan, keluarga, dan peran sebagai orang tua.
Pada dasarnya, orang tua mana sih yang nggak ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya? Namun, ingatan dan rasa sakit dari masa lalu dapat membentuk pola pengasuhan yang tidak sehat. Akibatnya, banyak orang takut memulai hubungan serius atau membangun keluarga karena khawatir mengulang pola yang sama seperti yang pernah mereka alami, lho, Moms. Kekhawatiran ini sering kali berakar dari luka pengasuhan yang belum disadari maupun disembuhkan.
Apa Itu Luka pengasuhan?
Luka pengasuhan adalah pengalaman masa kecil yang dipenuhi luka emosional dan rasa sakit yang bersumber dari cara orang tua mengasuh anak. Luka ini tidak hanya berupa kekerasan fisik saja, lho, Moms. Akan tetapi juga bisa muncul dari pengabaian emosional, kata-kata menyakitkan, pola asuh yang terlalu kaku, hingga stres serta trauma orang tua sendiri yang tidak pernah terselesaikan. Pola pengasuhan yang tidak sehat ini dapat meninggalkan dampak psikologis pada anak yang tidak berhenti di masa kanak-kanak, melainkan terbawa hingga dewasa dan memengaruhi kesehatan mental serta hubungan sosialnya di kemudian hari.
Bentuk Luka Pengasuhan yang Sering Tak Disadari
Lalu, seperti apa sebenarnya bentuk luka pengasuhan itu dalam kehidupan sehari-hari?
Salah satu bentuk luka pengasuhan dapat terlihat dari pola komunikasi yang tidak sehat, seperti membentak, membandingkan anak dengan orang lain, atau meremehkan perasaan mereka. Kurangnya empati dan ketidakmampuan orang tua dalam mendampingi anak mengelola emosi juga dapat memperdalam luka tersebut. Selain itu, pengabaian kebutuhan emosional, misalnya tidak memberikan rasa aman, cinta, atau kenyamanan, sehingga anak tumbuh dengan perasaan kesepian meski tinggal serumah dengan orang tuanya. Padahal, sering kali anak hanya membutuhkan pelukan hangat atau kehadiran emosional untuk merasa aman bersama orang tuanya. Pola asuh yang terlalu mengontrol, tanpa memberi ruang bagi anak untuk berekspresi atau menyampaikan pendapat, juga kerap menjadi sumber luka ini yang berdampak jangka panjang.
Situasi-situasi seperti ini mungkin tampak “biasa” di mata sebagian orang tua, tetapi bagi anak dapat menjadi bagian dari rangkaian luka pengasuhan yang terbawa sampai ia besar.
Mengapa Luka Pengasuhan Sering Berulang?
Ternyata, Penelitian Child Traumatic Stress Network (NCTSN) menunjukkan bahwa luka pengasuhan akibat pola asuh di masa kecil tidak otomatis hilang ketika seseorang tumbuh dewasa. Luka tersebut dapat terbawa hingga kemudian hari dan meningkatkan risiko kecemasan, depresi, serta kesulitan dalam membangun hubungan yang sehat dan aman secara emosional. Tanpa disadari, seseorang yang menyimpan luka pengasuhan bisa mengulang pola yang sama dalam hubungan dengan pasangan maupun dalam mengasuh anak. Misalnya, ketika merasa terancam atau stres, ia mungkin akan membentak seperti orang tuanya dulu, atau justru menarik diri dan menjadi dingin karena itu satu-satunya cara bertahan yang pernah ia pelajari.
Referensi
Zero to Six Collaborative Group. (2010). Early childhood trauma. National Child Traumatic Stress Network. https://www.nctsn.org/sites/default/files/resources/early_childhood_trauma.pdf
https://ihf.or.id/luka-pengasuhan-bayangan-masa-lalu-yang-membentuk-masa-kini/
https://www.albata.id/parenting/psikologi-anak-islam/cara-mengatasi-luka-pengasuhan-pada-anak/
