Konten dari Pengguna

Bahasa Persuasif dalam Promosi TikTok

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hesti Dwi Prawesti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Benarkah produk kecantikan bisa membuat kulit “cerah seketika” dan “glowing parah”? Kenali bahasa promosi sebelum tergoda membeli. (Ilustrasi menggunakan AI)
zoom-in-whitePerbesar
Benarkah produk kecantikan bisa membuat kulit “cerah seketika” dan “glowing parah”? Kenali bahasa promosi sebelum tergoda membeli. (Ilustrasi menggunakan AI)

Promosi produk kecantikan di TikTok semakin mudah dijumpai melalui video singkat yang menampilkan skincare, makeup, dan berbagai rekomendasi produk. Ungkapan seperti “cerah seketika”, “bikin muka glowing parah”, dan “buruan beli, tunggu apa lagi” digunakan untuk menarik perhatian penonton. Fenomena ini berkaitan dengan perkembangan konten kecantikan di TikTok yang mempertemukan kreator, merek, dan calon konsumen. Di balik

kalimat yang terdengar sederhana, terdapat strategi bahasa yang dapat membangun harapan dan memengaruhi keputusan membeli.

Dalam promosi produk kecantikan di TikTok, pilihan kata sering digunakan untuk menonjolkan manfaat yang diharapkan konsumen. Ungkapan “lembab seharian” dan “pulihkan kulit semalaman”, misalnya, memberikan gambaran mengenai hasil pemakaian produk. Sementara itu, sapaan “Hai guys! Aku mau bahas skincare” membuat promosi terasa seperti percakapan santai dengan teman. Bahasa yang akrab dapat mendekatkan kreator dengan penonton. Namun, kedekatan tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa setiap klaim produk benar atau hasilnya akan sama pada semua orang.

Maksud tuturan dapat dikenali dengan memperhatikan konteks penggunaannya. Ketika kreator mengatakan “kalian wajib kepoin cushion ini”, ia tidak sekadar menyebutkan produk, tetapi juga mengajak penonton mencari tahu lebih jauh. Berbeda dengan kalimat “coba tulis pertanyaanmu di komentar”, yang bertujuan mengundang interaksi. Keduanya sama-sama melibatkan audiens, tetapi memiliki tujuan berbeda. Dari sini, promosi dapat dipahami bukan hanya sebagai penyampaian informasi, melainkan juga sebagai penggunaan bahasa untuk memengaruhi perhatian dan tindakan calon pembeli.

Janji Manfaat dan Pengalaman Pengguna

Salah satu strategi promosi produk kecantikan di TikTok ialah menggambarkan manfaat produk secara meyakinkan. Kalimat “dijamin glowing nggak putus” dan “tahan hingga 12 jam” memberikan kesan bahwa hasil pemakaian akan bertahan lama. Kata “dijamin” menghadirkan nuansa kepastian, sedangkan ungkapan “hingga 12 jam” menawarkan gambaran waktu yang mudah dipahami. Pilihan kata tersebut dapat membentuk harapan calon pembeli. Namun, hasil penggunaan produk dapat berbeda sesuai kondisi kulit, cara pemakaian, dan kecocokan setiap orang.

Testimoni juga sering digunakan untuk meningkatkan kepercayaan. Ungkapan “setelah dipakein muka jadi flawless” dan “ga lengket juga jadi tetap halus di mukaku” menggambarkan pengalaman seseorang setelah menggunakan produk. Cerita seperti ini terasa dekat karena disampaikan melalui sudut pandang pribadi. Meski begitu, pengalaman satu pengguna tidak dapat mewakili seluruh konsumen. Testimoni sebaiknya dijadikan bahan pertimbangan, bukan jaminan bahwa hasil yang sama pasti diperoleh oleh orang lain.

Dalam kajian pragmatik, maksud tuturan dipahami dengan memperhatikan penutur, sasaran tuturan, dan situasi komunikasi. Kalimat “cerah seketika”, misalnya, menggambarkan hasil yang dijanjikan sekaligus dapat menarik perhatian calon pembeli. Sementara itu, “langsung saja checkout” merupakan ajakan yang lebih langsung untuk melakukan pembelian. Perbedaan ini menunjukkan bahwa promosi produk kecantikan di TikTok memiliki beragam tujuan bahasa, mulai dari membangun harapan hingga mendorong tindakan. Memahami tujuan tersebut membantu penonton membaca pesan secara lebih kritis.

Ajakan Membeli dan Sikap Kritis

Ajakan membeli terkadang diperkuat dengan bahasa yang menimbulkan rasa takut kehilangan kesempatan. Ungkapan “nyesel kalau ngga beli” dan “kamu harus beli sekarang, kalau promonya berakhir kamu dapet harga normal” mendorong penonton mengambil keputusan dengan cepat. Kalimat pertama membayangkan penyesalan jika produk tidak dibeli, sedangkan kalimat kedua menekankan kemungkinan kehilangan harga promosi. Cara penyampaian seperti ini dapat membuat calon pembeli merasa harus segera bertindak, padahal keputusan belanja tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing.

Sikap kritis bukan berarti semua promosi harus dicurigai. Bahasa persuasif merupakan bagian dari pemasaran dan dapat membantu konsumen mengenal produk. Hal yang perlu diperhatikan ialah kejelasan informasi serta kesesuaian klaim dengan keterangan yang dapat diperiksa. Konsumen dapat membaca komposisi, mengikuti petunjuk penggunaan, membandingkan harga, dan mencari informasi dari sumber tepercaya. Informasi tentang keamanan kosmetik juga dapat ditelusuri melalui panduan Cek KLIK untuk kosmetik. Kata “super”, “ampuh”, atau “glowing” saja tidak cukup menjadi dasar untuk menentukan kualitas dan kecocokan produk.

Kreator juga memiliki peran dalam membangun promosi produk kecantikan di TikTok yang bertanggung jawab. Manfaat produk perlu dijelaskan secara wajar, sedangkan pengalaman pribadi sebaiknya tidak disampaikan seolah-olah hasilnya pasti sama bagi semua orang. Penonton pun dapat memanfaatkan kolom komentar untuk bertanya, lalu membandingkan jawabannya dengan informasi lain yang tepercaya. Dengan komunikasi yang lebih jelas, promosi dapat membantu konsumen mengenal produk tanpa mengabaikan kebutuhan mereka untuk mempertimbangkan informasi secara matang.

Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa promosi produk kecantikan di TikTok menggunakan klaim manfaat, testimoni, interaksi, dan ajakan langsung untuk menarik perhatian calon pembeli. Maksud setiap tuturan perlu dipahami berdasarkan konteksnya, sedangkan informasi produk harus diperiksa sebelum keputusan dibuat. Testimoni tidak seharusnya dianggap sebagai jaminan, dan desakan untuk segera membeli tidak harus diikuti. Dengan kebiasaan membaca promosi secara kritis, keputusan belanja dapat dibuat lebih bijak dan harapan terhadap hasil produk dapat dijaga tetap realistis.