Berani Bicara Berani Memulai Bersama Malam Koneksi 2026

Mahasiswa FISIP UNS
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Hanifa Fika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Berbicara di depan banyak orang mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi sebagian orang, hal tersebut masih menjadi tantangan tersendiri. Rasa gugup, takut salah, atau kurang percaya diri sering kali membuat seseorang ragu untuk mulai berbicara. Hal tersebut menjadi salah satu hal yang dibahas dalam seminar public speaking yang merupakan bagian dari rangkaian Malam Koneksi 2026, kegiatan yang ditujukan bagi mahasiswa baru Ilmu Komunikasi FISIP UNS 2026.

Seminar tersebut menghadirkan Muhammad Iqbal atau Iqbal Javastyle sebagai pembicara. Iqbal Javastyle sendiri memiliki latar belakang di bidang Ilmu Komunikasi serta pengalaman sebagai MC dan pambiwara. Selain itu, ia juga aktif sebagai dosen yang mengampu mata kuliah Public Speaking dan Protokoler-MC. Hal tersebut membuat materi yang disampaikan terasa sesuai dengan topik yang dibawakan.
Dalam seminar yang mengangkat tema “Menjelma Suara yang Berani Bicara”, peserta diajak memahami bahwa public speaking bukan hanya tentang berbicara dengan lancar, tetapi juga tentang bagaimana seseorang dapat menyampaikan pesan dengan baik kepada audiens. Salah satu hal yang dibahas adalah kepercayaan diri. Perasaan tidak percaya diri dapat muncul karena berbagai alasan, seperti merasa tidak berbakat, merasa dirinya introvert, kurang persiapan, atau bahkan merasa kurang percaya diri dengan penampilan.
Salah satu bagian yang menurut saya cukup menarik adalah pembahasan mengenai rasa grogi. Ketika harus berbicara di depan banyak orang, rasa gugup merupakan hal yang wajar. Dalam materi dijelaskan bahwa grogi dapat ditandai dengan jantung berdebar, tangan berkeringat atau terasa dingin, napas terasa pendek, hingga sulit berkonsentrasi dan merasa takut terhadap penilaian orang lain. Namun, rasa grogi tersebut bukan berarti harus dihilangkan sepenuhnya. Grogi dapat diantisipasi dan dikelola menjadi energi ketika berbicara.
Selain kepercayaan diri, peserta juga diberikan pemahaman mengenai beberapa unsur yang perlu diperhatikan ketika melakukan public speaking. Cara menyampaikan pesan tidak hanya bergantung pada kata-kata, tetapi juga melibatkan bahasa tubuh dan suara. Gesture, ekspresi, kontak mata, penampilan, intonasi, volume, kecepatan berbicara, serta artikulasi menjadi bagian yang dapat memengaruhi bagaimana pesan diterima oleh audiens.
Menurut saya, seminar ini menjadi lebih menarik karena peserta tidak hanya mendengarkan materi. Terdapat sesi praktik public speaking yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk mencoba berbicara secara langsung mengenai acara yang sedang berlangsung. Dengan adanya praktik tersebut, peserta bisa mendapatkan gambaran mengenai bagaimana cara berbicara di depan orang lain dan mencoba menerapkan materi yang sudah disampaikan sebelumnya.
Selain praktik, terdapat juga sesi tanya jawab. Sesi ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk menyampaikan pertanyaan dan membahas hal-hal yang masih ingin diketahui mengenai public speaking. Dengan adanya interaksi tersebut, seminar terasa lebih hidup dan tidak hanya berjalan satu arah.
Hal lain yang cukup bermanfaat adalah pengenalan teknik PREP (Point, Reason, Example, Point) untuk membantu menyampaikan gagasan secara lebih terstruktur. Teknik ini mengajarkan peserta untuk menyampaikan poin atau pendapat, memberikan alasan, memberikan contoh, kemudian kembali menegaskan poin yang ingin disampaikan. Bagi mahasiswa baru, teknik seperti ini dapat menjadi bekal sederhana ketika nantinya harus menyampaikan pendapat, melakukan presentasi, maupun berbicara dalam kegiatan lainnya.
Menurut saya, seminar public speaking dalam rangkaian Malam Koneksi 2026 ini cukup bermanfaat karena mahasiswa baru tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga bekal dan gambaran secara langsung mengenai public speaking. Adanya sesi praktik membuat peserta bisa langsung mencoba apa yang sudah dipelajari, sementara sesi tanya jawab memberikan ruang untuk membahas hal-hal yang masih belum dipahami.
Dari kegiatan ini, saya juga belajar bahwa menjadi percaya diri ketika berbicara bukan berarti tidak merasa gugup sama sekali. Rasa gugup merupakan hal yang wajar, tetapi kita dapat mengelolanya dengan persiapan yang matang, penguasaan materi, mengenali audiens, dan tentunya terus berlatih. Seperti yang ditekankan dalam materi, kemampuan public speaking membutuhkan penguasaan materi, latihan, serta kemampuan untuk mengenali audiens.
Secara keseluruhan, seminar ini menjadi salah satu rangkaian Malam Koneksi 2026 yang memberikan pengalaman sekaligus bekal bagi mahasiswa baru Ilmu Komunikasi. Bukan hanya tentang bagaimana berbicara di depan banyak orang, tetapi juga tentang keberanian untuk mulai mencoba, mengelola rasa gugup, dan terus melatih kemampuan diri. Karena untuk bisa menjadi seseorang yang berani bicara, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah berani untuk mulai berbicara.
