Kenapa Mendaki Gunung Semakin Menarik bagi Anak Muda?

Saat ini saya menjadi mahasiswa Stei Sebi ( Sekolah Tinggi Ekonomi Islam) SEBI.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari hafidz nur azizi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, mendaki gunung menjadi salah satu aktivitas yang menarik perhatian banyak anak muda. Membawa tas besar, berjalan selama berjam-jam, tidur di tenda, bahkan harus menghadapi rasa lelah mungkin terdengar melelahkan. Namun, bagi sebagian orang, semua itu justru menjadi pengalaman yang dicari.
Pendakian gunung tidak lagi hanya dianggap sebagai aktivitas bagi kelompok pencinta alam. Foto perjalanan, pemandangan dari puncak, hingga cerita perjalanan banyak dibagikan melalui media sosial. Hal tersebut membuat kegiatan mendaki semakin dikenal oleh masyarakat, termasuk generasi muda.
Namun, sebenarnya apa yang membuat mereka tertarik mendaki?
Bukan Hanya Tentang Foto di Puncak
Salah satu alasan seseorang mendaki gunung tentu saja karena ingin menikmati pemandangan alam. Pemandangan dari ketinggian, udara yang berbeda dari perkotaan, dan suasana yang jauh dari keramaian menjadi pengalaman yang sulit ditemukan dalam aktivitas sehari-hari.
Tetapi, pengalaman mendaki sebenarnya lebih panjang daripada sekadar berdiri di puncak.
Pendaki harus melewati jalur yang terkadang panjang dan melelahkan. Ada saat ketika kaki terasa berat, napas mulai tidak teratur, atau perjalanan terasa seperti tidak kunjung selesai.
Justru proses tersebut yang membuat pendakian memiliki pengalaman tersendiri.
Ketika akhirnya sampai di tujuan, rasa lelah yang sebelumnya terasa berat dapat berubah menjadi kepuasan karena berhasil menyelesaikan perjalanan.
Menjauh Sejenak dari Rutinitas
Kehidupan anak muda saat ini tidak lepas dari aktivitas digital. Kuliah, pekerjaan, tugas, komunikasi, dan media sosial membuat smartphone hampir selalu berada di tangan.
Mendaki gunung memberikan kesempatan untuk keluar sementara dari rutinitas tersebut.
Berada di alam membuat seseorang memiliki kesempatan untuk menikmati lingkungan sekitar secara langsung. Aktivitas fisik, udara terbuka, dan interaksi dengan teman selama perjalanan dapat menjadi pengalaman yang berbeda dari keseharian.
World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa paparan terhadap lingkungan alam berkaitan dengan berbagai manfaat bagi kesehatan dan kesejahteraan, termasuk membantu mengurangi stres, meningkatkan suasana hati, mendukung aktivitas fisik, dan memperkuat interaksi sosial.
Artinya, ketertarikan terhadap aktivitas di alam bukan sekadar tren. Ada manfaat yang memang dapat dirasakan ketika seseorang menghabiskan waktu di lingkungan alami.
Mendaki Juga Mengajarkan Kesabaran
Pendakian memiliki satu hal yang sulit ditemukan dalam kehidupan yang serba instan: proses.
Tidak ada tombol untuk mempercepat perjalanan menuju puncak. Pendaki harus berjalan sedikit demi sedikit sampai akhirnya mencapai tujuan.
Hal tersebut secara tidak langsung dapat melatih kesabaran dan kemampuan seseorang untuk menghadapi rasa lelah.
Dalam sebuah kelompok, pendakian juga mengajarkan pentingnya kerja sama. Tidak semua orang memiliki kemampuan fisik yang sama. Ada yang berjalan lebih cepat, ada pula yang membutuhkan lebih banyak waktu untuk beristirahat.
Karena itu, perjalanan tidak hanya tentang siapa yang paling cepat sampai, tetapi bagaimana seluruh anggota kelompok dapat menyelesaikan perjalanan dengan aman.
Tren yang Tetap Harus Diikuti dengan Persiapan
Meningkatnya ketertarikan anak muda terhadap pendakian juga perlu diikuti dengan kesadaran mengenai keselamatan.
Naik gunung bukan aktivitas yang dapat dilakukan hanya bermodalkan keinginan dan perlengkapan untuk berfoto.
Pemilihan jalur, kondisi cuaca, kemampuan fisik, perlengkapan, persediaan air dan makanan, hingga informasi mengenai kondisi gunung perlu diperhatikan sebelum berangkat.
Beberapa kasus kecelakaan pendakian dalam beberapa tahun terakhir juga menunjukkan bahwa kurangnya pengalaman dan persiapan dapat menimbulkan risiko serius. Salah satu kasus pada 2025 melibatkan seorang remaja yang baru pertama kali mendaki Gunung Cikuray dan sempat dinyatakan hilang sebelum akhirnya ditemukan oleh tim pencarian.
Karena itu, menjadi pendaki bukan hanya tentang berani naik gunung, tetapi juga memahami batas kemampuan diri.
Jangan Sampai Alam Hanya Menjadi Latar Foto
Ada satu hal lain yang tidak kalah penting ketika aktivitas mendaki semakin populer: menjaga lingkungan.
Gunung bukan sekadar tempat untuk mendapatkan foto yang bagus. Di dalamnya terdapat ekosistem yang harus dijaga.
Masalah sampah menjadi salah satu tantangan dalam aktivitas wisata alam. Pemerintah melalui pengelolaan kawasan konservasi juga terus mendorong pengelolaan pendakian dan ekowisata yang lebih bertanggung jawab. Di Gunung Ciremai, misalnya, pengelolaan sampah di jalur pendakian menjadi salah satu perhatian dalam pengelolaan kawasan wisata.
Karena itu, pendaki seharusnya membawa kembali sampah yang dihasilkan selama perjalanan dan tidak merusak lingkungan.
Prinsip sederhana seperti tidak mengambil sesuatu selain foto dan tidak meninggalkan sesuatu selain jejak dapat menjadi pengingat bagi setiap pendaki.
Jadi, Kenapa Anak Muda Suka Mendaki?
Alasannya tentu berbeda bagi setiap orang.
Ada yang ingin menikmati alam, berolahraga, menghabiskan waktu bersama teman, mencari pengalaman baru, atau sekadar ingin menjauh sebentar dari rutinitas.
Ada pula yang ingin menguji kemampuan dirinya sendiri.
Namun, mungkin ada satu kesamaan dari semua alasan tersebut : mendaki memberikan kesempatan untuk mengalami sesuatu yang berbeda.
Di tengah kehidupan yang serba cepat, berjalan perlahan menuju sebuah tujuan justru bisa menjadi pengalaman yang berharga.
Mendaki gunung akhirnya bukan hanya tentang seberapa tinggi gunung yang berhasil didaki, tetapi juga tentang apa yang seseorang pelajari selama perjalanan.
Puncak memang menjadi tujuan, tetapi perjalanan menuju ke sana adalah bagian yang membuat pengalaman tersebut berkesan.
