Konten dari Pengguna

Tumpukan Sampah Jakarta: Persoalan Lingkungan yang Tak Kunjung Usai

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ibrahim baaqir l munawir tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

(sumber foto: pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
(sumber foto: pribadi)

Jakarta bukan hanya dikenal sebagai pusat aktivitas ekonomi dan pemerintahan, tetapi juga menghadapi persoalan lingkungan yang terus menjadi perhatian, salah satunya sampah yang menumpuk. Di tengah padatnya aktivitas masyarakat, sampah rumah tangga, plastik kemasan, dan berbagai jenis limbah lainnya menjadi bagian dari persoalan sehari-hari yang membutuhkan penanganan serius.

Seperti terlihat dalam foto, tumpukan sampah memenuhi lahan terbuka yang dikelilingi pepohonan. Berbagai jenis sampah bercampur menjadi satu, mulai dari plastik hingga barang-barang bekas. Sampah juga berserakan di tanah sekitar tumpukan utama. Pemandangan ini memperlihatkan bagaimana sampah yang tidak tertangani dengan baik dapat mengganggu kebersihan dan mengurangi kenyamanan lingkungan.

Persoalan tersebut bukan sekadar masalah pemandangan yang kurang sedap. Sampah yang dibiarkan menumpuk berpotensi menimbulkan bau tidak sedap, mengundang hama, dan mencemari lingkungan. Ketika sampah menyumbat saluran air, risiko genangan dan banjir juga dapat meningkat. Karena itu, pengelolaan sampah perlu menjadi perhatian bersama, terutama di wilayah perkotaan dengan jumlah penduduk dan aktivitas yang tinggi.

Berdasarkan data Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang dipublikasikan pada 31 Agustus 2026, Jakarta menghasilkan lebih dari 9.000 ton sampah setiap hari, atau sekitar 3,17 juta ton per tahun. Sementara itu, sekitar 3,17 juta ton sampah juga tercatat dalam data tahun 2024, berdasarkan dokumen pengelolaan sampah Jakarta. Besarnya volume tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah membutuhkan penanganan yang berkelanjutan, bukan sekadar pengangkutan dari satu tempat ke tempat lain.

Selama ini, TPST Bantargebang di Bekasi menjadi salah satu tempat utama penampungan sampah dari Jakarta. Namun, ketergantungan pada tempat pemrosesan akhir membuat pengurangan sampah dari sumbernya menjadi semakin penting. Jika jumlah sampah yang dihasilkan terus meningkat tanpa diimbangi pengolahan yang memadai, beban tempat pemrosesan akhir akan semakin berat.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah membiasakan masyarakat memilah sampah sejak dari rumah. Sampah organik, seperti sisa makanan, dapat diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik tertentu dapat dikumpulkan untuk didaur ulang. Penggunaan barang sekali pakai juga perlu dikurangi agar jumlah sampah yang dihasilkan setiap hari tidak terus bertambah.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri melaporkan bahwa gerakan pemilahan sampah yang dimulai pada Mei 2026 menunjukkan perkembangan. Persentase rumah tangga yang memilah sampah meningkat dari 5,31 persen menjadi 23,14 persen. Selain itu, volume sampah yang dikirim ke TPST Bantargebang dilaporkan berkurang sekitar 500 ton per hari. Meski demikian, upaya tersebut masih membutuhkan konsistensi agar dampaknya dapat dirasakan dalam jangka panjang.

Menurut penulis, masalah sampah di Jakarta tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah atau petugas kebersihan.Masyarakat juga perlu menyadari bahwa kebiasaan membuang sampah sembarangan dan kurangnya kepedulian terhadap pemilahan sampah dapat memperburuk keadaan. Di sisi lain, pemerintah harus memastikan fasilitas pengangkutan dan pengolahan sampah tersedia secara memadai serta menjangkau berbagai wilayah.

Pada akhirnya, tumpukan sampah bukan hanya persoalan kebersihan, melainkan juga gambaran tentang bagaimana manusia memperlakukan lingkungannya. Perubahan tidak harus dimulai dari tindakan besar. Membawa tas belanja sendiri, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah, dan membuangnya pada tempat yang sesuai merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan setiap hari.

Jakarta membutuhkan lingkungan yang bersih dan nyaman bagi masyarakatnya. Namun, kondisi tersebut tidak akan terwujud hanya dengan mengandalkan petugas kebersihan. Diperlukan kerja sama antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat agar sampah tidak terus menjadi persoalan yang diwariskan dari hari ke hari.