Belajar Menjelang Ujian, Efektif atau Justru Membuat Materi Cepat Terlupakan?
Tulisan dari Mohamad Hasan Al Buqori tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menjelang ujian, mahasiswa sering kali baru mulai mempelajari materi yang sudah diberikan selama berbulan-bulan. Catatan kuliah dibuka kembali, rangkuman dibuat dalam waktu singkat, dan waktu istirahat terkadang dikorbankan demi mengejar materi yang belum dipahami. Kebiasaan ini cukup umum terjadi, terutama ketika beberapa ujian berlangsung dalam waktu yang berdekatan.
Belajar menjelang ujian memang dapat membantu mahasiswa mengingat kembali materi dalam waktu singkat. Namun, muncul pertanyaan yang perlu dipertimbangkan, apakah cara tersebut benar-benar membantu memahami pelajaran atau hanya membuat mahasiswa mengingat informasi untuk sementara waktu?
Menghafal Materi Tidak Selalu Berarti Memahaminya
Salah satu tantangan dalam belajar menjelang ujian adalah banyaknya materi yang harus dipelajari dalam waktu terbatas. Akibatnya, mahasiswa cenderung mencari cara tercepat untuk mengingat definisi, rumus, atau poin-poin penting tanpa memahami hubungan antarkonsep.
Cara ini mungkin membantu ketika soal ujian hanya menuntut ingatan terhadap informasi tertentu. Namun, ketika soal meminta mahasiswa menganalisis kasus, menjelaskan hubungan sebab akibat, atau menerapkan konsep pada situasi berbeda, hafalan saja sering kali tidak cukup.
Sebagai contoh, mahasiswa yang mempelajari ekonomi mungkin mampu menghafal pengertian inflasi. Akan tetapi, untuk menjawab soal analisis, ia juga perlu memahami penyebab inflasi, dampaknya terhadap daya beli masyarakat, dan kemungkinan kebijakan yang dapat digunakan untuk mengatasinya.
Hal tersebut menunjukkan bahwa belajar bukan hanya tentang mengingat informasi, tetapi juga memahami cara menggunakan informasi tersebut. Oleh karena itu, mahasiswa perlu memberikan perhatian pada pemahaman konsep, bukan sekadar banyaknya materi yang berhasil dihafalkan.
Mengapa Belajar dalam Waktu Singkat Terasa Berat?
Belajar dengan sistem kebut semalam membuat mahasiswa harus memproses banyak informasi dalam waktu yang terbatas. Ketika materi terlalu banyak, perhatian dapat terbagi dan mahasiswa kesulitan menentukan bagian yang benar-benar perlu dipahami terlebih dahulu.
Selain itu, kurangnya waktu untuk mengulang materi membuat kesempatan memperkuat ingatan menjadi terbatas. Informasi yang baru saja dibaca mungkin masih terasa familiar, tetapi belum tentu dapat diingat kembali ketika dibutuhkan.
Kondisi ini juga dapat membuat mahasiswa keliru menilai tingkat pemahamannya. Membaca catatan berulang kali sering terasa mudah karena jawabannya sudah terlihat di depan mata. Padahal, mencoba menjelaskan kembali materi tanpa melihat catatan merupakan cara yang lebih menantang untuk memeriksa apakah konsep tersebut benar-benar dipahami.
Dengan demikian, rasa familier terhadap materi tidak selalu menjadi tanda bahwa seseorang sudah menguasainya.
Belajar Bertahap Membantu Memperkuat Ingatan
Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah spaced practice, yaitu mempelajari materi dalam beberapa sesi yang dipisahkan oleh jeda waktu. Alih-alih mempelajari seluruh materi dalam satu malam, mahasiswa dapat membaginya menjadi bagian-bagian kecil dan mengulangnya secara berkala.
Misalnya, materi yang dipelajari hari ini dapat ditinjau kembali keesokan harinya, kemudian diulang beberapa hari berikutnya. Pola ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengingat kembali informasi dan mengenali bagian yang masih belum dipahami.
Selain belajar bertahap, mahasiswa juga dapat menggunakan latihan mengingat kembali atau retrieval practice. Caranya sederhana, yaitu menutup catatan, mencoba menjawab pertanyaan berdasarkan pemahaman sendiri, lalu memeriksa kembali jawaban tersebut.
Latihan soal juga dapat membantu mahasiswa mengetahui apakah ia sudah mampu menerapkan konsep yang dipelajari. Ketika jawaban masih keliru, kesalahan tersebut dapat menjadi petunjuk untuk menentukan materi yang perlu dipelajari kembali.
Kedua pendekatan ini tidak berarti mahasiswa harus menghindari belajar intensif menjelang ujian. Namun, menggabungkan persiapan bertahap dengan latihan soal dapat memberikan kesempatan belajar yang lebih terstruktur.
Mengatur Waktu Belajar agar Lebih Terarah
Efektivitas belajar juga dipengaruhi oleh cara mahasiswa mengatur waktu. Ketika menghadapi beberapa mata kuliah sekaligus, mahasiswa perlu menentukan prioritas berdasarkan tingkat kesulitan materi, jadwal ujian, dan bagian yang belum dikuasai.
Membagi waktu belajar menjadi beberapa sesi dengan target yang jelas dapat membantu proses belajar terasa lebih terarah. Sebagai contoh, satu sesi dapat digunakan untuk memahami konsep dasar, sesi berikutnya untuk mengerjakan latihan soal, dan sesi lainnya untuk mengevaluasi kesalahan.
Mahasiswa juga perlu menyediakan waktu istirahat yang cukup. Memaksakan diri belajar tanpa jeda, terutama hingga mengurangi waktu tidur secara berlebihan, dapat mengganggu konsentrasi dan membuat proses belajar terasa semakin berat.
Pada akhirnya, pengelolaan waktu bukan berarti mengisi seluruh waktu luang dengan belajar. Hal yang lebih penting adalah menggunakan waktu yang tersedia untuk kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan belajar.
Ujian Bukan Hanya tentang Seberapa Banyak Materi yang Diingat
Belajar menjelang ujian tidak selalu menjadi masalah. Dalam situasi tertentu, mengulang materi sebelum ujian tetap berguna untuk menyegarkan ingatan. Namun, menjadikan sistem kebut semalam sebagai kebiasaan utama dapat membatasi kesempatan mahasiswa untuk memahami materi secara mendalam.
Mahasiswa perlu menyadari bahwa setiap mata kuliah memiliki tuntutan yang berbeda. Ada materi yang membutuhkan hafalan, sementara materi lainnya menuntut pemahaman konsep, kemampuan berhitung, atau analisis terhadap suatu permasalahan.
Karena itu, strategi belajar sebaiknya disesuaikan dengan karakteristik materi dan kebutuhan masing-masing mahasiswa. Mengulang pelajaran secara berkala, menguji pemahaman melalui latihan, serta mengevaluasi kesalahan dapat menjadi langkah sederhana untuk meningkatkan kualitas belajar.
Pada akhirnya, keberhasilan belajar tidak hanya ditentukan oleh berapa lama seseorang duduk di depan buku, tetapi juga oleh bagaimana ia menggunakan waktu tersebut. Ujian memang menjadi salah satu bentuk evaluasi akademik, tetapi pemahaman yang diperoleh selama proses belajar jauh lebih bermanfaat ketika dapat digunakan kembali di luar ruang ujian.

