Konten dari Pengguna

Anak Panti Nggak Cuma Butuh Nasi Bungkus

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ifalah Timur Sundayani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Anak-anak panti yang sedang mengikuti kegiatan bersama (dokumentasi pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Anak-anak panti yang sedang mengikuti kegiatan bersama (dokumentasi pribadi)

Tentang Identitas, Psikologi, dan Hal-hal yang jarang kita dengar dari balik tembok Panti Asuhan

Setiap kali kita berkunjung ke panti asuhan, banyak dari kita membawa niat baik: membawakan makanan, mainan, atau pakaian. Panti asuhan bukan sekedar tempat tinggal, Ia adalah tempat tumbuh bagi anak-anak yang ditinggalkan.

Di dalamnya, mereka hidup berdampingan, dan belajar bertahan di Tengah keterbatasan. Satu hal penting yang sering kita pertanyakan:

bagaimana mereka membentuk identitas diri di Tengah lingkungan yang semuanya serba "Bersama"? Dalam konteks ini, Riset Psikologi menunjukan bahwa anak-anak panti membutuhkan ruang untuk tetap merasa sebagai individu, bukan hanya bagian dari keramaian demi menjaga kesehatan mental dan perkembangan diri.

Siapa Aku di Tengah Banyaknya “Kita”?

Anak-anak yang tumbuh di panti seringkali tak punya figur orang tua secara utuh bahkan mungkin sama sekali tidak. Tidak ada rumah yang benar-benar milik sendiri. Ketika semua hal harus dibagi: kamar, pakaian, perhatian, bahkan mimpi. Mereka tumbuh tanpa ruang pribadi yang cukup. Label "anak panti" yang terus menempel, bahkan saat mereka memulai menjalani hidup di luar. Stigma datang pelan-pelan, seolah mereka baru dianggap berharga kalau sudah "sukses" atau "kuat" di mata Masyarakat.

Bukan Lemah, Tapi Manusia

Banyak dari kita terinspirasi dari kisah "anak panti yang sukses". Tapi, apakah kita pernah berfikir atau bertanya: bagaimana dengan mereka yang yang tidak berhasil untuk menjadi "insipirasi"? apakah suara mereka akan tetap pantas didengar? Mereka bukan karakter dalam film motivasi. Mereka adalah manusia, sama seperti kita, mereka bisa kecewa, marah, takut, sedih, dan jatuh. Tapi di sekeliling mereka kadang terlalu menuntut untuk selalu kuat, sabar, dan tahu diri.

Donasi Emosi, Bukan Hanya Materi

Donasi makanan, baju, dan uang tentu penting. Tapi lebih dari itu, mereka juga sangat butuh donasi tak terlihat: empati, waktu, dan kesempatan untuk bicara. Banyak panti yang belum mempunyai tenaga pendamping psikologis. Masih sedikit yang menyediakan ruang diskusi bebas bagi anak-anak untuk mengespresikan identitas dan emosi mereka.

Kita bisa mulai dari hal-hal yang sederhana yaitu mendengarkan bukan hanya bertanya "kelas berapa sekarang? tapi juga

"kamu suka apa?"

"kalau lagi sedih, biasanya gimana?"

"kamu pengen jadi apa dimasa depan?"

Lebih dari tembok, mereka butuh jembatan

Panti Asuhan seharusnya bukan menjadi tembok yang memisahkan anak-anak dari dunia luar. Tapi jembatan yang menghubungkan mereka dengan masa depan yang setara. Dan jembatan itu hanya bisa dibangun jika kita berhenti melihat mereka sebagai anak panti semata, dan mulai melihat mereka sebagai pribadi seutuhnya. Padahal menurut Kementerian Sosial Tahun 2019, dari lebih 106.000 Anak panti di Indonesia, 90 % masih memiliki Orang Tua. Mereka tidak ditinggalkan, mereka hanya disingkirkan dari akses Hidup yang layak.

Karna anak-anak itu nggak cuma butuh nasi bungkus setiap kali kita mampir. Mereka hanya butuh diakui, dimengerti, dan ditemani tumbuh tanpa label.