Pergeseran Bahasa Gaul Anak Muda: Kemunduran Bahasa Atau Evolusi Budaya?

Saya seorang Mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Pamulang jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari hestianadewilestari28 tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pergeseran bahasa gaul anak muda: kemunduran bahasa atau evolusi budaya? bahasa tidak pernah diam. Ia tumbuh, berubah dan menyesuaikan diri dengan masyarakat yang menggunakannya. Setiap generasi memiliki cara khas berkomunikasi, menciptakan istilah, singkatan, hingga gaya bahasa yang terasa lebih dekat dengan kehidupan mereka. Di era media sosial, perubahan ini berlangsung jauh lebih cepat.
Kini kita dengan mudah mendengar istilah seperti healing, relate, vibes, atau percampuran bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris yang dikenal sebagai "bahasa Jaksel". Fenomena ini muncul bukan hanya pergaulan sehari-hari, meluas pula unggahan media sosial hingga percakapan ruang publik. Hal ini memicu perdebatan, sehingga memunculkan pertanyaan "apakah ini tanda kemunduran bahasa atau justru bukti bahasa yang tetap hidup dan berkembang?".
Bahasa Gaul Bukan Kemunduran, Melainkan Evolusi.
Bagi sebagian kalangan, maraknya bahasa gaul memunculkan kekhawatiran. Pencampuran bahasa dan istilah yang tidak mengikuti kaidah baku dianggap perlahan mengikis kemampuan berbahasa Indonesia yang benar. Apalagi jika digunakan tanpa batas, sehingga seseorang kesulitan membedakan bahasa yang tepat untuk situasi resmi dan santai. Padahal, bahasa Indonesia adalah identitas nasional yang harus dijaga dan penguasaan bahasa baku tetap dibutuhkan dalam pendidikan, pemerintahan, pekerjaan serta berbagai keadaan formal lainnya.
Namun, melihat bahasa gaul semata sebagai kerusakan bahasa kurang tepat. Bahasa pada dasarnya adalah cerminan masyarakat yang dinamis, bukan benda mati yang kaku. Ketika masyarakat berubah, bahasa pun berubah. Kehadiran internet, budaya populer, serta interaksi lintas negara memberi ruang bagi generasi muda untuk menciptakan kosakata baru yang lebih relevan dengan pengalaman mereka, sehingga bahasa tetap terasa hidup dan tidak asing.
Pencampuran bahasa seperti code-mixing bukan tanda ketidakamampuan berbahasa Indonesia. Sebaliknya, hal itu sering menjadi cara utuk mempererat kedekatan antar teman, mengekspresikan diri atau menyampaikan makna yang lebih pas dengan suasana pergaulan. Istilah tertentu menyebar luas karena akrab ditemui dalam musik, film maupun konten di media sosial. Bahasa gaul juga menjadi wadah kreativitas sehingga kata dimodifikasi, disingkat dan disebarkan dengan cepat, menunjukan bagaimana zaman memperkaya cara kita berkomunikasi.
Yang menjadi tantangan bukanlah menghentikan pergaulan bahasa, melainkan menanamkan kesadarannya tentang konteks penggunaannya. Bahasa gaul dan bahasa baku ini keduanya bisa berjalan berdampingan. Seseorang boleh menggunakan gaya santai bersama teman atau saat berkaya di media sosial, namun tetap mampu beralih ke bahasa Indonesia yang baik dan benar saat menulis karya ilmiah, berbicara di forum resmi, atau bekerja. Kemampuan memilih ragam bahasa sesuai situasi justru menandai kecakapan berbahasa yang matang.
Di sisi lain, kita tetap perlu menjaga agar bahasa Indonesia tidak kehilangan tempatnya di tengah arus bahasa asing. Bahasa asing boleh dipelajari dan dipakai, tetapi tidak boleh mebuat bahasa nasional dianggap kurang menarik atau ketinggalan zaman. Tantangannya adalah menjadikan bahasa Indonesia tetap relevan dan hidup, tanpa melupakan jati dirinya sebagai bahasa persatuan dan identitas bangsa.
Sebagai kesimpulan, pergeseran bahasa gaul adalah proses evolusi budaya yang alami dan sulit dihindari, bukan tanda kemunduran. Bahasa yang sehat adalah yang mampu tumbuh dan beradaptasi seiring berjalannya waktu. Yang kita butuhkan adalah generasi yang cerdas serta bebas berkreasi dengan bahasa di ruang santai, sekaligus menghargai dan menguasai bahasa baku saat diperlukan. Menjaga bahasa bukan berarti membekukannya, melainkan memastikannya tetap tumbuh tanpa kehilangan akar budayanya.
