Penyebaran Hoaks di Era Digital : Rendahnya Literasi Informasi Masyarakat

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Katolik Santo Thomas Medan
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari HOTRIA SINAGA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah membawa banyak kemudahan bagi kehidupan masyarakat. Informasi dari berbagai penjuru dunia dan data dapat diakses hanya dalam hitungan detik dari berbagai penjuru dunia. Namun, di balik kemudahan ini, muncul tantangan besar yang mengancam stabilitas sosial: maraknya penyebaran berita bohong atau hoaks.

Di era digital, informasi yang tidak bertanggung jawab dapat menyebar kilat dalam hitungan menit dan berpotensi memicu keresahan publik secara masif. Dua kasus yang belakangan ini menyebar luas dan memicu kegelisahan masyarakat adalah hoaks ancaman gempa besar di Nusa Tenggara Timur dan hoaks hadiah fantastis untuk Timnas Indonesia.
Pada awal Oktober 2026, sebuah pesan berantai di aplikasi perpesanan WhatsApp membuat gempar masyarakat. Pesan tersebut mengklaim akan terjadi gempa berkekuatan 8,5 Magnitudo di wilayah Mamboro, Kabupaten Sumba Tengah, pada Jumat, 9 Oktober 2026. Dalam waktu singkat, kepanikan luar biasa terjadi. Warga merasa ketakutan, anak-anak enggan pergi ke sekolah, dan warga tak berani masuk ke rumah sendiri. Padahal, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Stasiun Geofisika Sumba Timur menegaskan bahwa informasi tersebut murni berita bohong (hoax) dan bukan berasal dari instansi resmi. Tak lama berselang, setelah Timnas Indonesia meraih kemenangan dalam ajang FIFA ASEAN Cup 2026, muncul informasi di media sosial Facebook sejak 6 Oktober 2026 yang mengklaim bahwa Presiden Prabowo Subianto memberikan hadiah sebesar Rp5 triliun beserta kendaraan kepada setiap pemain timnas. Tanpa memeriksa kebenarannya terlebih dahulu, masyarakat berbondong-bondong membagikan unggahan tersebut. Faktanya, tidak ada pernyataan resmi dari pihak mana pun yang membenarkan pemberian hadiah fantastis tersebut. Informasi itu murni rekayasa tanpa dasar.
Berdasarkan dua kasus di atas, muncul pertanyaan penting: Mengapa hoaks dapat menyebar dengan begitu cepat dan dipercaya oleh banyak masyarakat? Faktor apa saja yang mendorong terjadinya penyebaran disinformasi di era digital?
Menurut saya, kedua peristiwa di atas menjadi bukti nyata bahwa penyebaran hoaks masih merupakan masalah amat serius yang harus segera ditangani bersama. Dari pengamatan saya terhadap kedua kasus tersebut, ada tiga faktor utama yang memicu maraknya disinformasi di tengah masyarakat:
1. Rendahnya Literasi Digital dan Daya Kritis: Rendahnya kemampuan masyarakat dalam memilah informasi membuat berita yang belum tentu benar dapat dengan mudah dipercaya dan disebarkan kembali. Sebagian besar orang cenderung langsung percaya pada apa yang dibaca tanpa berusaha mencari tahu sumber aslinya.
2. Eksploitasi Emosi Publik: Informasi yang memancing emosi mendalam—baik rasa takut (fear) seperti ancaman bencana maupun rasa bangga (pride) seperti kemenangan timnas—cenderung jauh lebih cepat menyebar. Orang tergerak secara emosional untuk langsung membagikannya kepada orang lain tanpa berpikir kritis.
3. Keterlambatan Klarifikasi Resmi: Keterlambatan masuknya informasi resmi dari pihak berwenang sering kali dimanfaatkan oleh pihak tak bertanggung jawab untuk mengisi kekosongan tersebut dengan narasi buatan yang menyesatkan
Berdasarkan berbagai fakta tersebut, saya berpendapat bahwa akar utama permasalahan hoaks adalah rendahnya literasi informasi dan kurangnya kesadaran masyarakat dalam menggunakan media digital secara bijak. Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama untuk mengatasi persoalan ini.Oleh karena itu, saya mendorong beberapa langkah konkrit berikut:
1. Sikap Kehati-hatian Publik: Kita semua harus lebih mawas diri dalam menerima dan m enyebarkan berita. Biasakan untuk mengecek kebenaran informasi melalui sumber-sumber yang tepercaya sebelum membagikannya.
2. Proaktifnya Pemerintah dan Instansi Terkait: Pemerintah dan lembaga resmi dituntut untuk lebih aktif, responsif, dan cepat dalam menyajikan data akurat guna mencegah masyarakat terjerat berita bohong.
3. Peningkatan Edukasi Literasi Digital: Peningkatan pemahaman publik mengenai cara membedakan informasi yang valid dan yang manipulatif harus terus digalakkan secara berkesinambungan. Mari kita pegang teguh prinsip penting dalam berinternet: Saring sebelum bagikan. Satu keteledoran kecil di jempol kita dapat berdampak buruk dan merugikan banyak orang opini semakin menonjol.
Pada akhirnya, perang melawan hoaks bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau media, tetapi juga tanggung jawab setiap pengguna internet. Dengan bersikap lebih kritis, bijak, dan bertanggung jawab dalam menerima maupun menyebarkan informasi, kita dapat membantu menciptakan ruang digital yang lebih sehat dan terpercaya. Oleh karena itu, mari kita menerapkan prinsip sederhana namun penting: "Saring sebelum sharing." Satu klik yang dilakukan secara bijak dapat mencegah banyak kerugian bagi orang lain.
