Ketika Teknologi Berlari, Kepercayaan Menjadi Penjaga
Tulisan dari Hendy Pebrian Azano Ramadhan Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
“Kendaraan yang semakin cepat membutuhkan sistem pengaman yang semakin baik. Sebab kemajuan bukan hanya tentang seberapa jauh kita dapat melaju, tetapi juga bagaimana memastikan perjalanan tetap aman.”

Dunia sedang memasuki masa ketika mesin tidak lagi sekadar menjalankan perintah. Dengan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI), teknologi mulai mampu mempelajari pola, mengolah informasi dalam jumlah besar, mengenali risiko, bahkan membantu manusia mengambil keputusan.
Perubahan ini membuka banyak kemungkinan. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu panjang dapat diselesaikan lebih cepat. Layanan keuangan dapat menjadi lebih personal, transaksi semakin efisien, dan berbagai keputusan dapat didukung oleh analisis data yang semakin canggih.
Namun, setiap kemajuan selalu membawa konsekuensi. Ketika teknologi semakin cerdas, risiko yang menyertainya juga semakin kompleks. Kesalahan sistem, penyalahgunaan data, serangan siber, hingga ketergantungan pada penyedia teknologi tertentu dapat menimbulkan dampak yang melampaui satu lembaga atau bahkan satu negara.
Bagi bank sentral, perkembangan ini menghadirkan pekerjaan baru. Bukan untuk menghentikan laju teknologi, melainkan memastikan agar kecepatannya tidak mengorbankan stabilitas dan kepercayaan.
Ketika Risiko Tidak Lagi Mengenal Batas
Bayangkan sebuah jaringan jalan yang menghubungkan banyak negara. Kendaraan dari satu wilayah dapat bergerak menuju wilayah lain dengan semakin mudah. Perjalanan menjadi lebih cepat, perdagangan semakin lancar, dan aktivitas ekonomi semakin terhubung.
Namun, ketika terjadi gangguan di satu titik, dampaknya bisa menjalar ke banyak tempat. Karena itu, setiap wilayah tidak cukup hanya membangun jalannya sendiri. Diperlukan standar keselamatan, aturan yang saling dipahami, dan koordinasi agar seluruh jaringan tetap berfungsi. Kondisi yang hampir serupa terjadi dalam ekosistem keuangan di era AI.
Sistem keuangan semakin terhubung melalui teknologi, data, dan infrastruktur digital. Perubahan yang terjadi pada satu platform dapat memengaruhi banyak pengguna, sementara ketergantungan pada penyedia teknologi tertentu berpotensi menciptakan risiko sistemik.
Artinya, tantangan yang dihadapi bank sentral tidak lagi sepenuhnya berada dalam batas yurisdiksi masing-masing. Risiko dapat bergerak melintasi negara, sementara dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat dan pelaku ekonomi di berbagai wilayah.
Kesadaran inilah yang mengemuka dalam Konferensi Tingkat Tinggi South East Asian Central Banks (SEACEN) di Bali pada 5 Oktober 2026. Dalam forum bertema “Central Banking in the Age of Artificial Intelligence: Payments, Regulation, and Financial Stability for a Connected Asia”, para bank sentral dan mitra internasional membahas bagaimana kawasan Asia dapat menghadapi perkembangan AI secara lebih terkoordinasi.
Dalam pembukaan konferensi, Deputi Gubernur Bank Indonesia Ricky P. Gozali menegaskan bahwa tantangan AI perlu dihadapi melalui pendekatan bersama. Pengetahuan dan pengalaman antarnegara menjadi semakin berharga ketika transformasi teknologi berlangsung begitu cepat.
Pesan tersebut penting. Sebab dalam dunia yang semakin terkoneksi, ketahanan satu negara turut dipengaruhi oleh kesiapan negara lain.
Tiga Pegangan di Tengah Perubahan
Menghadapi perkembangan AI, bank sentral setidaknya membutuhkan tiga pegangan utama.
Pertama, tata kelola AI yang terpercaya, transparan, dan akuntabel. Teknologi dapat membantu menghasilkan keputusan yang lebih cepat, tetapi setiap keputusan tetap harus dapat dipertanggungjawabkan. Masyarakat perlu mengetahui bahwa sistem yang digunakan memiliki pengawasan, perlindungan data, dan pengelolaan risiko yang memadai.
Kedua, pemanfaatan AI untuk membangun ekosistem pembayaran yang lebih efisien, aman, inklusif, dan berdaya tahan. Teknologi memiliki peluang untuk mempercepat transaksi, meningkatkan kemampuan mendeteksi aktivitas mencurigakan, serta memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan. Namun, kemudahan tersebut harus berjalan bersama perlindungan konsumen dan keamanan sistem.
Ketiga, memperkuat kolaborasi regional. Dialog kebijakan, pengembangan kapasitas, dan riset bersama menjadi penting agar negara-negara di kawasan tidak berjalan dengan pemahaman yang terpisah-pisah dalam menghadapi tantangan yang sama.
Ketiga hal tersebut saling berkaitan. Tata kelola yang baik membangun kepercayaan, teknologi yang dimanfaatkan secara tepat meningkatkan kualitas layanan, sedangkan kolaborasi membuat kemampuan menghadapi risiko menjadi lebih kuat.
Dengan kata lain, kecanggihan teknologi perlu diimbangi dengan kematangan institusi.
Pembayaran yang Semakin Terhubung
Salah satu bidang yang paling terasa mengalami perubahan adalah sistem pembayaran. Dalam kawasan dengan aktivitas perdagangan dan investasi yang semakin berkembang, pembayaran lintas negara menjadi kebutuhan penting. Masyarakat dan pelaku usaha membutuhkan transaksi yang lebih cepat, mudah, aman, dan efisien.
Namun, menghubungkan sistem pembayaran antarnegara tidak cukup hanya dengan menyambungkan jaringan teknologi. Diperlukan standar yang kompatibel, pengaturan yang jelas, serta mekanisme pengelolaan likuiditas dan risiko penyelesaian transaksi yang dapat dipercaya.
Direktur Eksekutif The SEACEN Centre, Cynyoung Park, menyoroti pentingnya interoperabilitas sistem pembayaran lintas negara untuk mendukung integrasi ekonomi kawasan. Keterhubungan antarsistem perlu ditopang oleh fondasi yang kuat agar perluasan konektivitas benar-benar memberikan manfaat bagi perdagangan dan investasi regional.
Di sinilah kolaborasi menjadi sangat penting. Setiap negara memiliki sistem, kebijakan, dan karakteristik pasar yang berbeda. Tanpa kesepahaman dan koordinasi, keterhubungan justru dapat menghadirkan celah risiko baru.
Karena itu, membangun sistem pembayaran masa depan bukan hanya tentang menciptakan teknologi yang saling terhubung, tetapi juga memastikan bahwa setiap hubungan tersebut memiliki standar keamanan dan kepercayaan yang sama-sama dijaga.
Ada satu hal yang tidak boleh dilupakan dalam pembicaraan mengenai AI: teknologi yang semakin canggih tidak otomatis membuat seluruh keputusan menjadi benar.
Sebuah sistem dapat mengolah data dalam jumlah sangat besar, tetapi tetap memiliki keterbatasan. Hasil analisis dapat dipengaruhi oleh kualitas data, rancangan algoritma, maupun asumsi yang digunakan. Ketergantungan berlebihan pada satu penyedia platform juga dapat menciptakan kerentanan baru.
Kepala Ekonom United Nations Development Programme (UNDP) untuk Asia dan Pasifik, Philip Schellekens, menekankan pentingnya kepercayaan sebagai fondasi peran bank sentral di tengah perkembangan AI. Bank sentral perlu memahami perubahan yang ditimbulkan teknologi sekaligus mengantisipasi risiko sistemik yang mungkin muncul.
Pesan ini mengingatkan bahwa teknologi seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti tanggung jawab institusi. Keputusan yang menyangkut stabilitas ekonomi dan keuangan tetap membutuhkan tata kelola, pengawasan, serta pertimbangan manusia yang memadai.
Pada titik ini, kepercayaan menjadi sesuatu yang tidak dapat dibangun hanya melalui kecanggihan perangkat lunak. Ia lahir dari konsistensi kebijakan, transparansi, akuntabilitas, dan kemampuan institusi melindungi kepentingan masyarakat.
Bergerak Bersama, Bertumbuh Bersama
Konferensi SEACEN di Bali juga memperlihatkan bahwa kerja sama regional tidak berhenti pada pertukaran gagasan. Penguatan kelembagaan dan tata kelola organisasi menjadi bagian penting agar kolaborasi dapat terus memberikan manfaat bagi negara-negara anggota.
Hal tersebut dibahas dalam pertemuan ke-25 SEACEN Executive Committee (EXCO) pada 6 Oktober 2026 yang dipimpin Ricky P. Gozali. Pertemuan tersebut menyoroti penguatan tata kelola, efektivitas organisasi, dan akuntabilitas SEACEN sebagai pusat pembelajaran serta kolaborasi bank sentral di kawasan.
Upaya ini penting karena menghadapi perubahan teknologi bukan pekerjaan yang selesai dalam satu konferensi atau satu kebijakan. Dibutuhkan proses belajar yang berkelanjutan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan kesediaan untuk saling berbagi pengalaman.
Pada akhirnya, AI akan terus berkembang. Teknologi baru akan bermunculan, pola transaksi berubah, dan cara masyarakat berinteraksi dengan layanan keuangan akan semakin berbeda.
Bank sentral tidak harus menjadi pihak yang paling cepat mengadopsi setiap teknologi. Namun, bank sentral harus mampu memahami arah perubahan, mengantisipasi risikonya, dan memastikan inovasi tetap berjalan dalam koridor yang aman.
Sebab teknologi boleh berlari semakin cepat, tetapi kepercayaan tidak boleh tertinggal.
Dan di tengah dunia yang semakin terkoneksi, masa depan sistem keuangan bukan hanya ditentukan oleh seberapa cerdas mesin yang kita ciptakan, melainkan juga seberapa bijak kita bekerja sama untuk menjaganya.

