Joki Tugas Menjamur, Salah Mahasiswa atau Sistemnya?

Sociology Education Student, Jakarta State University
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Hanifah Syifa Almusyarofah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketik "joki tugas" di marketplace atau media sosial, dan puluhan penawaran langsung muncul: makalah, kuis daring, hingga skripsi, lengkap dengan tarif per halaman. Fenomena ini sering dijawab dengan satu kalimat: mahasiswa sekarang malas. Sosiologi pendidikan mengajak kita melihat lebih jauh, yaitu pada sistem yang membuat praktik ini terasa masuk akal.
Randall Collins menyebut masyarakat modern sebagai masyarakat kredensial: ijazah menjadi tiket masuk pasar kerja, bukan sekadar bukti ilmu. Ketika lowongan mensyaratkan gelar dan IPK, yang dikejar adalah selembar bukti, sehingga tugas kuliah berubah menjadi rintangan administratif. Joki lahir dari permintaan yang diciptakan sistem itu sendiri.
Philip Jackson memperkenalkan hidden curriculum, yaitu nilai yang diajarkan lewat kebiasaan, bukan materi resmi. Tenggat yang menumpuk dan penilaian yang hanya melihat hasil akhir diam-diam mengajarkan bahwa yang penting adalah mengumpulkan, bukan memahami. Pesan seperti ini terserap tanpa pernah tertulis di silabus.
Pierre Bourdieu menambahkan sisi ketimpangan. Keberhasilan akademik dipengaruhi modal ekonomi dan modal kultural, seperti kemampuan menulis akademik dan akses pada bimbingan. Mahasiswa yang mampu membayar bisa membeli jasa joki, sedangkan yang tidak harus bergulat sendiri di sela kerja paruh waktu. Nilai pun tidak lagi sepenuhnya mencerminkan kemampuan.
Émile Durkheim memandang pendidikan sebagai sarana menanamkan norma bersama. Jika kecurangan dianggap lumrah, fungsi itu melemah. Lulusan yang terbiasa mengambil jalan pintas membawa kebiasaan tersebut ke dunia kerja, dan kepercayaan publik pada ijazah ikut terkikis.
Karena itu, sanksi saja tidak cukup. Kampus perlu penilaian yang menghargai proses, seperti tugas proyek, jurnal refleksi, dan presentasi lisan, serta pendampingan menulis bagi mahasiswa yang kesulitan. Dunia kerja pun perlu menilai kompetensi, bukan hanya gelar. Selama ijazah lebih dihargai daripada proses belajar, jasa joki akan terus menemukan pelanggannya.
