Konten dari Pengguna

Mengajarkan Rupiah, Bukan Sekadar Menghafal Pecahannya

Ilustrasi anak belajar menentukan pilihan saat berbelanja. Pendidikan rupiah tidak berhenti pada kemampuan mengenali pecahan uang. (Ilustrasi: AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak belajar menentukan pilihan saat berbelanja. Pendidikan rupiah tidak berhenti pada kemampuan mengenali pecahan uang. (Ilustrasi: AI)

Seorang anak bisa hafal pecahan uang seratus ribu rupiah, tetapi belum tentu memahami mengapa uang jajannya selalu habis sebelum akhir pekan.

Ia tahu lembaran merah bernilai lebih besar daripada lembaran biru. Ia mungkin juga mengenali wajah pahlawan yang tercetak di atasnya. Namun, ketika harus memilih antara membeli jajanan atau menyimpan uang untuk keperluan lain, pengetahuan tentang pecahan uang belum tentu banyak membantu.

Anak-anak mengenal uang jauh sebelum memahami cara menggunakannya. Mereka menerima uang saku, membayar jajanan di kantin, dan melihat orang tuanya berbelanja. Uang hadir dalam keseharian mereka, tetapi tidak semua pelajaran tentang uang diperoleh dengan sendirinya.

Di situlah pendidikan rupiah menghadapi tantangan yang lebih besar daripada sekadar mengajarkan ciri uang asli.

Dari Olimpiade ke Ruang Kelas

Pada 25–26 Agustus 2025, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah bersama Dinas Pendidikan Kota Semarang menggelar Olimpiade Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah bagi siswa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.

Sebanyak 150 siswa dari 50 SD serta 222 siswa dari 111 SMP ambil bagian. Mereka menguji pengetahuan tentang rupiah, mulai dari ciri keaslian hingga pemahaman mengenai penggunaannya.

Sekilas, kegiatan itu tidak jauh berbeda dari lomba pengetahuan lainnya. Ada peserta, pertanyaan, nilai, dan pemenang.

Namun, yang lebih menarik justru terjadi di luar ruang lomba.

Olimpiade tersebut berkaitan dengan kerja sama Bank Indonesia dan pemerintah daerah untuk memasukkan edukasi rupiah serta sistem pembayaran ke dalam pembelajaran sekolah. Pada 2024, kegiatan serupa telah diselenggarakan untuk siswa SMP di Kota Semarang. Pengembangan materi kemudian berlanjut dengan melibatkan guru dan dinas pendidikan.

Langkah ini patut diapresiasi karena menyentuh persoalan yang kerap luput dalam kegiatan edukasi publik: apa yang terjadi setelah acara selesai?

Satu kali sosialisasi dapat memperkenalkan pengetahuan baru. Akan tetapi, pemahaman membutuhkan kesempatan untuk mengulang, bertanya, dan menghubungkannya dengan pengalaman sehari-hari.

Ruang kelas menyediakan kesempatan tersebut. Guru dapat membahas kembali materi, mengaitkannya dengan pelajaran lain, dan melihat bagian mana yang belum dipahami siswa.

Olimpiade pun dapat berfungsi sebagai salah satu cara memperoleh umpan balik mengenai materi yang telah diajarkan. Meski demikian, hasil lomba tentu tidak dapat mewakili seluruh kemampuan siswa dalam menggunakan uang.

Uang Bukan Sekadar Benda

Program Cinta, Bangga, Paham Rupiah membawa tiga pesan yang berbeda.

Mencintai rupiah berarti mengenali, merawat, dan menjaganya. Bangga terhadap rupiah berkaitan dengan kedudukannya sebagai simbol kedaulatan, alat pembayaran yang sah, dan pemersatu bangsa. Sementara itu, memahami rupiah menyangkut kebiasaan bertransaksi, berbelanja, dan berhemat.

Bagi anak-anak, pesan tersebut perlu diterjemahkan ke dalam pengalaman yang mudah mereka kenali.

Menjaga uang agar tidak rusak dapat dipraktikkan secara langsung. Mengenali ciri keaslian uang dapat dilakukan melalui pengamatan. Tetapi memahami alasan seseorang perlu berhemat menuntut lebih dari sekadar mengingat jawaban.

Bayangkan seorang siswa diberi uang sepuluh ribu rupiah. Di hadapannya tersedia dua barang yang sama-sama diinginkan, tetapi jumlah uangnya tidak cukup untuk membeli keduanya.

Ia harus memilih.

Permainan sederhana itu memperkenalkan sesuatu yang kelak terus ditemuinya: uang memiliki batas, sedangkan keinginan tidak selalu demikian.

Membeli satu barang berarti menunda kesempatan membeli barang lain. Anak belajar bahwa keputusan menggunakan uang mempunyai konsekuensi.

Tentu, bukan berarti anak-anak harus dibebani cara berpikir orang dewasa. Mereka tetap perlu bermain, mencoba, dan sesekali salah memilih.

Justru melalui pengalaman kecil itulah pemahaman dapat tumbuh.

Ketika Uang Tidak Lagi Terlihat

Tantangan pendidikan rupiah semakin menarik ketika cara masyarakat bertransaksi berubah.

Di warung dan pusat perbelanjaan, anak-anak kini dapat menyaksikan orang tua membayar melalui ponsel. Kode QR dipindai, nominal dimasukkan, notifikasi muncul, lalu barang diserahkan.

Tidak ada uang kertas yang berpindah tangan. Tidak ada kembalian yang dihitung.

Bagi orang dewasa, pembayaran digital menawarkan kepraktisan. Namun, bagi anak-anak yang baru mengenal konsep uang, proses tersebut menghadirkan pertanyaan baru.

Jika tidak ada uang yang diserahkan, apakah kita tetap mengeluarkan uang?

Pengenalan sistem pembayaran digital dapat menjadi kesempatan menjelaskan bahwa bentuk transaksi boleh berubah, tetapi nilai uang yang digunakan tetap sama.

QRIS mempermudah pembayaran, bukan membuat barang menjadi gratis. Setelah transaksi berhasil, saldo atau dana yang digunakan tetap berkurang.

Anak-anak tidak harus mempunyai akun pembayaran sendiri untuk memahami hal tersebut. Mereka dapat belajar dari transaksi yang dilakukan orang dewasa, dengan penjelasan yang sesuai usia.

Di sinilah materi tentang rupiah dan sistem pembayaran saling melengkapi. Mengenali uang fisik tetap penting, tetapi memahami nilai uang menjadi semakin mendesak ketika transaksi tidak lagi selalu terlihat sebagai perpindahan lembaran kertas.

Pelajaran yang Dibawa Pulang

Kerja sama BI Jawa Tengah dengan dunia pendidikan menunjukkan bahwa edukasi rupiah dapat bergerak melampaui kegiatan seremonial.

Namun, sekolah bukan satu-satunya tempat anak belajar menggunakan uang.

Seorang guru mungkin menjelaskan perbedaan kebutuhan dan keinginan. Di rumah, anak menyaksikan bagaimana keluarganya menentukan barang yang perlu dibeli dan pengeluaran yang harus ditunda.

Keduanya dapat saling menguatkan.

Orang tua bisa mengajak anak membandingkan harga barang. Guru dapat menggunakan permainan jual beli untuk memperkenalkan pilihan dan keterbatasan uang. Sementara itu, materi dari Bank Indonesia membantu menjelaskan fungsi rupiah serta cara pembayaran yang terus berkembang.

Tetapi ada satu hal yang tidak boleh dilupakan.

Tidak semua anak memiliki uang saku yang cukup untuk ditabung. Ada keluarga yang harus menghitung pengeluaran sampai pecahan terkecil. Karena itu, pendidikan berhemat tidak semestinya membuat anak merasa bersalah ketika tidak memiliki uang untuk disisihkan.

Berhemat bukan semata-mata soal menyimpan uang. Ia juga berkaitan dengan memahami kebutuhan, menentukan prioritas, dan menggunakan sumber daya yang tersedia secara bijaksana.

Pembelajaran semacam itu dapat dilakukan tanpa meminta anak membawa uang sungguhan atau membandingkan kemampuan ekonomi keluarganya dengan teman sekelas.

Pendekatan yang menghargai keadaan setiap anak justru memberi kesempatan lebih luas bagi mereka untuk memahami uang tanpa merasa dihakimi.

Sesudah Jawaban Benar

Upaya membawa edukasi rupiah ke pembelajaran sekolah merupakan langkah yang layak dihargai. Bank Indonesia Jawa Tengah tidak hanya memperkenalkan mata uang melalui kegiatan publik, tetapi juga bekerja bersama dunia pendidikan agar pengetahuan tersebut dapat dipelajari secara lebih teratur.

Penelitian terhadap siswa salah satu SMP di Semarang bahkan telah menemukan hubungan positif antara literasi keuangan, program CBP Rupiah, dan perilaku keuangan siswa. Temuan tersebut menarik, meskipun belum dapat dijadikan bukti bahwa satu kegiatan atau program tertentu sendirian menyebabkan perubahan perilaku.

Pendidikan memang tidak sesederhana perlombaan.

Dalam olimpiade, jawaban benar dapat dihitung. Nilai peserta dapat dibandingkan. Pemenang dapat ditentukan.

Namun, kehidupan sehari-hari tidak selalu menghadirkan soal dengan pilihan jawaban yang sudah disediakan.

Ada keinginan yang harus ditunda. Ada barang yang menggoda untuk dibeli. Ada keputusan kecil yang mesti diambil tanpa petunjuk guru.

Mungkin di situlah pelajaran tentang rupiah menghadapi ujian yang sebenarnya.

Kelak, ketika seorang anak berdiri di depan rak jajanan, menggenggam uang sakunya, lalu memandangi dua barang yang sama-sama ingin dibeli, apakah ia akan mengingat jawaban yang pernah dipelajarinya di sekolah, atau baru mulai memahami arti uang ketika harus memilih salah satunya?

Penulis adalah pegawai Bank Indonesia. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.