Kreasi Karya, Generasi Berdaya
Tulisan dari Hendy Pebrian Azano Ramadhan Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Setiap generasi meninggalkan sesuatu untuk generasi setelahnya. Ada yang mewariskan pengetahuan, ada yang meninggalkan karya, dan ada pula yang menjaga sebuah tradisi agar tidak hilang ditelan zaman.

Dalam dunia UMKM, warisan tersebut tidak selalu berbentuk benda. Ia bisa berupa keterampilan membuat kain, cara mengolah bahan, teknik membatik, hingga keberanian untuk memulai usaha dari nol. Namun warisan hanya akan tetap hidup jika ada generasi yang bersedia meneruskannya.
Hari ini, generasi muda memiliki posisi yang unik. Gen-Z dan Milenial mencapai 49,27% dari 284,67 juta penduduk Indonesia, sementara di sektor ekonomi kreatif, kedua kelompok generasi tersebut menyumbang sekitar 63% tenaga kerja. Mereka tumbuh bersama teknologi, media sosial, ekonomi digital, dan perubahan perilaku konsumen yang begitu cepat. Modal tersebut memberi mereka kesempatan untuk tidak sekadar menjadi penikmat karya, tetapi menjadi pencipta karya dan pembentuk tren baru.
Namun menjadi generasi penerus tidak berarti harus mengulang apa yang telah dilakukan generasi sebelumnya. Justru, regenerasi membutuhkan keberanian untuk membawa sesuatu yang lama ke dalam cara pandang yang baru. Wastra dan kriya, misalnya, tidak harus berhenti sebagai warisan budaya yang disimpan di lemari. Dengan kreativitas, desain, teknologi, dan strategi pemasaran yang tepat, karya tersebut dapat menemukan konsumen baru tanpa kehilangan identitasnya.
Di sinilah tantangan sebenarnya berada. Bagaimana menjaga akar tanpa takut menumbuhkan cabang baru? Sebab budaya yang tidak berubah sama sekali berisiko semakin jauh dari generasi yang terus berubah. Tetapi budaya yang kehilangan identitas demi mengikuti tren juga berisiko kehilangan makna. Generasi muda memiliki peran penting untuk menemukan titik temu di antara keduanya.
Bank Indonesia mendorong proses tersebut melalui penguatan regenerasi UMKM, antara lain melalui peningkatan kapasitas, korporatisasi kelembagaan, dan perluasan akses pembiayaan. Salah satu wujudnya adalah Citra Nusa, kompetisi Inovasi Wastra Nusantara yang melibatkan 580 UMKM wastra terpilih dari seluruh Indonesia dan sebagian besar merupakan wirausahawan muda. Di sini, regenerasi bukan sekadar mengganti pelaku lama dengan pelaku baru, tetapi memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk membawa warisan ke level berikutnya.
Generasi muda juga memiliki kekuatan yang berbeda: kemampuan menghubungkan karya dengan dunia digital. Sebuah produk yang dahulu hanya dikenal di satu daerah kini dapat diperkenalkan kepada konsumen dari berbagai penjuru Indonesia, bahkan dunia. Melalui lokapasar, media sosial, pembayaran digital, dan berbagai kanal pemasaran, jarak antara pembuat karya dan calon pembeli menjadi semakin pendek. Teknologi memberi panggung yang lebih luas; kreativitaslah yang menentukan apakah karya tersebut layak terus ditonton.
Tetapi karya yang hebat tetap membutuhkan bisnis yang sehat. Karena itu, kemampuan berkreasi harus berjalan beriringan dengan kemampuan mengelola usaha. Pencatatan keuangan, pengelolaan produksi, pemasaran, akses pembiayaan, hingga kemampuan memahami pasar menjadi bagian penting agar kreativitas tidak berhenti sebagai hobi. Sebuah karya dapat menarik perhatian dalam sehari, tetapi bisnis membutuhkan kemampuan untuk menciptakan nilai secara berkelanjutan.
Semangat tersebut juga tercermin dalam area “Rupa Kini” pada KKI 2026. Ruang ini menghadirkan produk UMKM kekinian yang relevan dengan tren anak muda, sekaligus memberikan pengalaman interaktif melalui lokakarya kreatif, photobooth, dan berbagai aktivitas lainnya. Pesannya jelas: produk lokal tidak harus menjadi sesuatu yang terasa jauh dari kehidupan generasi muda. Karya Indonesia bisa tetap berakar pada tradisi sekaligus hadir dengan wajah yang modern.
Pada akhirnya, regenerasi bukan hanya tentang siapa yang menggantikan siapa. Regenerasi adalah tentang apa yang berhasil kita teruskan, apa yang berani kita ubah, dan apa yang mampu kita ciptakan setelahnya. Generasi sebelumnya memiliki pengalaman dan akar yang kuat. Generasi muda memiliki energi, kreativitas, dan keberanian untuk mencoba cara baru. Ketika keduanya bertemu, warisan tidak sekadar bertahan—ia dapat berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar.
Mungkin suatu hari nanti, seorang anak muda yang hari ini sedang belajar membatik, merancang produk, membuat konten, atau menjual karya melalui layar ponselnya akan menjadi pemilik sebuah brand besar Indonesia. Bukan karena ia meninggalkan identitas yang diwariskan kepadanya, tetapi karena ia menemukan cara baru untuk membuat identitas tersebut relevan bagi zamannya.
Sebab masa depan UMKM tidak hanya berada di tangan mereka yang telah lama berkarya. Ia juga berada di tangan mereka yang hari ini baru berani memulai. Dan tugas kita bukan sekadar meminta generasi muda untuk meneruskan apa yang sudah ada. Tetapi memberi mereka ruang untuk menciptakan apa yang belum pernah ada.

