Konten dari Pengguna

Ketika yang Besar Menggandeng yang Kecil

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendy Pebrian Azano Ramadhan Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ekonomi tidak pernah tumbuh hanya karena satu pihak bekerja sendirian. Di balik sebuah produk yang berhasil menembus pasar, selalu ada mata rantai yang saling terhubung: pemasok, produsen, distributor, pembiayaan, hingga konsumen.

Business Matching, sumber: BI
zoom-in-whitePerbesar
Business Matching, sumber: BI

Ketika sebuah korporasi tumbuh, pertanyaan yang lebih penting bukan hanya seberapa besar ia berkembang, tetapi siapa saja yang ikut tumbuh bersamanya. Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika kita melihat peran UMKM dalam perekonomian Indonesia.

Usaha kecil memiliki potensi untuk berkembang menjadi usaha menengah, dan usaha menengah yang terus bertumbuh dapat menjadi korporasi baru Indonesia. Namun perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Banyak UMKM memiliki produk dan semangat untuk berkembang, tetapi masih membutuhkan akses pasar, teknologi, pembiayaan, standar usaha, serta jaringan yang lebih luas.

Di titik inilah kemitraan antara korporasi dan UMKM menjadi penting. Korporasi memiliki sesuatu yang sangat berharga bagi usaha kecil: akses terhadap rantai pasok dan rantai nilai. Sementara UMKM membawa fleksibilitas, kreativitas, dan kemampuan untuk bergerak dekat dengan kebutuhan pasar. Jika keduanya terhubung dengan baik, hubungan tersebut bukan lagi sekadar hubungan antara pembeli dan pemasok, melainkan sebuah ekosistem yang memungkinkan keduanya tumbuh bersama.

Gerakan Korporasi Gandeng UMKM yang diinisiasi Bank Indonesia mencoba membangun jembatan tersebut. Melalui kemitraan, UMKM dapat memperoleh akses terhadap pasar, jaringan, teknologi, pengalaman, dan standar usaha yang dimiliki korporasi. Bagi korporasi, menggandeng UMKM juga berarti memperkuat rantai pasok sekaligus membuka ruang bagi tumbuhnya mitra usaha baru. Yang kecil memperoleh tangga untuk naik, sementara yang besar mendapatkan ekosistem yang semakin kuat.

Namun menggandeng UMKM tidak cukup hanya dengan memberikan akses pembiayaan. Sebuah usaha tidak otomatis naik kelas hanya karena memperoleh modal. Mereka juga membutuhkan kepastian pasar, peningkatan kapasitas produksi, teknologi, pengetahuan manajemen, serta kesempatan untuk masuk ke rantai nilai yang lebih besar. Karena itu, pembiayaan harus bertemu dengan akses pasar dan kemitraan agar uang yang mengalir benar-benar berubah menjadi kapasitas ekonomi.

Semangat tersebut terlihat dalam Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 melalui fasilitasi business matching. Kegiatan ini menargetkan omzet dan business matching ekspor sebesar Rp446,9 miliar, serta business matching pembiayaan, termasuk pembiayaan hijau, sebesar Rp212,8 miliar. KKI juga dikolaborasikan dengan Program Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI) sebagai platform untuk memperkuat sinergi, komunikasi, dan akselerasi intermediasi ke sektor riil.

Angka tersebut pada akhirnya bukan sekadar nilai transaksi. Di balik setiap kesepakatan dapat terdapat mesin produksi yang bertambah, tenaga kerja yang terserap, bahan baku yang kembali dipesan, produk yang memasuki pasar baru, atau sebuah usaha kecil yang untuk pertama kalinya memperoleh kesempatan menjadi bagian dari rantai pasok yang lebih besar. Intermediasi menjadi berarti ketika pembiayaan tidak berhenti di rekening, tetapi berubah menjadi aktivitas ekonomi.

Ada pula perubahan cara pandang yang perlu terus dibangun. UMKM jangan selamanya ditempatkan sebagai pihak yang hanya menunggu bantuan dari korporasi atau pemerintah. Mereka harus dipandang sebagai calon mitra strategis, pemasok, inovator, bahkan calon korporasi masa depan. Sebaliknya, korporasi juga dapat melihat kemitraan bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan investasi untuk membangun rantai nilai yang lebih kuat, fleksibel, dan berkelanjutan.

Di sinilah semangat “Beudaya Meusare Sare”—Berdaya Bersama-sama menemukan maknanya. Berdaya bersama bukan berarti semua pihak mendapatkan hal yang sama, melainkan setiap pihak mendapatkan kesempatan untuk berkembang sesuai perannya. Korporasi memperoleh mitra yang semakin kuat, UMKM mendapatkan akses untuk naik kelas, lembaga keuangan memperoleh ruang penyaluran pembiayaan produktif, sementara perekonomian mendapatkan sumber pertumbuhan baru.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah korporasi mungkin bukan hanya seberapa besar gedungnya, seberapa luas pasarnya, atau seberapa tinggi omzetnya. Bisa jadi ukurannya juga terlihat dari seberapa banyak usaha di sekelilingnya yang ikut tumbuh karena keberadaannya.

Ekonomi yang sehat bukanlah ekonomi di mana yang besar terus membesar sementara yang kecil tetap berada di tempat. Ekonomi yang kuat adalah ketika yang besar memiliki cukup ruang untuk menggandeng yang kecil, dan yang kecil memiliki cukup kesempatan untuk suatu hari menjadi besar. Dari kemitraan lahir kesempatan. Dari kesempatan lahir pertumbuhan. Dan dari pertumbuhan yang berjalan bersama, lahirlah kekuatan ekonomi Indonesia.