Memahami Makna di Balik Seragam

Saat ini saya bertugas sebagai pegawai Lapas Kelas IIA Banyuwangi
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Sabar Supriyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendahuluan
Awalnya, saya diberi tahu oleh seorang rekan yang berprofesi sebagai polisi bahwa ada sebuah buku tentang biografi dan pemikiran-pemikiran seorang petinggi Polri (Wakapolri), Bapak Komjen. Pol. Drs. Agus Adrianto. Sejak dari kata pengantar para tokoh, kisah perjalanan hidup dan karier Komjen. Pol. Drs. Agus Adrianto, hingga tema-tema pemikiran beliau yang mendalam, Komjen. Pol. Drs. Agus Adrianto menyampaikan hal-hal yang sama sekali tak terduga. Meskipun saya bukan termasuk kutu buku, khusus dalam buku ini, tema-tema yang beliau ungkapkan begitu merangsang saya untuk membacanya.
Filsuf terkenal Rene Descartes pernah berujar bahwa membaca buku-buku bagus berarti bercakap-cakap dengan orang yang paling mulia pada masanya. Melalui lembar-lembar buku biografinya, kita diajak melintasi ruang dan waktu untuk memahami nilai perjuangan hidup seorang tokoh. Buku Di Balik Seragam mengupas tuntas bahwa di balik kokohnya seragam kepolisian, terdapat keteguhan hati yang berakar pada nilai kemanusiaan.
Sinopsis dan Isi Buku
Membaca buku Di Balik Seragam membuat saya begitu larut merasakan kisah nyata yang sangat inspiratif tentang perjalanan kehidupan yang tidak mudah, sejak dalam kandungan, anak-anak, remaja, hingga menginjak dewasa, sampai menjadi seorang polisi berpangkat perwira tinggi, yaitu Bapak Drs. Agus Adrianto, S.H., M.H. Dalam mengarungi kehidupannya, ia memiliki cambuk diri untuk berjuang mengubah arah hidup menjadi lebih baik dengan tekun menuntut ilmu sejak dini. Pekerjaan demi pekerjaan dijalani dengan ikhlas, mulai dari tukang pos hingga menjadi polisi. Dalam meniti kariernya sebagai seorang polisi, ia menghadapi perjuangan berat dalam ujian integritas dari para pelaku kejahatan, hingga akhirnya lulus dan mencapai jabatan nomor dua di institusi Polri. Tugas demi tugas yang diembannya bukan sekadar penegakan hukum yang kaku, melainkan sebuah bentuk pengabdian yang terintegrasi dengan nilai-nilai spiritual. Dalam perjalanan hidupnya terangkum sebuah kisah yang patut diabadikan.
Melalui gaya penulisan Agus Sukoco yang mudah dipahami, pembaca dari berbagai kalangan dapat menikmati dan mengambil pelajaran dari buku ini. Sebagai penulis, ia berhasil memotret dua sisi sang jenderal secara seimbang. Sisi pertama adalah potret profesionalisme yang tegas, dengan komitmen tinggi pada keadilan, hukum, serta ketertiban masyarakat. Sisi kedua, yang menjadi ruh buku ini, adalah sisi humanis kepribadiannya di luar tugas kedinasan.
Buku ini membongkar bagaimana ia menjadi sosok yang penuh perhatian kepada keluarga, rendah hati, dan sederhana, yang bersumber dari mata air prinsip dan pengetahuan yang berakar pada agama, spiritualitas, dan khazanah kebudayaan bangsa. Saya menitikkan air mata membaca apa yang diungkapkan oleh Komjen. Pol. Agus Adrianto, “semua organ tubuh, baik mulut, tangan, maupun kaki, juga bukan milik kita. Lalu, bagaimana bisa kita klaim bahwa apa yang kita lakukan adalah milik kita, padahal kita tidak punya apa-apa? Semua terjadi karena kehendak Allah SWT.” Menjadi diri sendiri terkait dengan keharusan menyesuaikan diri dengan kehendak Sang Pencipta. Pesan yang dapat dipetik dari sosok Agus Adrianto adalah pentingnya senantiasa menjaga jati diri, karena hal itu merupakan hal paling fundamental untuk mengarungi kehidupan dengan baik dan benar.
Di Balik Seragam adalah buku yang menawarkan pandangan mendalam tentang kehidupan seseorang dan sangat cocok bagi siapa pun, baik pembaca umum maupun abdi negara, untuk mendasari langkah dalam kehidupan pribadi serta arah dalam menentukan tugas dan tanggung jawab yang harus ditunaikan dengan semangat pelayanan sepenuh hati kepada masyarakat. Kebetulan, beliau kini menjabat sebagai Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, institusi tempat saya bernaung dan mengabdikan diri. Tentu ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya. Setelah membaca buku Di Balik Seragam, saya merasa tidak sekadar menjadi pegawai yang bekerja di sebuah lembaga formal, tetapi juga menjadi seorang murid di sebuah sekolah dan anak dari seorang ayah dalam sebuah keluarga.
Pangkat dan jabatan yang kita sandang pada diri kita adalah sekadar titipan yang kelak akan dipertanggungjawabkan kepada Sang Pencipta. Hal terbaik yang harus dilakukan adalah menjalankan tugas dan tanggung jawab secara proporsional. Kesanggupan kita untuk bersyukur akan menghadirkan kebahagiaan dan penghargaan yang tinggi atas hidup yang tengah dijalani. Setiap orang perlu melakukan yang terbaik, bukan demi hasil, melainkan demi menikmati perjalanan untuk bertumbuh.
Kelebihan Buku
Di Balik Seragam adalah buku yang menawarkan pandangan mendalam tentang kehidupan seseorang dan sangat cocok bagi siapa pun, baik pembaca umum maupun abdi negara, untuk mendasari langkah dalam kehidupan pribadi serta arah dalam menentukan tugas dan tanggung jawab yang harus ditunaikan dengan semangat pelayanan sepenuh hati kepada masyarakat. Pangkat dan jabatan yang kita sandang pada diri kita adalah sekadar titipan yang kelak akan dipertanggungjawabkan kepada Sang Pencipta.
Hal terbaik yang harus dilakukan adalah menjalankan tugas dan tanggung jawab secara proporsional. Kesanggupan kita untuk bersyukur akan menghadirkan kebahagiaan dan penghargaan yang tinggi atas hidup yang tengah dijalani. Setiap orang perlu melakukan yang terbaik, bukan demi hasil, melainkan demi menikmati perjalanan untuk bertumbuh.
Kesimpulan
Di Balik Seragam adalah buku yang mengambil latar belakang profesi polisi. Hal ini tidak lepas dari sosok Agus Adrianto, yang merupakan Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia pada saat buku ini diluncurkan. Namun demikian, pemikiran dan prinsip hidup yang dipegang kokoh serta dituangkan dalam buku ini sejatinya dapat dikaji dan diadopsi oleh siapa pun, tanpa melihat latar belakang profesi ataupun pakaian seragam yang dikenakan.
Selamat membaca.
