Konten dari Pengguna

Mahasiswa Semester 7: Kenapa Masa Depan Makin Bikin Cemas?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hanifah Aulia A tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Awal masuk kuliah rasanya senang banget.

Setelah lulus SMK, aku sebenarnya sempat bingung mau melanjutkan kuliah atau langsung kerja. Kalau mengikuti keinginan sendiri, sebenarnya aku lebih ingin langsung kerja. Tapi mencari pekerjaan di zaman sekarang ternyata nggak semudah yang dibayangkan. Akhirnya, aku memilih untuk melanjutkan kuliah dan menjadi mahasiswa terlebih dahulu.

Aku juga sempat mencoba SNBT dua kali untuk masuk ke jurusan yang memang aku inginkan. Sayangnya, dua-duanya gagal.

Akhirnya, aku masuk ke jurusan yang sebelumnya sama sekali nggak ada dalam rencanaku.

Awal-awal kuliah, aku sempat berpikir, “Ah, jangan-jangan aku salah jurusan.”

Perasaan itu ternyata nggak cuma muncul sekali. Semakin semester bertambah, aku justru semakin merasa kalau jurusan yang aku jalani memang bukan jurusan yang dulu aku inginkan.

Sempat terpikir untuk pindah jurusan. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, rasanya sayang kalau harus mengulang semuanya dari awal. Aku sudah melewati beberapa semester. Kalau pindah, berarti harus mengeluarkan biaya lagi dan memulai semuanya dari awal.

Aku juga nggak tega kalau orang tua harus mengeluarkan biaya tambahan untuk kuliahku.

Akhirnya, aku memilih untuk tetap melanjutkan.

Foto bersama pada saat PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru.

Semakin Tinggi Semester, Semakin Banyak yang Dipikirkan

Kalau dulu yang dipikirkan cuma bagaimana caranya melewati satu semester, semakin tinggi semester, semakin banyak hal yang mulai terpikirkan.

Salah satunya soal magang.

“Nanti magang di mana, ya?”

Bukan cuma soal mencari tempat magang, tapi juga bagaimana caranya supaya bisa mendapatkan pengalaman dan kenalan yang mungkin berguna setelah lulus.

Aku dan teman-teman mulai mencari informasi magang lewat media sosial. Dari situ aku mulai sadar bahwa kehidupan mahasiswa ternyata bukan cuma soal datang ke kelas, mengerjakan tugas, lalu mendapatkan nilai.

Semakin tinggi semester, semakin banyak hal yang terasa harus dipersiapkan.

Belum selesai memikirkan magang, muncul lagi pertanyaan berikutnya.

“Kalau skripsi nanti mau meneliti apa?”

Pertanyaan yang kelihatannya sederhana, tapi ternyata cukup bikin pusing.

Sebenarnya banyak sekali masalah yang bisa dijadikan bahan penelitian. Tapi ketika harus menentukan satu topik untuk benar-benar diteliti, semuanya malah terasa membingungkan.

Belum lagi berbagai persyaratan yang harus dipenuhi untuk bisa lulus. Ada poin KAK, Sertifikat PKKMB, Sertifikat Nasional, Sertifikat TOEFL, Sertifikat Ujikom, Sempro, PKM, dan berbagai ketentuan lainnya.

Satu per satu mungkin terlihat biasa saja.

Tapi kalau semuanya dipikirkan sekaligus, rasanya kepala sudah penuh duluan.

Sekarang Aku Sudah Jadi Mahasiswa Semester 7

Rasanya baru kemarin aku masih menjadi mahasiswa baru yang bingung dengan jurusan sendiri. Sekarang aku sudah mulai menyusun penelitian, mengerjakan Bab 1 sampai Bab 3, dan bersiap menghadapi seminar proposal.

Di tahap ini, pikiranku rasanya mulai melayang ke mana-mana.

“Bisa nggak, ya, aku lulus tepat waktu?”

“Bisa nggak, ya, nanti sidang berjalan lancar tanpa kendala?”

“Setelah lulus, bisa langsung dapat pekerjaan nggak?”

Pertanyaan-pertanyaan itu mulai muncul satu per satu.

Kadang belum selesai memikirkan penelitian, pikiran sudah melompat ke sidang. Belum selesai memikirkan sidang, sudah memikirkan pekerjaan. Bahkan sebelum lulus pun sudah memikirkan bagaimana kehidupan setelah lulus.

Mungkin memang seperti itu rasanya menjadi mahasiswa semester 7.

Dulu yang dipikirkan cuma tugas minggu ini.

Sekarang yang dipikirkan sudah kehidupan beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun ke depan.

Aku juga mulai memikirkan orang tua. Selama ini mereka sudah membiayai dan mendukung kuliahku sampai semester 7. Aku ingin kuliah ini nggak berhenti cuma di gelar. Setelah lulus nanti, aku ingin punya pekerjaan dan penghasilan sendiri supaya bisa membantu orang tua yang selama ini sudah membiayai dan mendukungku.

Tapi justru dari keinginan itu kadang muncul tekanan untuk diri sendiri.

Aku ingin lulus tepat waktu.

Aku ingin sidang berjalan lancar.

Aku ingin setelah lulus langsung mendapatkan pekerjaan.

Aku ingin bisa membantu orang tua.

Semakin banyak keinginan yang muncul, semakin banyak juga hal yang dikhawatirkan.

Ternyata Bukan Aku Saja yang Merasa Begini

Awalnya aku mengira rasa cemas seperti ini mungkin hanya aku yang merasakan.

Ternyata nggak juga.

Penelitian Firyal Nurul Jannah dan Wening Cahyawulan pada 2023 terhadap 402 mahasiswa tingkat akhir menemukan adanya kecemasan karier pada mahasiswa. Penelitian tersebut menunjukkan skor rata-rata kecemasan karier sebesar 68,4 dari 100. Salah satu aspek yang cukup menonjol adalah kemampuan diri.

Ketika membaca penelitian itu, aku jadi merasa sedikit lega.

Ternyata pertanyaan seperti “nanti aku kerja di mana?”, “aku punya kemampuan yang cukup nggak?”, atau “aku bisa bersaing setelah lulus nggak?” bukan cuma pertanyaan yang muncul di kepalaku.

Penelitian lain oleh Nadratul Hazla dan rekan-rekannya pada 2024 juga membahas kecemasan karier pada siswa dan mahasiswa. Penelitian tersebut melibatkan 108 partisipan dan membahas berbagai faktor yang berkaitan dengan kecemasan karier.

Mungkin semakin dekat dengan kelulusan, kita memang semakin sadar kalau setelah kuliah ada dunia yang harus dihadapi.

Dan dunia itu nggak selalu bisa kita prediksi.

Mungkin Aku Memang Belum Harus Punya Semua Jawaban

Kalau dipikir-pikir lagi, perjalanan kuliahku memang nggak berjalan sesuai rencana.

Aku pernah gagal masuk jurusan yang aku inginkan.

Aku pernah merasa salah jurusan.

Aku pernah berpikir untuk pindah.

Tapi sekarang aku sudah menjadi mahasiswa semester 7.

Aku memang belum tahu setelah lulus nanti akan bekerja di mana. Belum tahu juga apakah aku bisa langsung mendapatkan pekerjaan seperti yang aku harapkan.

Bahkan aku belum tahu apakah semua rencana yang ada di kepala akan berjalan sesuai keinginan.

Tapi mungkin memang nggak apa-apa.

Untuk sekarang, aku hanya perlu menyelesaikan apa yang ada di depan mata.

Menyelesaikan penelitian.

Menghadapi seminar proposal.

Menyelesaikan skripsi.

Menghadapi sidang.

Setelah itu, baru memikirkan langkah berikutnya.

Karena mungkin menjadi mahasiswa semester akhir bukan berarti kita sudah harus tahu seluruh jalan hidup setelah wisuda.

Kadang kita hanya perlu terus berjalan, meskipun belum tahu persis akan sampai di mana.

Dan mungkin, rasa cemas itu bukan selalu tanda kalau kita nggak siap.

Bisa jadi, itu hanya tanda kalau kita mulai benar-benar peduli dengan masa depan.

Foto pada saat praktek sidang perkara pidana.