Konten dari Pengguna

Mengapa Mahasiswa Perlu Belajar Mengelola Acara Sebelum Memasuki Dunia Kerja?

Oleh: Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang

Sumber : Pribadi ( Poster )
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Pribadi ( Poster )

Selama menjalani perkuliahan, saya mulai menyadari bahwa memahami materi di dalam kelas ternyata berbeda dengan menerapkannya secara langsung. Ada banyak hal yang terlihat sederhana ketika dijelaskan oleh dosen, tetapi menjadi cukup menantang saat harus dikerjakan sendiri.

Menurut saya, salah satu persoalan dalam dunia perkuliahan adalah ketika mahasiswa terlalu berfokus pada nilai dan penyelesaian tugas. Padahal, setelah lulus nanti, yang dibutuhkan bukan hanya kemampuan memahami teori, melainkan juga keterampilan menghadapi persoalan, mengambil keputusan, dan bekerja sama dengan orang lain.

Saya tidak mengatakan bahwa teori tidak penting. Justru teori menjadi dasar untuk memahami suatu bidang ilmu. Namun, pengetahuan tersebut akan lebih bermanfaat ketika mahasiswa memiliki kesempatan untuk menggunakannya dalam situasi nyata.

Pandangan ini semakin terasa ketika saya mengikuti mata kuliah MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) pada semester 6 Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang.

Melalui mata kuliah yang dibimbing oleh Afni Yoana Tjahyani Gusma, S.I.Kom., M.I.Kom., mahasiswa mendapat kesempatan untuk merancang sebuah kegiatan seminar online. Saya melihat pengalaman ini sebagai salah satu bentuk pembelajaran yang tidak hanya menguji pemahaman, tetapi juga tanggung jawab mahasiswa.

Belajar Bekerja Sama Ternyata Tidak Sesederhana yang Dibayangkan

Sebelum terlibat dalam persiapan sebuah acara, saya menganggap kerja sama tim sebagai sesuatu yang cukup sederhana. Setiap orang mendapatkan tugas, mengerjakannya, lalu seluruh pekerjaan digabungkan menjadi satu.

Namun, kenyataannya tidak selalu demikian.

Dalam sebuah kelompok, setiap anggota memiliki cara berpikir, kesibukan, dan kemampuan yang berbeda. Ada kalanya sebuah keputusan membutuhkan diskusi panjang. Ada pula pekerjaan yang harus disesuaikan karena berkaitan dengan tanggung jawab anggota lainnya.

Hal tersebut saya temui dalam proses persiapan seminar bersama Concept Eventspace, kelompok yang dibentuk untuk menjalankan praktik mata kuliah MICE.

Dari pengalaman ini, saya memahami bahwa komunikasi yang baik bukan sekadar kemampuan menyampaikan pendapat. Kita juga perlu belajar mendengarkan, menerima masukan, dan menghargai keputusan bersama.

Menurut saya, kemampuan seperti ini justru menjadi salah satu bekal penting sebelum mahasiswa memasuki dunia kerja. Dalam lingkungan profesional, seseorang tidak bisa selalu mengandalkan keinginannya sendiri. Ada kepentingan tim, target pekerjaan, dan tanggung jawab yang harus dijalankan bersama.

Perkuliahan seharusnya memberikan lebih banyak ruang bagi mahasiswa untuk menghadapi situasi semacam ini. Sebab, kemampuan bekerja sama tidak cukup dipelajari melalui definisi atau teori komunikasi kelompok saja.

Tugas Kuliah Seharusnya Memiliki Manfaat Lebih Luas

Saya berpendapat bahwa tugas perkuliahan akan terasa lebih bermakna apabila hasilnya tidak hanya berakhir sebagai dokumen yang dikumpulkan kepada dosen.

Mahasiswa perlu mendapatkan kesempatan untuk menghasilkan sesuatu yang dapat memberikan manfaat bagi orang lain.

Dalam persiapan seminar Concept Eventspace, misalnya, kelompok kami memilih topik mengenai penyusunan Curriculum Vitae (CV), proses rekrutmen, dan persiapan memasuki dunia kerja.

Topik tersebut dipilih karena persoalan mencari pekerjaan cukup dekat dengan kehidupan mahasiswa, terutama mereka yang mulai memikirkan langkah setelah menyelesaikan pendidikan.

Seminar yang direncanakan berlangsung pada 3 Desember 2026 melalui Zoom Meeting ini diharapkan dapat menghadirkan sudut pandang praktisi di bidang rekrutmen dan pengembangan sumber daya manusia.

Namun, bagi saya, hal yang lebih penting bukan sekadar terlaksananya seminar tersebut.

Ada pelajaran mengenai bagaimana menentukan kebutuhan peserta, menyusun konsep yang relevan, mengatur pembagian pekerjaan, dan memastikan informasi dapat disampaikan dengan baik.

Dari sini, saya melihat bahwa sebuah tugas kuliah sebenarnya bisa menjadi kesempatan untuk menghubungkan kepentingan akademik dengan kebutuhan masyarakat.

Mahasiswa tidak hanya belajar demi memperoleh nilai, tetapi juga memahami bagaimana ilmu yang dipelajari dapat digunakan untuk menjawab persoalan di sekitarnya.

Menghadapi Kesulitan Juga Bagian dari Proses Belajar

Satu hal yang menurut saya sering luput dari perhatian adalah anggapan bahwa tugas yang berhasil harus selalu berjalan sesuai rencana.

Padahal, dalam praktiknya, tidak semua pekerjaan dapat diselesaikan tanpa hambatan.

Ketika mengerjakan proyek bersama, mahasiswa mungkin menghadapi perbedaan pendapat, perubahan jadwal, keterbatasan waktu, atau kesulitan membagi tanggung jawab.

Situasi tersebut memang tidak selalu menyenangkan. Namun, saya justru melihatnya sebagai bagian penting dari pembelajaran.

Mahasiswa perlu memahami bahwa sebuah masalah tidak akan selesai hanya dengan mengeluh atau menunggu orang lain mengambil tindakan.

Kita harus belajar mencari penyebabnya, membicarakan kemungkinan penyelesaian, dan berani mengambil keputusan.

Menurut saya, pengalaman menghadapi kesulitan seperti ini dapat membantu mahasiswa menjadi lebih mandiri.

Tentu, satu kegiatan perkuliahan tidak serta-merta membuat seseorang siap menghadapi seluruh tuntutan dunia profesional. Namun, setidaknya mahasiswa mulai mengenal pentingnya disiplin, pengelolaan waktu, dan tanggung jawab terhadap pekerjaan.

Hal tersebut sulit diperoleh apabila proses belajar hanya berpusat pada menghafal materi dan mengerjakan soal.

Kampus Perlu Memberikan Lebih Banyak Ruang untuk Praktik

Saya percaya bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi kehidupan setelah lulus.

Karena itu, pembelajaran tidak seharusnya hanya menilai seberapa baik mahasiswa menjawab ujian atau menyusun tugas tertulis.

Kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis, menyelesaikan masalah, dan bekerja dalam tim juga perlu mendapatkan perhatian.

Salah satu cara untuk mengembangkan kemampuan tersebut adalah melalui pembelajaran berbasis proyek, ketika mahasiswa diberi kesempatan untuk merencanakan, menjalankan, dan mengevaluasi suatu kegiatan.

Meski demikian, kegiatan praktik juga tidak boleh sekadar menjadi tugas tambahan yang membebani mahasiswa.

Dosen tetap perlu memberikan arahan, tujuan pembelajaran yang jelas, serta evaluasi terhadap proses yang dijalani. Dengan begitu, mahasiswa tidak hanya sibuk menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga memahami alasan dan manfaat dari setiap kegiatan.

Bagi saya, pengalaman mengikuti mata kuliah MICE memberikan gambaran bahwa pembelajaran dapat berlangsung melalui banyak cara.

Diskusi dengan anggota kelompok, menyusun rencana kegiatan, menghadapi perbedaan pendapat, hingga memperbaiki pekerjaan merupakan proses yang sama pentingnya dengan memahami materi di kelas.

Pengalaman tersebut juga membuat saya menyadari bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya tentang menyelesaikan semester demi semester.

Ada tanggung jawab untuk terus mengembangkan kemampuan diri sebelum benar-benar memasuki dunia profesional.

Pada akhirnya, saya berharap semakin banyak mata kuliah yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar melalui pengalaman langsung.

Bukan berarti semua pembelajaran harus berbentuk proyek atau kegiatan lapangan. Teori tetap diperlukan sebagai dasar pengetahuan. Namun, teori dan praktik seharusnya berjalan beriringan.

Sebab, menurut saya, keberhasilan pendidikan tinggi tidak cukup diukur dari banyaknya materi yang telah dipelajari mahasiswa, tetapi juga dari kemampuan mereka menggunakan pengetahuan tersebut ketika menghadapi persoalan nyata.

Nilai akademik memang penting, tetapi kemampuan menerapkan ilmu dan bertanggung jawab atas pekerjaan sendiri merupakan bekal yang tidak kalah berharga.