Konten dari Pengguna

Mahasiswa dan Kampus Hijau, Antara Jargon dan Tanggung Jawab Nyata

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ibnu Abdul Aziz tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Mahasiswa sebagai "agent of change" (Source: Gambar ini dibuat menggunakan Artificial Intelligence, pada tanggal 24-11-2025)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Mahasiswa sebagai "agent of change" (Source: Gambar ini dibuat menggunakan Artificial Intelligence, pada tanggal 24-11-2025)

Fenomena kampus hijau kini ramai digaungkan berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Hampir setiap kampus memiliki jargon “Green Campus”, “Eco Campus”, atau “Zero Waste Campus”. Pohon ditanam, taman dirapikan, tong sampah diperbanyak, hingga lomba lingkungan diadakan setiap semester. Namun pertanyaannya sederhana: apakah perilaku manusianya benar-benar ikut berubah? Bagi sebagian mahasiswa, program lingkungan sering berhenti pada formalitas. Kita mungkin pernah ikut bank sampah, menggunakan tote bag, atau membuat proyek eco-lifestyle untuk tugas kuliah. Tetapi setelah nilai masuk KRS, kebiasaan hijau itu ikut menghilang. Penelitian Sugiarto dan Gabriella (2020) menunjukkan bahwa meskipun kesadaran lingkungan mahasiswa tergolong tinggi, perilaku ramah lingkungannya hanya berada pada kategori sedang. Artinya, ada jurang yang jelas antara pengetahuan dan tindakan.

Kantin “Hijau” di Brosur, Tapi Lautan Plastik di Meja

Meskipun banyak kampus gencar mengampanyekan pengurangan sampah plastik, perilaku mahasiswa sering kali tidak berjalan sejalan dengan kebijakan yang dibuat. Penelitian Damayanti dan Fajrini (2025) pada mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Jakarta menunjukkan bahwa meskipun mahasiswa memiliki pengetahuan serta sikap positif terhadap pengurangan sampah plastik, tindakan mereka belum sepenuhnya konsisten dalam mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Hal ini menegaskan bahwa kesadaran belum tentu otomatis terwujud menjadi perilaku nyata. Temuan serupa juga dilaporkan oleh Nabilah et al. (2025) dimana mahasiswa yang menilai sarana pemilahan sampah di kampus kurang memadai memiliki peluang sangat besar untuk melakukan praktik pemilahan yang buruk, meskipun secara pengetahuan mereka cukup memahami konsep pemilahan sampah.

Proyek Hijau yang Hidup Saat Ada Tugas, Mati Saat Nilai Keluar

Mahasiswa sering mendadak menjadi aktivis lingkungan ketika mendapat tugas membuat proyek eco-lifestyle. Ada yang membuat komposter, membuka bank sampah mini, hingga memproduksi konten edukasi daur ulang. Namun setelah tugas selesai, banyak dari proyek ini berhenti begitu saja. Sejalan dengan temuan penelitian yang menunjukkan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam program pengelolaan sampah kampus cenderung tidak konsisten. Penelitian Widjayanti dkk. (2021) menemukan bahwa meskipun mahasiswa memiliki pengetahuan dan sikap positif terhadap pengelolaan sampah, tingkat partisipasinya tetap rendah, dari total nasabah bank sampah, jumlah mahasiswa yang tidak aktif lebih banyak dibandingkan yang aktif. Temuan ini menguatkan bahwa persoalannya bukan pada kepedulian, tetapi pada absennya sistem kampus yang mampu mempertahankan kebiasaan lingkungan secara jangka panjang tanpa bergantung pada tugas semester.

Kampus Hijau, Tapi Budayanya Masih Abu-abu

Mengembangkan kampus hijau tidak cukup hanya melalui pembangunan infrastruktur. Banyak kampus menonjolkan gedung hemat energi, taman rindang, atau lomba kebersihan, tetapi lupa membangun perilaku manusia yang menjadi penggunanya. Penelitian menunjukkan bahwa meskipun mahasiswa memiliki sikap positif terhadap isu lingkungan, perilaku memilah sampah tetap tidak dilakukan secara konsisten. Penelitian Alkhansa et al. (2025) menemukan bahwa perilaku tersebut terhambat oleh fasilitas yang tidak optimal dan lemahnya sistem pengawasan kampus, sehingga mahasiswa tidak terdorong untuk mempertahankan kebiasaan ramah lingkungan secara berkelanjutan.

Masalah utamanya bukan kurangnya pengetahuan, tetapi kurangnya komitmen dan ekosistem yang mendukung pembiasaan. Karena itu, pengembangan kampus hijau harus disertai dengan sistem perilaku yang jelas: fasilitas yang benar-benar berfungsi, aturan yang ditegakkan, serta mekanisme pemantauan yang membuat mahasiswa terus terlibat. Tanpa itu semua, kampus hijau hanya akan tampak “hijau” pada bentuk fisiknya, tetapi tidak pada budaya warganya.

Lalu Solusinya Apa?

Agar kampus hijau tidak berhenti sebagai slogan, perubahan harus bergerak dari dua arah: kebijakan kampus dan peran mahasiswa sebagai agen perubahan. Kampus perlu membangun sistem yang memudahkan perilaku berkelanjutan, mulai dari pembatasan plastik bertahap, integrasi bank sampah, hingga pemberdayaan UKM atau himpunan pecinta lingkungan sebagai penggerak budaya hijau sepanjang tahun. Namun, inti perubahan tetap berada pada mahasiswa. Konsistensi dalam hal sederhana seperti tidak meninggalkan sampah, membawa botol minum, dan menghemat air jauh lebih bermakna daripada proyek sesaat. Sejalan dengan Tapia-Fonllem (2013), perilaku berkelanjutan akan kuat jika menjadi bagian dari identitas diri.

Hijau Itu Bukan Warna, Tapi Kebiasaan

Hijau bukan sekadar warna, tetapi kebiasaan yang dibangun setiap hari. Kampus boleh punya ribuan pohon dan gedung hemat energi, tetapi tanpa budaya mahasiswanya, semua itu hanya menjadi dekorasi di brosur. Perilaku berkelanjutan tumbuh dari konsistensi, bukan slogan. Sebelum mengejar proyek besar, mulailah dari tindakan sederhana, seperti tidak meninggalkan sampah sembarangan, membawa botol minum sendiri, dan menjaga kebersihan ruang bersama. Bumi tidak meminta kita menjadi pahlawan lingkungan cukup menjadi manusia yang disiplin dan menghargai tempat yang kita pijak. Di sinilah mahasiswa seharusnya tampil, bukan sebagai penonton, tetapi sebagai agen perubahan.

Ibnu Abdul Aziz, Mahasiswa S1 Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta