Tak Sekedar Menjalani Pidana, WBP Lapas Narkotika Jogja Resmi Diwisuda Sebagai Santri

Humas Kanwil Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Daerah Istimewa Yogyakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Warta PAS Yogyakarta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

YOGYAKARTA – Komitmen menghadirkan pembinaan yang menyentuh aspek spiritual dan pembentukan karakter bagi warga binaan terus diperkuat jajaran Pemasyarakatan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan DIY, Muhammad Ali Syeh Banna, mengapresiasi penyelenggaraan Wisuda Santri dan Talkshow Pesantren At-Tawwabin yang digelar Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Yogyakarta, Sabtu (31/10/2026).
Menurut Ali Syeh Banna, kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa pembinaan di dalam lapas tidak hanya berfokus pada pelaksanaan masa pidana, tetapi juga memberikan ruang bagi warga binaan untuk memperbaiki diri, memperkuat keimanan, serta mempersiapkan kehidupan yang lebih baik ketika kembali ke tengah masyarakat.
Ia mengapresiasi konsistensi Lapas Narkotika Yogyakarta dalam mengembangkan pembinaan kepribadian melalui Pesantren At-Tawwabin. Program ini dinilai memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan sekaligus membangun kesadaran warga binaan untuk menjadikan masa pembinaan sebagai kesempatan melakukan perubahan positif.
Wisuda santri menjadi momentum penghargaan atas proses belajar dan kesungguhan warga binaan dalam mengikuti pembelajaran keagamaan. Lebih dari sekadar seremoni, kegiatan ini diharapkan menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk bertumbuh, memperbaiki kesalahan, dan menata kembali masa depannya.
Kegiatan tersebut juga menghadirkan talkshow bersama dua narasumber, yakni Dekan Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia (UII), Dr. Drs. Asmuni, M.A., serta Hendro Setiawan, mantan warga binaan Lapas Narkotika Yogyakarta yang kini menjadi Pendiri Majelis Taklim Irodatulloh Alkhoirot Pekalongan.
Kehadiran kedua narasumber memberikan perspektif yang saling melengkapi mengenai pendidikan agama, pembentukan akhlak, dan perjalanan memperbaiki diri. Kisah Hendro Setiawan secara khusus menjadi gambaran bahwa masa lalu tidak harus menjadi penghalang untuk membangun kehidupan yang lebih bermakna dan memberikan manfaat bagi orang lain.
Melalui program Pesantren At-Tawwabin, warga binaan tidak hanya dibekali pengetahuan keagamaan, tetapi juga didorong untuk mengimplementasikan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Penguatan keimanan, ketakwaan, dan akhlak diharapkan menjadi fondasi dalam membangun pribadi yang lebih bertanggung jawab.
Ali Syeh Banna berharap kegiatan pembinaan serupa dapat terus dikembangkan secara berkelanjutan dan memberikan dampak nyata bagi perubahan perilaku warga binaan. Menurutnya, keberhasilan Pemasyarakatan tidak semata-mata diukur dari pelaksanaan pembinaan di dalam lapas, tetapi juga dari kesiapan warga binaan untuk kembali dan diterima sebagai bagian dari masyarakat.
Apresiasi terhadap kegiatan ini sekaligus menjadi dorongan bagi seluruh jajaran UPT Pemasyarakatan DIY untuk terus menghadirkan pembinaan yang humanis, bermakna, dan berorientasi pada perubahan. Sebab, di balik tembok pemasyarakatan, selalu ada kesempatan untuk belajar, bertumbuh, dan memulai lembaran kehidupan yang lebih baik.
