Konten dari Pengguna

Rahasia Wirausaha Gen Z: Konten menggunakan AI

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Iftahul Jannah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Adaptasi UMKM di Era Kecerdasan buatan

Oleh: Iftahul Jannah, Azizah Ainun Mari'a (Universitas 17 Agustus 1945) PJMK: Irda Agustin Kustiwi

Ilustrasi AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi AI

UMKM adalah tulang punggung ekonomi Indonesia. Data pemerintah pada 2022 mencatat ada sekitar 64,2 juta UMKM yang menyumbang 61% PDB nasional. Namun di lapangan khususnya kota besar seperti Surabaya, terlihat kontras yang menarik setiap hari.

Sebagai contoh nyata ada penjual es teh di dekat kampus yang sudah pakai QRIS dan cek stok dari HP. Sementara di gang sebelahnya, ada Ibu penjual kue yang masih catat utang di buku tulis dan bingung cara bikin status WhatsApp biar dagangannya laku. Jurang digital ini menjadi fakta bahwa teknologi larinya sudah kencang, tapi tidak semua UMKM ikut berlari.

Di sinilah peran Artificial Intelligence (AI) masuk. ChatGPT, Canva AI, Gemini, semua menawarkan kemudahan. Bikin logo gratis, bikin caption TikTok 10 variasi dalam 5 menit, balas chat pelanggan otomatis. Pertanyaannya: ini peluang emas, atau ancaman baru?

Ancamannya nyata jika pelaku usaha hanya diam.

Pertama, persaingan berpotensi menjadi tidak adil. Bayangkan dua toko hijab online di Pasar Keputran. Toko A foto produk pakai HP seadanya, tulis deskripsi manual. Toko B pakai AI untuk hapus background, bikin foto model virtual, dan bikin caption "OOTD kampus auto slay, thrift kece cuma 35k". Toko B jelas lebih cepat. UMKM bisa kalah bukan karena produknya jelek, tapi karena prosesnya adaptasi digital yang lambat.

Kedua, risiko hilangnya sentuhan manusia. Kekuatan UMKM kita itu terletak pada kedekatan personal. Seorang penjual pecel yang hafal pelanggannya suka pedas atau tidak. Jika semua interaksi diserahkan ke robot, rasa otentik dan kearifan lokal itu bisa hilang. Orang beli pecel karena cerita dibaliknya, bukan karena caption buatan AI.

Ketiga, hambatan literasi. Kata "prompt" saja sudah terdengar rumit bagi banyak pelaku UMKM di kampung. Ada rasa takut: takut biaya mahal, takut data bocor, takut salah pencet.

Namun jika diterapkan dengan benar, peluangnya jauh lebih besar.

AI bukan untuk menggantikan wirausahawan, tapi untuk membantu pekerjaan yang berulang.

1.Dalam aspek operasional. Banyak warung rugi karena salah prediksi stok. Pelaku usaha bisa konsultasi dengan AI secara sederhana: "Saya punya warung kopi jual 30 cup sehari, berapa stok susu yang harus dibeli seminggu biar tidak basi?" AI memberi gambaran awal, sementara keputusan akhir di tangan manusia guna mengurangi pemborosan.

2.Di bidang Pemasaran (marketing) yang selama ini membutuhkan modal besar, butuh bayar desainer untuk logo dan foto bagus. Sekarang cukup pakai Canva AI yang gratis. Contoh nyata dilakukan pelaku usaha jualan thrift di WTC Surabaya, fotonya pakai HP, background dihapus pakai AI, caption dibuatkan. Konten jadi konsisten dan jangkauan naik tanpa harus keluar modal besar.

3.Dari sisi keuangan. Seringkali UMKM mengabaikan pembukuan karena dianggap rumit. Padahal pelaku usaha bisa minta AI: "Buatkan template pembukuan sederhana untuk jualan gorengan modal 500 ribu." Dalam hitungan detik jadi tabelnya. UMKM jadi punya data, bukan cuma feeling.

Namun ada yang tidak boleh diabaikan. AI tetap bisa melakukan kesalahan analisis, perhitungan stoknya bisa meleset, captionnya bisa tidak sesuai. Dan yang paling krusial: jangan pernah memasukkan data pelanggan, KTP, atau keuangan pribadi ke dalam AI sembarangan. Pintar pakai AI itu bukan cuma pintar bikin perintah, tapi pintar memilah data apa yang boleh dibagikan.

Bagi UMKM harus mulai dari mana? Terdapat 3 langkah kecil yang bisa diterapkan:

Pertama, memanfaatkan fasilitas gratis. Optimalkan ChatGPT untuk ide konten, pakai Gemini untuk cek harga kompetitor, pakai Canva untuk desain. Tanpa perlu langsung berlangganan versi berbayar.

Kedua, pembagian peran yang jelas. Manusia memegang kendali atas cerita, rasa, dan hubungan emosional dengan pelanggan. AI pegang bagian yang repetitif: balasan pesan, rekap data, desain dasar.

Ketiga, belajar melalui komunitas. Pelaku usaha dapat memanfaatkan fasilitas yang sekarang banyak sediakan pelatihan gratis dari Dinas Koperasi dan komunitas UMKM digital. Belajar bersama terasa jauh lebih ringan.

Pada akhirnya, di era digital atau AI ini, UMKM yang bertahan bukan yang paling besar modalnya, melainkan yang paling cepat beradaptasi. Teknologi boleh berubah, tetapi kualitas produk, kedekatan dengan pelanggan, dan ciri khas usaha tetap harus dijaga.

AI ibarat pisau. Di tangan yang tepat, bisa membantu UMKM naik kelas tanpa kehilangan jati dirinya.