Penilaian Obligasi: Kenapa Harganya Naik Turun dan Cara Menghitungnya
Tulisan dari Helma Swasdita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Banyak orang mengira obligasi itu investasi yang "tinggal diam dan terima bunga". Kenyataannya, harga obligasi di pasar sekunder bisa naik dan turun mengikuti kondisi ekonomi. Karena itu, sebelum membeli obligasi, penting memahami cara menilainya.
Apa Itu Obligasi?
Obligasi adalah surat utang jangka menengah hingga panjang. Penerbitnya, baik pemerintah maupun perusahaan, berjanji membayar bunga (kupon) secara berkala dan melunasi pokok utang saat jatuh tempo. Karena arus kasnya terukur, obligasi masuk kategori instrumen pendapatan tetap (fixed income) dan sering dipakai untuk mendiversifikasi portofolio. Risikonya relatif lebih mudah diprediksi dibanding saham.
Bagi penerbit, obligasi juga menguntungkan karena bunga yang dibayarkan umumnya bisa mengurangi penghasilan kena pajak, berbeda dengan dividen saham.
Ada tiga elemen utama obligasi:
1. Kupon (coupon rate): bunga berkala yang diterima pemegang obligasi, bisa tetap atau mengambang.
2. Nilai nominal (face/par value): pokok utang yang akan dilunasi, sekaligus dasar penghitungan besar kupon.
3. Jatuh tempo (maturity): waktu hingga pokok utang harus dilunasi, umumnya di atas 5 tahun hingga 30 tahun.
Jenis-Jenis Obligasi
Berdasarkan penerbit :
• Obligasi pemerintah: Surat Berharga Negara (SBN), sukuk negara (SBSN), Obligasi Negara Ritel (ORI), dan Savings Bond Ritel (SBR). Karena dijamin undang-undang, risiko gagal bayarnya dianggap mendekati nol.
• Obligasi korporasi: diterbitkan perusahaan swasta atau BUMN untuk ekspansi, akuisisi, atau refinancing. Pemegang obligasi diawasi oleh wali amanat (trustee).
Berdasarkan pembayaran kupon :
• Zero coupon bond: tidak ada kupon, dijual jauh di bawah nilai nominal. Keuntungan berasal dari selisih harga beli dan nilai pelunasan.
• Floating rate bond: kupon menyesuaikan suku bunga acuan atau inflasi.
Berdasarkan jaminan dan hak khusus :
• Secured bond: dijamin aset tertentu.
• Unsecured bond (debenture): hanya dijamin kredibilitas penerbit.
• Convertible bond: bisa ditukar menjadi saham biasa perusahaan penerbit.
Cara Menghitung Nilai Wajar Obligasi
Nilai wajar obligasi adalah nilai sekarang (present value) dari seluruh arus kas yang akan diterima, yaitu kupon berkala ditambah pokok saat jatuh tempo, yang didiskontokan dengan suku bunga pasar yang disyaratkan.
Obligasi berkupon:
Nilai = Σ [K / (1+i)^t] + [Nilai Nominal / (1+i)^n]
Zero coupon bond:
Nilai = Nilai Nominal / (1+i)^n
Keterangan:
K : kupon per periode (tingkat kupon × nilai nominal),
i : suku bunga pasar yang disyaratkan,
n : jumlah periode hingga jatuh tempo.
Contoh sederhana: Obligasi bernilai nominal Rp1.000.000 dengan kupon 8% per tahun (Rp80.000 per tahun) dan tenor 5 tahun. Jika suku bunga pasar 10%:
• Nilai sekarang kupon ≈ Rp303.263
• Nilai sekarang pokok ≈ Rp620.921
• Nilai wajar ≈ Rp924.184
Harganya di bawah nominal (diskon) karena kuponnya lebih kecil daripada bunga pasar. Dengan harga itu, current yield-nya adalah Rp80.000 ÷ Rp924.184 ≈ 8,66%, lebih tinggi dari kupon 8% karena investor membeli dengan harga murah.
Premium, Par, atau Diskon?
Harga obligasi bergerak berlawanan arah dengan suku bunga pasar:
• Premium: kupon lebih tinggi dari bunga pasar, sehingga harga di atas nominal.
• Diskon: kupon lebih rendah dari bunga pasar, sehingga harga di bawah nominal.
• Par: kupon sama dengan bunga pasar, sehingga harga sama dengan nominal.
Fenomena ini terlihat nyata dalam lima tahun terakhir. Saat pandemi COVID-19 (2020–2021), bank sentral memangkas suku bunga acuan, yield turun, dan harga obligasi naik ke posisi premium. Sebaliknya, pada 2022 hingga kini, inflasi global dan kebijakan suku bunga tinggi membuat harga obligasi tertekan ke posisi diskon.
Apa yang Memengaruhi Yield Obligasi?
Beberapa penelitian dalam lima tahun terakhir menunjukkan pola yang konsisten:
• BI Rate dan peringkat obligasi berpengaruh dominan terhadap yield to maturity (YTM). Peringkat tinggi berarti risiko gagal bayar rendah, sehingga imbal hasil yang dituntut investor lebih kecil.
• Inflasi dan volatilitas suku bunga mendorong YTM naik dan harga wajar turun.
• Karakteristik perusahaan seperti rasio utang terhadap ekuitas, tingkat kupon, dan jatuh tempo memengaruhi sensitivitas harga obligasi korporasi. Obligasi bertenor panjang lebih rentan terhadap gejolak suku bunga.
Mengukur Sensitivitas dan Risiko
Ada dua alat utama untuk mengukur seberapa sensitif harga obligasi terhadap suku bunga:
• Durasi: rata-rata tertimbang waktu penerimaan arus kas. Durasi Macaulay menunjukkan perkiraan waktu pengembalian modal, sedangkan durasi modifikasi menunjukkan perubahan harga akibat pergerakan suku bunga. Semakin panjang durasi, semakin sensitif harganya.
• Konveksitas: koreksi tambahan karena hubungan harga dan yield tidak linier sempurna, terutama saat suku bunga bergejolak ekstrem.
Investor juga perlu mewaspadai empat risiko utama: risiko suku bunga, risiko kredit/gagal bayar (diukur lewat peringkat dari Pefindo, Fitch, Moody's, atau S&P), risiko inflasi, dan risiko likuiditas.
Bentuk Kurva Imbal Hasil
Hubungan antara yield dan jatuh tempo digambarkan dalam yield curve. Ada tiga teori yang menjelaskannya:
Teori ekspektasi murni: bentuk kurva ditentukan ekspektasi pasar terhadap suku bunga jangka pendek di masa depan.
Teori preferensi likuiditas: investor meminta premi tambahan untuk obligasi jangka panjang, sehingga kurva cenderung miring ke atas.
Teori segmentasi pasar: pasar terbagi per tenor, dan tiap segmen punya penawaran dan permintaan sendiri.
Kesimpulan dan Tips untuk Investor
Obligasi memang menawarkan kepastian arus kas, tetapi harganya tetap dipengaruhi suku bunga, inflasi, dan risiko kredit. Beberapa hal yang sebaiknya dilakukan sebelum membeli di pasar sekunder:
• Jangan hanya melihat besarnya kupon. Hitung juga nilai wajar dan YTM.
• Perhatikan durasi dan jatuh tempo, karena tenor panjang berarti risiko harga lebih besar.
• Cek peringkat obligasi untuk mengantisipasi risiko gagal bayar.
Dengan memahami cara menilainya, obligasi bisa menjadi bagian portofolio yang lebih terukur, bukan sekadar "investasi aman" tanpa dipahami.
Penulis: Kelompok 6 (Helma, Lilis, Ardie, Bastian, Elanda) Program Studi Akuntansi, Universitas Pamulang, 2026

