Konten dari Pengguna

Hari Santri: Mengabdi Untuk Negeri atau Sekadar Seremoni

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ikhwanuddin Fauzy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Potret para santri di acara Hari Santri Nasional Kota Tasikmalaya 22 oktober 2026 ( Foto: Ikhwanuddin Fauzy).
zoom-in-whitePerbesar
Potret para santri di acara Hari Santri Nasional Kota Tasikmalaya 22 oktober 2026 ( Foto: Ikhwanuddin Fauzy).

Setiap tanggal 22 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri Nasional sebagai bentuk penghargaan terhadap peran ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Penetapan tanggal tersebut berkaitan erat dengan Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama pada 22 Oktober 1945, yang menjadi salah satu bagian penting dari sejarah perjuangan bangsa (NU Online, 2019).

Namun, setelah rangkaian peringatan Hari Santri Nasional usai, muncul pertanyaan yang patut direnungkan: apakah semangat santri hanya hidup ketika upacara dan berbagai kegiatan peringatan berlangsung, atau benar-benar hadir dalam perilaku sehari-hari?

Menurut saya, Hari Santri seharusnya tidak berhenti sebagai perayaan tahunan. Peringatan ini merupakan pengingat bahwa santri memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga agama, memperkuat persatuan, dan berkontribusi dalam pembangunan negeri. Semangat Dari Santri Untuk Negeri bukan sekadar slogan, melainkan komitmen untuk membawa ilmu, akhlak, dan pengabdian ke tengah masyarakat.

Meneladani Perjuangan Ulama dan Santri

Sejarah mencatat bahwa ulama dan santri memiliki peran penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Salah satu tokoh sentral dalam sejarah tersebut adalah Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama, yang turut menggerakkan semangat perjuangan melalui Resolusi Jihad.

Peristiwa tersebut mengajarkan bahwa kecintaan terhadap agama tidak harus dipertentangkan dengan kecintaan terhadap tanah air. Keduanya dapat berjalan beriringan selama diwujudkan dalam tindakan yang membawa kemaslahatan.

KH Hasyim Asy'ari dikenal dengan ungkapan yang populer, “Hubbul wathan minal iman”, yang berarti cinta tanah air merupakan bagian dari iman. Ungkapan ini sering digunakan untuk menggambarkan semangat kebangsaan yang tumbuh dalam tradisi pesantren. Dalam konteks perjuangan saat itu, semangat tersebut menjadi dorongan untuk mempertahankan kemerdekaan dan melawan penjajahan (NU Online, 2022).

Pada masa kini, perjuangan santri tidak selalu diwujudkan melalui perlawanan fisik. Tantangan zaman menuntut bentuk pengabdian yang berbeda, seperti memajukan pendidikan, memberantas kebodohan, membantu masyarakat miskin, menjaga lingkungan, melawan korupsi, dan menyebarkan informasi yang benar. Dengan demikian, semangat perjuangan para ulama dan santri tetap relevan dalam kehidupan modern.

Akhlakul Karimah sebagai Identitas Santri

Salah satu nilai terpenting yang harus melekat pada diri santri adalah akhlakul karimah, yaitu perilaku mulia yang mencerminkan ajaran Islam. Ilmu yang tinggi tidak akan memberikan manfaat secara maksimal apabila tidak disertai kejujuran, kesantunan, kerendahan hati, dan tanggung jawab.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur'an: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan...” (QS. An-Nahl [16]: 90).

Ayat tersebut menegaskan pentingnya keadilan dan kebajikan dalam kehidupan manusia. Bagi santri, nilai ini dapat diwujudkan melalui sikap menghormati guru dan orang tua, membantu sesama, bersikap adil, serta menjaga ucapan dan tindakan.

Di tengah perkembangan media sosial, akhlak santri juga diuji oleh kemudahan menyebarkan informasi dan menyampaikan pendapat. Santri seharusnya menjadi teladan dalam menjaga lisan, menghindari fitnah, tidak menyebarkan berita bohong, dan memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya. Nilai tabayun menjadi penting agar teknologi digunakan untuk menyebarkan manfaat, bukan permusuhan.

Dengan demikian, identitas santri tidak cukup ditunjukkan melalui pakaian, simbol, atau kemampuan membaca kitab kuning. Identitas tersebut harus tercermin dalam perilaku nyata yang memberikan rasa aman, kepercayaan, dan manfaat bagi orang lain.

Menghidupkan Amanah dan Keikhlasan dalam Pengabdian

Islam mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki tanggung jawab yang harus dilaksanakan dengan amanah. Nilai ini sangat penting bagi santri yang kelak menjadi pendidik, pemimpin, pengusaha, aparatur negara, maupun anggota masyarakat.

Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya...” (QS. An-Nisa' [4]: 58).

Pesan tersebut mengingatkan bahwa jabatan dan kepercayaan bukanlah sarana untuk mencari keuntungan pribadi semata, melainkan tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan. Santri yang mengamalkan nilai amanah akan berusaha bersikap jujur, menolak korupsi, menghormati hak orang lain, dan menjalankan tugas dengan sungguh-sungguh.

Pengabdian juga harus dilandasi keikhlasan. Membantu masyarakat tidak seharusnya dilakukan hanya untuk memperoleh pujian atau pengakuan. Justru, nilai pengabdian terlihat ketika seseorang tetap berbuat baik meskipun tidak mendapatkan penghargaan.

Oleh sebab itu, kontribusi santri bagi negeri tidak harus selalu berupa jabatan tinggi atau prestasi besar. Mengajar anak-anak, membantu tetangga, mendampingi masyarakat, menjaga kebersihan lingkungan, dan memberikan pelayanan yang jujur merupakan bentuk pengabdian yang bermakna.

Pesan Ulama NU: Agama dan Nasionalisme Berjalan Bersama

Pandangan tentang hubungan agama dan nasionalisme juga disampaikan oleh KH Said Aqil Siroj, mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Dalam artikel NU Online mengenai cinta tanah air, pandangan beliau dirangkum melalui ungkapan: “agama tanpa nasionalisme akan menjadi ekstrem, sedangkan nasionalisme tanpa agama akan kering” (NU Online, 2022).

Pandangan tersebut memberikan pelajaran bahwa kehidupan beragama dan kecintaan terhadap bangsa seharusnya saling menguatkan. Agama memberikan landasan moral agar kehidupan berbangsa dijalankan dengan keadilan dan kemanusiaan, sedangkan kecintaan terhadap tanah air mendorong umat untuk menjaga persatuan serta berkontribusi bagi kepentingan bersama.

Santri perlu menjadi generasi yang teguh dalam keyakinan, terbuka terhadap ilmu pengetahuan, menghargai perbedaan, dan mampu bekerja sama dengan berbagai kalangan. Persatuan tidak mengharuskan semua orang memiliki pandangan yang sama, tetapi menuntut kesediaan untuk menghormati perbedaan dan mengutamakan kemaslahatan bersama.

Santri di Era Digital: Berilmu, Adaptif, dan Bermanfaat

Perkembangan teknologi membawa peluang sekaligus tantangan bagi generasi muda. Santri tidak cukup hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga perlu mengembangkan literasi digital, keterampilan komunikasi, kemampuan berpikir kritis, dan pengetahuan tentang perkembangan ilmu pengetahuan.

Dengan kemampuan tersebut, santri dapat memanfaatkan teknologi untuk berdakwah, mengembangkan usaha, menyebarkan pendidikan Islam yang moderat, serta membantu menyelesaikan persoalan masyarakat. Pesantren pun dapat menjadi ruang lahirnya generasi yang mampu memadukan kekuatan tradisi keilmuan Islam dengan keterampilan yang dibutuhkan pada masa kini.

Namun, kemajuan teknologi harus tetap disertai tanggung jawab moral. Santri perlu memastikan bahwa dakwah di ruang digital dilakukan dengan santun, berdasarkan pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan, dan tidak merendahkan kelompok lain.

Di sinilah pentingnya menghidupkan prinsip khairunnas anfa'uhum linnas, yang populer dimaknai sebagai sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Ungkapan ini sering dikutip dalam tradisi dakwah untuk menekankan pentingnya kemanfaatan sosial. Santri hendaknya menjadikan kemajuan ilmu dan teknologi sebagai sarana memperluas manfaat, bukan sekadar mengejar popularitas.

Potret peringatan hari santri nasional di Kota Tasikmalaya (Foto oleh saya pribadi).

Setelah Hari Santri, Saatnya Membuktikan Pengabdian

Peringatan Hari Santri Nasional memang telah berlalu, tetapi tanggung jawab santri terhadap agama dan negeri tidak berakhir bersama penutupan acara. Justru setelah peringatan tersebut, semangat kesantrian perlu dibuktikan melalui tindakan yang konsisten.

Santri dapat memulainya dari lingkungan terdekat: menjaga kedisiplinan, menghormati perbedaan, membantu masyarakat yang membutuhkan, memerangi informasi palsu, serta mengembangkan ilmu yang dimiliki. Lembaga pesantren juga dapat terus memperkuat pendidikan karakter, keterampilan, kewirausahaan, dan kepedulian sosial agar santri mampu menghadapi tantangan zaman.

Masyarakat pun perlu memandang santri sebagai bagian penting dari pembangunan bangsa. Kolaborasi antara pesantren, lembaga pendidikan, pemerintah, dan masyarakat dapat membuka ruang yang lebih luas bagi santri untuk berkontribusi dalam bidang pendidikan, sosial, ekonomi, budaya, dan teknologi.

Pada akhirnya, Dari Santri Untuk Negeri bukan sekadar rangkaian kata yang indah, melainkan seruan untuk menjadikan ilmu sebagai penerang, akhlak sebagai pedoman, dan pengabdian sebagai bukti keimanan. Santri diharapkan mampu menjaga warisan perjuangan ulama sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat masa kini.

Negeri ini membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara spiritual, jujur dalam tindakan, dan peduli terhadap sesama. Karena itu, semangat Hari Santri harus terus hidup sepanjang tahun. Dari pesantren lahir ilmu, dari ilmu tumbuh akhlak, dan dari akhlak terwujud pengabdian. Untuk agama, untuk kemanusiaan, dan untuk Indonesia.