Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Kuliah Sambil Freelance Wedding Organizer
Tulisan dari HIDAYAT tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pengalaman mahasiswa Ilmu Komunikasi menerapkan teori komunikasi melalui pekerjaan freelance Wedding Organizer.
Menjadi mahasiswa Ilmu Komunikasi membuat saya memahami bahwa komunikasi tidak hanya dipelajari melalui teori di kelas. Pengalaman menjalani pekerjaan sebagai freelance Wedding Organizer (WO) membuat saya melihat bagaimana teori komunikasi diterapkan secara nyata dalam dunia kerja. Saya belajar menghadapi banyak orang, bekerja dalam tekanan, mengatur waktu, dan memastikan informasi tersampaikan dengan tepat.
Kuliah Jalan, Freelance Juga Jalan
Kuliah sambil bekerja tentu memiliki tantangan tersendiri. Di satu sisi, saya harus mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas, dan memenuhi tanggung jawab akademik. Di sisi lain, ketika menerima pekerjaan sebagai freelance WO, saya juga harus siap mengikuti briefing, memahami rundown, datang tepat waktu, dan menjalankan tugas sampai acara selesai.
Pekerjaan WO sering berlangsung pada akhir pekan. Hal ini cukup membantu karena tidak selalu berbenturan dengan jadwal kuliah. Namun, saya tetap harus mengatur waktu dengan baik. Tugas kuliah sebisa mungkin diselesaikan lebih awal ketika sudah mengetahui ada jadwal wedding.
Dari situ saya mulai belajar bahwa manajemen waktu bukan sekadar membuat jadwal. Saya harus menentukan prioritas dan bertanggung jawab terhadap keputusan yang sudah saya ambil.
Wedding Organizer Mengajarkan Komunikasi Secara Nyata
Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, saya mempelajari komunikasi interpersonal, komunikasi kelompok, public speaking, serta cara menyampaikan pesan secara efektif. Saat bekerja sebagai freelance WO, materi tersebut terasa lebih nyata karena saya menggunakannya langsung di lapangan.
Dalam satu acara, tim WO dapat berkomunikasi dengan pengantin, keluarga, MC, fotografer, videografer, tim dekorasi, katering, dan vendor lainnya. Setiap orang memiliki tugas dan kebutuhan informasi yang berbeda.
Karena itu, informasi harus disampaikan secara jelas dan tepat. Kesalahan kecil dalam komunikasi dapat memengaruhi jalannya acara. Misalnya, perubahan waktu masuk pengantin yang tidak segera diteruskan kepada MC, dokumentasi, dan tim lainnya dapat membuat rundown menjadi tidak sesuai.
Belajar Menghadapi Situasi yang Tidak Sesuai Rundown
Salah satu hal yang saya pahami setelah bekerja di WO adalah bahwa kondisi di lapangan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Rundown memang menjadi pedoman, tetapi situasi dapat berubah dalam waktu singkat.
Pengantin bisa membutuhkan waktu persiapan lebih lama. Tamu penting belum tiba. Vendor mengalami kendala. Susunan acara dapat bergeser. Dalam kondisi seperti ini, tim harus cepat berkoordinasi dan mencari solusi tanpa membuat pengantin maupun keluarga semakin panik.
Saya belajar untuk tidak hanya cepat berbicara, tetapi juga berpikir sebelum menyampaikan informasi. Cara berbicara, intonasi, ekspresi, dan pemilihan kata sangat berpengaruh, terutama ketika situasi sedang tegang.
Bertemu Banyak Karakter Membuat Saya Lebih Adaptif
Setiap wedding memberikan pengalaman yang berbeda. Saya bertemu dengan klien, keluarga, tamu, dan vendor dengan karakter yang beragam. Ada yang sangat santai, ada yang detail, ada pula yang mudah panik ketika terjadi perubahan kecil.
Pengalaman tersebut melatih saya untuk menyesuaikan cara berkomunikasi. Saya tidak bisa menggunakan pendekatan yang sama kepada semua orang. Ada situasi ketika saya harus memberikan instruksi dengan tegas. Ada pula kondisi ketika saya perlu lebih banyak mendengarkan dan memberikan penjelasan secara perlahan.
Bagi saya, kemampuan beradaptasi seperti ini menjadi salah satu keterampilan penting yang tidak sepenuhnya bisa diperoleh hanya dengan membaca teori.
Freelance Bukan Hanya Tentang Uang Tambahan
Alasan mahasiswa mengambil pekerjaan freelance tentu beragam. Penghasilan tambahan menjadi salah satu manfaat yang terasa langsung. Namun, setelah menjalaninya, saya menyadari bahwa pengalaman kerja yang diperoleh memiliki nilai yang tidak kalah penting.
Saya belajar datang tepat waktu, menerima arahan, memahami pembagian tugas, bekerja sama, dan menyelesaikan tanggung jawab sampai selesai. Saya juga belajar bahwa ketika bekerja dalam sebuah tim, kesalahan satu orang dapat berdampak pada pekerjaan anggota lainnya.
Selain itu, pekerjaan ini memperluas relasi. Saya dapat bertemu orang-orang dari berbagai bidang, terutama mereka yang bekerja di industri event, dokumentasi, dekorasi, hiburan, dan usaha kreatif.
Ilmu Komunikasi dan Wedding Organizer Ternyata Saling Berkaitan
Sebelumnya saya mungkin melihat mata kuliah dan pekerjaan freelance sebagai dua hal yang berbeda. Setelah menjalani keduanya, saya justru melihat hubungan yang cukup kuat.
Komunikasi interpersonal membantu ketika berhadapan dengan pengantin dan keluarga. Komunikasi kelompok membantu saat berkoordinasi dengan tim. Public speaking berguna ketika harus memberikan arahan. Sementara kemampuan memahami pesan verbal dan nonverbal membantu saya membaca situasi di lapangan.
Pengalaman bekerja juga membuat beberapa materi kuliah menjadi lebih mudah dipahami. Saya tidak lagi hanya membayangkan contoh kasus, karena saya pernah menghadapi situasi serupa secara langsung.
Belajar Tidak Harus Selalu di Dalam Kelas
Kuliah tetap menjadi prioritas. Namun, bekerja freelance membuat proses belajar terasa lebih luas. Kampus memberikan dasar teori, sedangkan pekerjaan memberikan kesempatan untuk menguji teori tersebut dalam kondisi nyata.
Menjalani keduanya memang membutuhkan tenaga dan pengaturan waktu yang baik. Ada hari ketika saya harus menyelesaikan tugas sebelum bekerja. Ada pula saat ketika tubuh lelah setelah acara, tetapi kewajiban kuliah tetap menunggu.
Meski demikian, pengalaman tersebut mengajarkan saya tentang tanggung jawab, profesionalisme, kerja sama, dan komunikasi yang efektif.
Bagi saya, menjadi mahasiswa Ilmu Komunikasi sambil freelance sebagai Wedding Organizer bukan sekadar menjalani dua kesibukan sekaligus. Keduanya menjadi proses belajar yang saling melengkapi. Di kampus saya belajar memahami komunikasi melalui teori. Di lapangan saya belajar bagaimana komunikasi benar-benar bekerja.

