Menggambar Seseorang: Cerpen tentang Nama, Cita-cita, dan Bayang-Bayang Sosial

Mahasiswi UIN Jakarta Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Harisa Manda Zakira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagaimana jika pendidikan justru menjadi halangan dalam meraih cita-cita dan impian? Pertanyaan ini menjadi inti dari cerpen Menggambar Seseorang karya Beatrix Polen Aran, seorang guru SMP Negeri 3 Tanjung Bunga, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Judul cerpen yang sekilas terdengar romantis ternyata menyimpan kisah getir tentang seorang anak yang berjuang menuntut ilmu di tengah keterbatasan ekonomi keluarga.Anton, tokoh utama, hanya bisa menggambarkan cita-citanya dengan pena pemberian temannya. Cerpen ini menyingkap realitas sosial: ketidakmerataan pendidikan, perjuangan keluarga miskin, serta moralitas kekerabatan antar murid. Kompleksitas cerita ini dapat dipahami melalui analisis unsur intrinsik: tema, tokoh dan penokohan, alur, latar, serta amanat.
Tema
Tema utama cerpen ini adalah ketidakmerataan akses pendidikan akibat kondisi ekonomi. Anton digambarkan sebagai anak yang ingin belajar dengan baik, tetapi terhambat oleh keterbatasan peralatan sekolah. Hal ini ditegaskan melalui kutipan: "Ayah dan Ibu harus berjanji membelikan Anton perlengkapan sekolah, ya. Eh, maksud Anton, cukup buku dan pena saja. Anton masih memiliki tas yang layak pakai. Begitu pula dengan seragam sekolah titipan Martinus, kakak kelas yang telah tamat belajar".
Tema ini mencerminkan realitas bahwa masih banyak anak di Indonesia yang belum merasakan kenyamanan belajar dengan fasilitas memadai
2. Tokoh dan Penokohan
Tokoh protagonis: Anton, anak SMP yang penuh semangat belajar meski hidup dalam keterbatasan.
Tokoh pendukung: Ayah dan ibu, digambarkan sebagai petani dan penjual sayur yang rela berkorban demi pendidikan anaknya.
Tokoh antagonis: Pemerintah, yang digambarkan secara implisit sebagai pihak yang gagal menghadirkan pemerataan pendidikan.
Tokoh tambahan: Mirna, teman sekelas Anton, yang menunjukkan empati dengan memberikan pena dari tas mewahnya. Kutipan: “Husss, cukup sudah! Mirna merapatkan jari telunjuk ke arah bibirnya lalu mengeluarkan pena dari tas mewah miliknya. ‘Ini untukmu.’”
3. Alur
Cerpen ini menggunakan alur maju dengan sisipan peristiwa yang memperkuat konflik. Awalnya digambarkan Anton di sekolah, lalu berlanjut pada pengalaman dipanggil guru karena dianggap mencuri, yang ternyata hanya untuk mengisi formulir bantuan sosial. "Pak Thomas memanggil Anton ke ruang guru. Anton megap-megap, dikira akan dijatuhi hukuman karena mencuri uang teman sekelasnya saat istirahat berlangsung. Nyatanya tidak. Ia diminta mengisi formulir penerima uang dengan alasan keluarga tidak mampu".
Alur ini menegaskan bahwa pendidikan bagi anak miskin bukanlah jalan yang mudah, melainkan penuh rintangan.
4. Latar
Latar tempat: ruang kelas, rumah sederhana, sawah, hingga pohon beringin yang sarat makna mistis.
Latar waktu: pagi hari saat Anton bersekolah, sore ketika ia membantu orang tua, dan malam ketika ibunya melihat Anton menggambar di bawah cahaya bulan.Tokoh “Budi” yang muncul dalam buku pelajaran menjadi simbol kesederhanaan. Ayah Anton berkata: “Budi itu sosok apa adanya. Tidak seperti gambar-gambar dalam buku pelajaran sekarang, jauh lebih mewah dan menarik minat anak-anak.”
5. Amanat
Pendidikan seharusnya tidak sekadar mengulang “Ini Budi”, tetapi membuka ruang bagi anak-anak untuk menggambar masa depan mereka sendiri. Cerpen ini menyampaikan bahwa pendidikan adalah perjuangan utama keluarga, meski harus berhutang atau menahan lapar. Anton tetap bercita-cita menjadi dokter, meski keluarganya miskin. Pesan moral yang dapat dipetik: jangan takut bermimpi besar, meski kondisi tidak mendukung.
Daftar Pustaka
Polen Aran, B. (2026, Mei 16). Menggambar seseorang. Media cetak dan daring.
Nurgiyantoro, B. (1995). Teori pengkajian fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
