Konten dari Pengguna

Hidup di Era Serba Cepat: Mengapa Kita Harus Menikmati Proses?

Ilustrasi seorang pemuda menggunakan gadget dari pagi hingga malam hari.(Gambar:Ilustrasi/AI Gemini)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seorang pemuda menggunakan gadget dari pagi hingga malam hari.(Gambar:Ilustrasi/AI Gemini)

Adakah kita merasa bahwa hidup berjalan begitu cepat? Bangun tidur, berangkat kuliah atau kerja, kemudian kembali menggunakan ponsel tanpa sadar kita menggunakannya hingga tertidur. Anehnya di tengah kehidupan yang serba cepat dan mudah, kita justru merasa tidak puas dan sulit untuk bersabar.

Perkembangan teknologi di zaman sekarang membuat beberapa kegiatan dapat dilakukan dengan waktu yang singkat. Makanan dapat dipesan melalui ponsel, barang yang dapat dibeli memlalui online, dan komunikasi dengan orang yang jauh dapat dilakukan tanpa harus bertemu secara langsung. Kecepatan tersebut memberikan banyak sekali keuntungan bagi kita, tetapi tanpa disadari juga membuat kita terbiasa menginginkan segala hal secara instan.

Terbiasa dengan Hasil yang Instan

Penggunaan media sosial dapat dinikmati dimanapun dan kapanpun.(Gambar:Ilustrasi/AI Gemini)

Salah satu alasan kita sulit menikmati proses adalah karena terbiasa mendapatkan sesuatu dengan cepat. Ketika kita mencari sebuah catatan atau informasi penting, kita mengharapkan jawaban dalam hitungan detik. Ketika kita ingin hiburan, kita hanya perlu membuka media sosial. Bahkan dikala bosan, kita akan mencari sesuatu yang sekiranya menarik perhatian.

Kehidupan digital membuat kita terbiasa berpindah dari satu informasi ke informasi lain dengan cepat. Kebiasaan tersebut membuat proses yang membutuhkan konsentrasi dan kesabaran semakin berat. Nicholas Carr dalam The Shallows membahas bagaimana penggunaan internet dapat memengaruhi cara manusia membaca, berkonsentrasi, dan memproses informasi.

Cek buku The Shallows untuk mengetahui dampak penggunaan media sosial bagi manusia di link berikut:

https://books.google.com/books?q=The+Shallows+Nicholas+Carr&utm_source=chatgpt.com

Akibatnya, ketika hasil yang kita inginkan belum muncul, maka kita menganganggap bahwa semua yang kita usahakan tiddak membuahkan hasil. Padahal, tidak semua proses dapat membuat perubahan dalam waktu yang singkat.

Terlalu Fokus pada Tujuan

Memiliki tujuan tentu merupakan hal yang baik. Tujuan membuat kita memiliki arah dan motivasi untuk berkembang. Namun, terlalu fokus pada hasil juga membuat kita dapat lupa menghargai proses.

Misalnya, ada seorang mahasiswa yang terlalu fokus pada memikirkan nilai tanpa memperhatikan prosesnya. Ada juga seseorang yang ingin membangun karier, namun yang ia pikirkan hanyalah ketika ia mendapatkan kedudukan tertinggi tanpa mempedulikana keterampilan serta poses yang ia jalani.

Padahal, proses bukan sekedar perjalanan menuju suatu tujuan. seluruh proses yang kita lewati adalah sebuah pengalaman yang mungkin hampir tidak akan terulang kembali. Kegagalan mengajarkan kita untuk memperbaiki diri, kesulitan melatih ketahanan, dan pengalaman kecil dapat membentuk kemampuan yang berguna di masa depan.

Belajar Menikmati Proses

Sebuah kemampuan yang ada pada seseorang tanpa melibatkan media sosial.(Gambar:Ilustrasi/AI Gemini)

Menikmati proses bukan berarti kita harus berhenti memiliki ambisi. Sebaliknya, kita tetap boleh memiliki target dan berusaha mencapainya. Namun kita juga perlu memberikan ruang bagi diri kita sendiri untuk menghargai perkembangan kecil.

Kita dapat mulai mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Terkadang hal yang membuat kita tidak bersyukur adalah ketika kita memandang orang yang berada diatas kita, sebaliknya jika kita memandang orang yang ada dibawah kita, maka kita akan bersyukur. Fokuslah pada perkembangan diri sendiri. Jika kita hari ini mampu melakukan sesuatu yang sebelumnya belum bisa dilakukan, itu sudah merupakan sebuah kemajuan yang ada pada diri kita.

Ada waktu yang kita perlukan untuk refreshing otak sejenak. Tidak semua waktu harus diisi dengan aktivitas. Terkadang kita perlu menikmati secangkir kopi atau teh, jalan-jalan, bersepeda dipagi hari, atau hanya sekedar duduk tanpa terus-menerus menatap layar gadget.

Jangan biarkan teknologi mengambil alih seluruh kegiatan yang ada pada kehidupan.

"Technology proposes itself as the architect of our intimacies"

Semua itu akan bisa berproses sedikit demi sedikit tanpa harus kita mengandalkan media sosial sebagai sandaran hidup.