Konten dari Pengguna

Kreatif tapi Sunyi: Ketika Kepercayaan Mengalahkan Follower Kampung Batik Okra

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Helen Laury 'Aqilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Koleksi Galeri Kampung Batik Okra. Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis, 2026.
zoom-in-whitePerbesar
Koleksi Galeri Kampung Batik Okra. Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis, 2026.

Kampung Wisata Batik Okra, salah satu kampung tematik yang menjadi destinasi wisata edukasi di Kota Surabaya. Lokasi tepatnya berada di Jalan Kranggan VII, Kelurahan Bubutan, dan dikenal karena menawarkan pengalaman yang langka. Pengunjung dapat belajar membatik tulis dengan motif khas yang terinspirasi dari tanaman Okra. Status resminya sebagai kampung wisata disematkan pada akhir tahun 2022 oleh Wali Kota Eri Cahyadi. Sejak itu, kampung ini telah menerima kunjungan tamu dari Eropa, Afrika, Timur Tengah, hingga kawasan ASEAN.

Namun, di balik ketenaran kampung ini menjangkau pasar internasional dari kunjungan wisatawan mancanegara, terdapat kejanggalan yang dirasa cukup mengejutkan. Akun Instagram resmi Kampung Batik Okra, @batik_okra_surabaya baru memiliki pengikut sekitar 900-an pengguna, meski terpantau telah mengunggah lebih dari 200 jenis konten. Konten kreatif yang turut dibagikan berupa komik ilustrasi, video dokumentasi, hingga kolaborasi konten. Hal ini memunculkan pertanyaan besar. Bagaimana mungkin sebuah kampung wisata bisa viral hingga dikenal lintas benua, sementara selama empat tahun terakhir ini jumlah pengikut media sosialnya justru tidak pernah benar-benar ramai? Yuk, simak penelusuran berikut untuk mengetahui jawabannya!

Bagaimana Batik Okra Bisa Dikenal Hingga Mancanegara?

Jawabannya justru bukan terletak pada strategi pemasaran digital, melainkan pada jejaring mahasiswa. Ketua RW 1 Kelurahan Bubutan sekaligus pendiri Kampung Batik Okra, Ridi Sulaksono atau yang akrab disapa dengan Pak Sony, menjelaskan bahwa Batik Okra sama sekali tidak memiliki mitra kerja maupun mitra bisnis.

“Cuma rekan kerja kita itu anak-anak mahasiswa,” ujarnya. Kalimat pendek yang menyingkap bagaimana sebuah nama besar ternyata dibangun bukan dari anggaran promosi, melainkan dari ketulusan yang mengalir dari satu kunjungan ke kunjungan berikutnya.

Mahasiswa dari berbagai kampus di Kota Surabaya, mulai dari Universitas Airlangga, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, hingga Universitas Surabaya, seringkali datang untuk melakukan riset atau sekadar tugas kuliah. Mereka memotret dan mengabadikan proses membatik, lalu mengunggahnya ke akun media sosial pribadi masing-masing. Berbekal dari satu unggahan dan jaringan pertemanan mereka mampu menarik minat berkunjung. Secara tidak langsung jumlah kunjungan Kampung Batik Okra terus bertambah bagai riak yang menyebar tenang di permukaan air, tanpa gemuruh, tapi terus meluas pasti.

Contoh nyata lain ditunjukkan dari adanya konten kolaborasi komik ilustrasi karya mahasiswa ITS (@okra.strip) dan konten unggahan akun @kiasokra yang mengangkat filosofi batik Airlangga. Konten-konten yang dibagikan menggambarkan pola kerja sama sederhana yang saling menguntungkan tanpa melibatkan uang sepeser pun. Kunjungan wisatawan untuk sekadar berfoto dan mengabadikan momen tidak dipungut biaya, sementara belajar membatik akan dikenai biaya sebesar Rp55.000,- per orang.

“Mahasiswa mendapatkan hasil tugas dari sekolahan, saya mendapatkan hasil promosi secara gratis dari mereka,” ujar Pak Sony, menegaskan adanya hubungan yang murni dalam pertukaran manfaat, bukan terfokus pada transaksi komersial.

Proses Membatik Bersama Sejumlah Siswi Magang di Kampung Batik Okra. Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis, 2026.

Mengapa Follower Bukan Prioritas Utama Kampung Batik Okra?

Pak Sony mengaku sering kali ditawari jasa pemasaran digital berbayar untuk mendongkrak jumlah pengikut akun Instagram, tapi ia langsung menolaknya tanpa ragu.

“Saya nggak mau beli follower. Saya bukan orang bisnis,” tegasnya. Sederhana, tapi menyimpan keteguhan sikap yang bahkan sudah jarang ditemukan di tengah budaya digital.

Prinsip yang ditegaskan oleh purnawirawan TNI AU berusia 60 tahun tersebut kemudian dirangkum dalam satu kalimat, yakni: “Rezeki akan mengikuti dengan kinerja kita. Kalau kinerja kita bagus, rezeki akan ikut. Kalau rezeki dulu yang dicari, kinerjanya nol.” Kalimat tersebut bagai pegangan hidup bagi Pak Sony.

Follower maupun popularitas adalah rezeki yang akan datang dengan sendirinya, bukan menjadi tujuan yang harus dikejar terlebih dahulu.

“Jangan sampai generasi muda itu meninggalkan budaya batik tulis. Itu merupakan kegagalan bagi saya, bukan kesuksesan. Uang saya banyak, saya nggak sukses kalau generasi muda tidak bisa melestarikan budayanya.” tuturnya.

Keprihatinan inilah yang membuat Pak Sony lebih memilih mempertahankan jejaring kepercayaan mahasiswa, alih-alih mengejar jumlah follower yang menurutnya tidak menjamin keberlangsungan budaya itu sendiri.

Faktor Keberhasilan Model Promosi Kampung Batik Okra

Beberapa faktor yang mendukung Kampung Batik Okra menggunakan pendekatan tanpa strategi digital marketing formal, di antaranya:

  1. Keterbukaan akses dan tanpa pungutan biaya, sehingga mahasiswa dan wisatawan lainnya merasa nyaman apabila melakukan kunjungan berulang kali.

  2. Konten autentik dari sudut pandang pengunjung. Foto maupun video yang diunggah oleh mahasiswa terasa jauh lebih personal dan jujur, bukan terlihat seperti iklan yang terkesan dipoles.

  3. Konsistensi nilai yang dipegang oleh pihak pengelola. Fokus Pak Sony dalam pelestarian budaya, sehingga tidak merasa tergoda mengubah arah menjadi bisnis semata demi menjaga konsistensi cerita yang disampaikan kepada pengunjung Kampung Batik Okra.

  4. Efek promosi berantai alami membuat pertumbuhan kunjungan bertambah meski tanpa anggaran promosi.

Turis mancanegara pun mengaku mengetahui Batik Okra dari pencarian Google hingga TikTok. Sumber awalnya tetap berasal dari konten yang diunggah oleh mahasiswa, bukan dari konten resmi berbayar. Kejanggalan awal yang dirasa ketika melihat kampung wisata ini kreatif, tapi masih sepi dalam hal pengikut akhirnya mulai terjawab jelas. Kepercayaan yang dibangun oleh mahasiswa dari mulut ke mulut ternyata jauh lebih lebih kuat dan berpotensi daripada sekadar angka di layar ponsel yang terlihat.

Empat tahun perjalanan Kampung Batik Okra mampu membuktikan satu hal yang jarang diakui di tengah obsesi terhadap angka digital. Sebuah nama bisa dikenal luas tanpa harus riuh di lini masa. Follower yang belum menembus angka ribuan ternyata bukan menjadi indikator sebuah kegagalan, melainkan cermin dari pilihan secara sadar oleh Pak Sony untuk tidak mengejar angka. Warga Kranggan turut menunjukkan bahwa kepercayaan yang ditanam pelan-pelan melalui tangan mahasiswa bisa berjalan lebih jauh dibanding melalui kampanye promosi yang mahal.

Setiap mahasiswa yang datang membawa kamera bukan sekadar mengambil gambar, tapi ikut menitipkan sebagian cerita dari kampung edukasi ini ke ribuan mata yang mungkin tak pernah menjejakkan kaki di Kranggan sekalipun. Sementara itu, warga Kranggan sendiri tetap teguh. Teguh dalam menjaga proses membatik secara tradisional, tanpa tergoda mempercepat suatu proses demi mengejar volume produksi. Cara ini tentu memiliki celah. Seluruh promosi bersandar pada kunjungan dari mahasiswa, sehingga cerita dari Kampung Batik Okra dapat berpotensi ikut melambat apabila kampus memasuki masa libur dan kunjungan riset berhenti sejenak. Dukungan tambahan dari kampus atau pihak lain yang peduli pada pelestarian budaya sebenarnya terbuka lebar untuk melengkapi celah ini. Pastinya tanpa harus mengubah prinsip yang selama ini dipegang teguh oleh Pak Sony.

Bagi Pak Sony, kesuksesan tidak berhenti pada seberapa ramai akun Instagramnya, melainkan seberapa panjang usia batik tulis di tangan generasi berikutnya. Hal ini turut diperkuat selama masih ada yang mau datang, belajar mengenali proses membatik yang panjang, dan membawa pulang cerita untuk selalu menghargai setiap lembar kain yang dikerjakan melalui tangan-tangan emas. Batik Okra akan terus hidup. Hidup dengan atau tanpa follower yang menggunung.

Ridi Sulaksono (60) (kiri) Bersama Penulis (kanan) dan Hasil Kerajinan Batik. Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis, 2026.

Kreativitas memang tidak selalu ramai, tapi kepercayaan yang tulus akan selalu menemukan cara untuk tetap dikenang.

Helen Laury 'Aqilah, mahasiswa Destinasi Pariwisata Universitas Airlangga.