Sudah Kirim Ratusan CV, Kenapa Masih Sulit Mendapatkan Pekerjaan?

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 10 menit
Tulisan dari Syaiful Bahri Ibnu Abdillah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Membuka email setiap pagi, memeriksa pesan WhatsApp, hingga berulang kali mengecek situs lowongan kerja mungkin sudah menjadi rutinitas bagi sebagian pencari kerja. Harapannya sederhana: ada satu panggilan wawancara setelah puluhan bahkan ratusan lamaran dikirimkan. Namun, yang datang justru email penolakan atau tidak ada kabar sama sekali. Situasi tersebut bukan sekadar cerita tentang seseorang yang belum beruntung mendapatkan pekerjaan. Bagi banyak orang, mencari pekerjaan kini menjadi proses panjang yang menguras waktu, tenaga, biaya, bahkan kepercayaan diri. Ada yang sudah menyelesaikan pendidikan, mengikuti pelatihan, dan membangun portofolio, tetapi tetap kesulitan memperoleh kesempatan wawancara.
Persoalannya kemudian menjadi menarik: jika seseorang sudah berusaha meningkatkan kemampuan dan mengirimkan banyak lamaran, mengapa mendapatkan pekerjaan masih terasa sulit?
Jawabannya tidak sesederhana kurangnya kompetensi atau minimnya usaha. Ada persaingan yang semakin ketat, kebutuhan perusahaan yang terus berubah, kesenjangan antara pendidikan dan kebutuhan industri, serta proses rekrutmen yang belum selalu memberikan akses dan kepastian bagi pencari kerja.
Angka Pengangguran Menurun, tetapi Persaingan Kerja Belum Selesai
Data ketenagakerjaan Indonesia menunjukkan adanya perbaikan, tetapi juga memperlihatkan bahwa tantangan mencari pekerjaan masih besar.
Berdasarkan pemberitaan Kompas.com yang diterbitkan pada 5 November 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran di Indonesia pada Agustus 2026 mencapai 7,38 juta orang, dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,75 persen. Jumlah tersebut mengalami penurunan sekitar 77.000 orang dibandingkan dengan Agustus 2025 yang mencatat 7,46 juta penganggur dengan TPT sebesar 4,85 persen.
Di sisi lain, jumlah penduduk yang bekerja meningkat menjadi 147,99 juta orang, bertambah sekitar 1,44 juta orang dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Sekilas, angka tersebut menunjukkan bahwa penyerapan tenaga kerja mengalami perkembangan positif.
Namun, penurunan pengangguran secara nasional tidak otomatis membuat setiap pencari kerja memiliki peluang yang sama. Persaingan tetap terasa, terutama bagi mereka yang baru memasuki dunia kerja dan belum memiliki pengalaman profesional.
Gambaran lain terlihat dari data TPT berdasarkan tingkat pendidikan pada 2025. BPS mencatat tingkat pengangguran lulusan SMA umum sebesar 6,88 persen, sedangkan lulusan SMK mencapai 8,63 persen. Untuk lulusan universitas, angkanya berada di 5,39 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa pendidikan yang lebih tinggi tidak otomatis menjamin seseorang langsung memperoleh pekerjaan. Bahkan, lulusan pendidikan vokasi yang seharusnya dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja juga masih menghadapi tantangan dalam memperoleh pekerjaan.
Persoalan ini semakin terasa ketika melihat hasil Survei Pemuda Indonesia 2026 yang dilakukan Lembaga Survei KedaiKOPI. Dari 1.213 responden berusia 17–45 tahun, sebanyak 74,7 persen menyatakan bahwa mendapatkan pekerjaan saat ini terasa sulit. Sementara itu, hanya 25,3 persen yang merasa proses tersebut mudah.
Temuan tersebut perlu dibaca secara proporsional karena survei dilakukan secara daring dengan sampel non-probabilitas. Artinya, hasilnya menggambarkan persepsi para responden, bukan angka yang dapat dianggap mewakili seluruh pemuda Indonesia.
Meski demikian, survei tersebut memberikan gambaran mengenai keresahan yang dirasakan banyak pencari kerja. Angka pengangguran memang dapat menurun, tetapi pengalaman seseorang dalam mendapatkan pekerjaan tetap dipengaruhi oleh persaingan, lokasi, kualifikasi, dan kesempatan yang tersedia. Dengan kata lain, membaiknya angka pengangguran belum tentu berarti proses mencari pekerjaan sudah menjadi mudah.
Banyak Lamaran, Sedikit Panggilan: Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Salah satu hal yang sering membuat pencari kerja frustrasi adalah ketika usaha yang dilakukan tidak sebanding dengan hasil yang diterima. Seseorang bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk mencari lowongan, menyesuaikan CV, menulis surat lamaran, hingga mengisi formulir perusahaan. Namun, setelah semua proses tersebut dilakukan, belum tentu ada panggilan wawancara.
Berdasarkan survei KedaiKOPI dalam Survei Pemuda Indonesia 2026, terdapat beberapa hambatan yang dirasakan responden dalam mendapatkan pekerjaan. Sebanyak 56 persen menyebut kebutuhan akan koneksi atau orang dalam sebagai salah satu hambatan. Selain itu, 48 persen menilai lapangan kerja terbatas, 41,3 persen menyebut persaingan yang tinggi, dan 39,2 persen menyoroti batasan usia. Temuan ini menunjukkan bahwa persoalan mencari pekerjaan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan individu, tetapi juga akses terhadap informasi dan kesempatan kerja. Bagi sebagian pencari kerja, persoalan tersebut semakin terasa ketika mereka harus berhadapan dengan persyaratan lowongan yang tidak mudah dipenuhi. Salah satunya adalah pengalaman kerja. Tidak sedikit perusahaan yang mencantumkan pengalaman sebagai kualifikasi, termasuk pada posisi yang ditujukan bagi lulusan baru. Kondisi ini menimbulkan dilema: seseorang membutuhkan pekerjaan untuk mendapatkan pengalaman, tetapi pengalaman justru sering kali menjadi salah satu syarat untuk memperoleh pekerjaan.
Namun, jika dilihat dari sudut pandang perusahaan, proses rekrutmen memiliki pertimbangan yang lebih luas. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu praktisi Human Resources (HR) dari salah satu perusahaan yang ada di kawasan BSD, Tangerang Selatan, peluang seseorang untuk mendapatkan pekerjaan dipengaruhi oleh ketersediaan kesempatan, relevansi pengalaman kerja dengan posisi yang dilamar, serta kebutuhan dan pertimbangan masing-masing perusahaan.
Menurut narasumber, pengalaman kerja tidak selalu menjadi kendala utama bagi pencari kerja. Hal yang tidak kalah penting adalah kemampuan kandidat dalam memahami deskripsi pekerjaan (job description) dan ruang lingkup tanggung jawab dari posisi yang dilamar. Dengan memahami hal tersebut, kandidat diharapkan mengetahui tugas yang akan dijalankan serta kemampuan yang perlu dipersiapkan sebelum memasuki lingkungan kerja.
Selain pengalaman dan pemahaman terhadap pekerjaan, terdapat aspek lain yang menjadi pertimbangan HR dalam memilih kandidat. Narasumber menjelaskan bahwa etika atau sikap, kedisiplinan dalam menghadiri wawancara, serta pengetahuan yang berkaitan dengan posisi pekerjaan juga menjadi bagian dari penilaian. Artinya, proses seleksi tidak hanya melihat apa yang tertulis di dalam CV, tetapi juga bagaimana kandidat menunjukkan kesiapan dan sikap profesional selama proses rekrutmen.
Perbedaan sudut pandang ini memperlihatkan bahwa pencari kerja dan perusahaan terkadang memiliki ekspektasi yang tidak sepenuhnya sama. Pencari kerja berharap mendapatkan kesempatan untuk membuktikan kemampuan, sedangkan perusahaan perlu memastikan kandidat yang dipilih sesuai dengan kebutuhan pekerjaan. Keduanya memiliki pertimbangan masing-masing, tetapi kesenjangan tersebut dapat menjadi tantangan ketika persyaratan perusahaan tidak sejalan dengan kesempatan yang tersedia bagi kandidat pemula.
Di sisi lain, proses rekrutmen juga membutuhkan komunikasi yang jelas. Kandidat yang sudah mengikuti beberapa tahap seleksi tentu berharap mendapatkan informasi mengenai hasil lamarannya. Ketika perusahaan tidak memberikan kepastian, pencari kerja harus menunggu tanpa mengetahui apakah masih memiliki peluang atau perlu melanjutkan pencarian ke tempat lain.
Pada akhirnya, banyaknya lamaran yang dikirimkan tidak selalu berbanding lurus dengan peluang mendapatkan pekerjaan. Ada faktor ketersediaan posisi, kesesuaian kualifikasi, pengalaman, sikap, hingga kebutuhan perusahaan yang turut menentukan hasil seleksi. Karena itu, persoalan sulitnya mendapatkan pekerjaan perlu dilihat dari kedua sisi, baik kesiapan pencari kerja maupun kesempatan yang benar-benar tersedia di dunia kerja.
Dampak Sulit Mendapatkan Pekerjaan Tidak Hanya Terasa pada Ekonomi
Ketika seseorang belum mendapatkan pekerjaan, dampaknya sering kali lebih luas daripada sekadar belum memiliki penghasilan. Ada tekanan yang muncul dari lingkungan sekitar, keluarga, bahkan dari diri sendiri. Bagi lulusan baru, masa setelah menyelesaikan pendidikan sering dibayangkan sebagai awal kehidupan yang lebih mandiri. Mereka berharap bisa segera bekerja, memperoleh penghasilan sendiri, dan mulai membantu keluarga.
Namun, ketika kenyataan tidak berjalan sesuai harapan, muncul perasaan tertinggal dibandingkan dengan teman-teman yang sudah lebih dahulu bekerja. Situasi tersebut dapat semakin berat ketika pertanyaan seperti "Sekarang kerja di mana?" atau "Kapan mulai kerja?" terus muncul dalam lingkungan sosial. Penolakan yang datang berulang kali juga dapat memengaruhi kepercayaan diri. Ada orang yang mulai mempertanyakan kemampuan dirinya, merasa pendidikan yang ditempuh tidak cukup berguna, atau menganggap dirinya tidak memiliki nilai di dunia kerja.
Padahal, tidak semua penolakan berarti seseorang tidak kompeten. Bisa saja posisi yang dilamar sudah memiliki kandidat lain yang lebih sesuai, kebutuhan perusahaan berubah, atau jumlah pelamar jauh lebih banyak daripada posisi yang tersedia. Persoalan ekonomi juga tidak bisa diabaikan. Tanpa penghasilan tetap, seseorang perlu mengandalkan tabungan, dukungan keluarga, atau pekerjaan sementara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi ini membuat pencari kerja berada dalam situasi yang tidak mudah. Di satu sisi, mereka perlu mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan harapan. Di sisi lain, kebutuhan hidup tetap berjalan dan tidak selalu memungkinkan mereka menunggu terlalu lama.
Karena itu, proses mencari kerja seharusnya tidak dipandang hanya sebagai perjuangan individu. Ada faktor sosial dan ekonomi yang turut memengaruhi kemampuan seseorang untuk bertahan selama masa pencarian kerja. Memahami dampak tersebut penting agar kita tidak mudah menghakimi orang yang belum bekerja. Sebab, belum mendapatkan pekerjaan bukan berarti seseorang tidak berusaha atau tidak memiliki kemampuan.
Bukan Hanya Mengirim CV, Ini Strategi yang Bisa Dilakukan Pencari Kerja
Di tengah persaingan yang ketat, mengirimkan lamaran sebanyak mungkin belum tentu menjadi strategi paling efektif. Pencari kerja perlu mengubah pendekatan, bukan sekadar menambah jumlah CV yang dikirimkan.
Langkah pertama adalah menyesuaikan CV dengan posisi yang dilamar. CV sebaiknya tidak hanya berisi riwayat pendidikan dan daftar pengalaman, tetapi juga menunjukkan kemampuan yang relevan dengan kebutuhan perusahaan. Sebagai contoh, seseorang yang melamar sebagai staf administrasi dapat menonjolkan kemampuan mengolah data, menggunakan spreadsheet, mengelola dokumen, dan menyusun laporan. Sementara itu, pelamar posisi pemasaran dapat menunjukkan pengalaman mengelola media sosial, membuat materi promosi, atau menganalisis performa konten.
Kedua, jangan menunggu pengalaman kerja formal untuk mulai membangun portofolio. Pengalaman organisasi, tugas kuliah, proyek pribadi, kegiatan sukarela, hingga pekerjaan lepas dapat menjadi bukti bahwa seseorang pernah menerapkan kemampuannya. Bagi lulusan Sistem Informasi, misalnya, proyek pembuatan aplikasi sederhana, rancangan basis data, atau analisis data dapat ditampilkan sebagai portofolio. Dengan begitu, perusahaan tidak hanya membaca klaim kemampuan di dalam CV, tetapi juga dapat melihat contoh hasil pekerjaan.
Ketiga, pelajari keterampilan yang memang dibutuhkan oleh bidang pekerjaan yang dituju. Mengikuti pelatihan atau kursus dapat membantu, tetapi pilihlah berdasarkan kebutuhan nyata. Sertifikat saja tidak cukup jika seseorang belum mampu menunjukkan bagaimana keterampilan tersebut digunakan untuk menyelesaikan masalah.
Keempat, manfaatkan lebih dari satu jalur pencarian kerja. Selain menggunakan platform lowongan kerja, pencari kerja dapat memeriksa halaman karier resmi perusahaan, mengikuti informasi rekrutmen melalui LinkedIn, menghadiri bursa kerja, dan membangun relasi profesional. Membangun jaringan profesional bukan berarti harus memiliki orang dalam. Tujuannya adalah memperluas akses terhadap informasi, mengenal bidang pekerjaan, dan mendapatkan kesempatan untuk mengetahui kebutuhan industri secara lebih dekat.
Kelima, evaluasi proses melamar berdasarkan tahap yang sedang dihadapi. Jika sudah mengirim banyak lamaran tetapi hampir tidak pernah mendapat panggilan, periksa kembali kesesuaian CV dan posisi yang dituju. Jika sering lolos seleksi administrasi tetapi gagal saat wawancara, latihan komunikasi dan persiapan wawancara dapat menjadi prioritas. Pencari kerja juga perlu membedakan antara pekerjaan yang benar-benar sesuai dengan kemampuan dan pekerjaan yang hanya dilamar karena sedang tersedia. Menentukan beberapa posisi yang menjadi target utama akan membantu proses pencarian menjadi lebih terarah.
Semua langkah tersebut bukan jaminan seseorang akan langsung mendapatkan pekerjaan. Namun, pendekatan yang lebih terukur dapat membantu pencari kerja memahami kekuatan, memperbaiki kekurangan, dan menggunakan waktu dengan lebih efektif.
Mencari Kerja Bukan Sekadar Soal Kemampuan, tetapi Juga Kesempatan
Mendorong pencari kerja untuk terus meningkatkan kemampuan memang penting. Namun, kita juga perlu menyadari bahwa persoalan sulitnya mendapatkan pekerjaan tidak dapat diselesaikan dengan meminta setiap individu untuk terus belajar dan beradaptasi.
Perusahaan memiliki peran dalam menciptakan proses rekrutmen yang lebih terbuka. Persyaratan lowongan sebaiknya disesuaikan dengan tanggung jawab pekerjaan. Posisi pemula perlu memberikan ruang bagi kandidat yang belum memiliki pengalaman panjang, tetapi mempunyai kemauan belajar dan kemampuan dasar yang relevan.
Perusahaan juga dapat memperjelas kriteria seleksi, memberikan informasi perkembangan rekrutmen, serta menyediakan jalur pengembangan bagi karyawan baru. Dengan begitu, proses penerimaan tenaga kerja tidak hanya berorientasi pada mencari kandidat yang sudah siap, tetapi juga membuka kesempatan bagi orang-orang yang memiliki potensi untuk berkembang.
Lembaga pendidikan pun perlu memperkuat hubungan dengan dunia industri. Pembelajaran tidak cukup hanya berorientasi pada teori, tetapi perlu memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengerjakan proyek nyata, mengenal lingkungan profesional, dan mengembangkan keterampilan yang relevan.
Sementara itu, pemerintah perlu terus memperluas akses informasi lowongan kerja, meningkatkan kualitas pelatihan, serta memastikan kesempatan kerja dapat dijangkau oleh masyarakat dari berbagai latar belakang.
Pada akhirnya, sulitnya mendapatkan pekerjaan adalah persoalan yang melibatkan banyak pihak. Pencari kerja memang perlu terus mengembangkan diri, tetapi perusahaan, lembaga pendidikan, dan pemerintah juga harus memastikan bahwa kesempatan untuk berkembang dan bekerja benar-benar tersedia. Mengirim ratusan CV tanpa mendapatkan panggilan memang melelahkan. Namun, kondisi tersebut tidak seharusnya menjadi ukuran tunggal untuk menilai kemampuan dan masa depan seseorang. Sebab, dunia kerja seharusnya tidak hanya menjadi tempat bagi mereka yang sudah memiliki pengalaman dan keahlian lengkap. Dunia kerja juga perlu menjadi ruang bagi orang-orang yang sedang belajar, bertumbuh, dan membangun pengalaman pertamanya.
