Dari Kegelisahan Diaspora Menuju Langkah Strategis dan Persatuan Akademik
Tulisan dari Muhamad Fathi Ilmy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Muara Refleksi PPI Tunisia: Dari Kegelisahan Diaspora Menuju Langkah Strategis dan Persatuan Akademik
TUNIS — Dalam rangka memperingati Milad ke-32, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tunisia menyelenggarakan sebuah forum reflektif bertajuk Muara Refleksi: “Refleksi Kritis Menuju Langkah Strategis”. Kegiatan ini tidak sekadar seremoni tahunan, melainkan ruang dialektika terbuka bagi diaspora Indonesia untuk menyuarakan gagasan, kritik, evaluasi, serta harapan demi masa depan PPI Tunisia yang lebih inklusif, progresif, dan berdampak.
Forum yang digelar di Sekretariat PPI Tunisia tersebut menghadirkan diskusi mendalam mengenai realitas kehidupan mahasiswa Indonesia di Tunisia realitas yang kerap luput dari permukaan: kesenjangan akademik, hambatan bahasa, tekanan ekonomi, persoalan kesehatan, hingga lemahnya solidaritas internal. Kegiatan ini menjadi semacam “muara” tempat berbagai keresahan individu bertemu dan dirumuskan menjadi arah kolektif.
Salah satu pemaparan kunci disampaikan oleh Saudara Hilmy Dzulfikar Rusdy. Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya reposisi identitas mahasiswa diaspora: bukan hanya sebagai pelajar administratif, melainkan sebagai scholar sekaligus intelektual.
Ia membedakan secara tegas antara scholar dan intelektual. Seorang scholar berfokus pada penguasaan disiplin ilmu secara teknis dan akademik, berkutat pada teks, riset, dan capaian formal. Sementara intelektual melampaui itu: ia hadir sebagai agen sosial, mampu membaca realitas, menyuarakan keadilan, serta menghubungkan ilmu dengan problem masyarakat. Tanpa dimensi intelektual, akademik berisiko menjadi menara gading yang terisolasi; tanpa fondasi keilmuan, intelektualisme menjadi retorika kosong.
Menurutnya, komunitas diaspora idealnya melahirkan keduanya sekaligus figur yang unggul secara akademik dan peka secara sosial.
Namun realitas di lapangan menunjukkan adanya tantangan mentalitas kolektif, salah satunya fenomena crab mentality: kecenderungan saling menarik ke bawah ketika seseorang berprogres. Alih-alih tumbuh bersama, energi komunitas justru terkuras oleh rivalitas kecil, prasangka, dan fragmentasi. Situasi ini memperlemah solidaritas, bahkan menimbulkan dikotomi antarkelompok.
Padahal, setiap diaspora memiliki common denominator nilai dan pengalaman bersama yang semestinya menjadi perekat: sama-sama perantau, sama-sama berjuang di negeri orang, sama-sama menghadapi tekanan adaptasi budaya dan akademik. Kesamaan nasib ini seharusnya menjadi fondasi empati dan kerja kolektif. Sayangnya, nilai persatuan tersebut belum sepenuhnya terimplementasi, termasuk dalam pengamalan sepuluh butir nilai persatuan yang selama ini digaungkan secara normatif namun minim praksis.
Forum juga memetakan tantangan nyata yang dihadapi mahasiswa Indonesia di Tunisia. Dari sisi akademik, language barrier masih menjadi kendala utama. Bahasa Arab fusha, dialek ‘ammiyah Tunisia, hingga literatur Prancis kerap menghambat proses pembelajaran dan riset. Tidak sedikit mahasiswa yang tertinggal bukan karena kurang kemampuan, melainkan kurang dukungan sistematis.
Secara ekonomi, keterbatasan finansial menjadi beban laten. Biaya hidup, kebutuhan akademik, dan fluktuasi nilai tukar menempatkan sebagian mahasiswa pada kondisi rentan. Sementara di sektor kesehatan, akses informasi, layanan, dan pendampingan masih belum terintegrasi, sehingga persoalan kesehatan sering ditangani secara individual, bukan kolektif.
Dalam konteks inilah peran PPI Tunisia turut disorot secara kritis. Selama ini, organisasi kerap dipersepsikan hanya sebatas Event Organizer aktif menyelenggarakan kegiatan seremonial, namun belum sepenuhnya hadir sebagai lembaga advokasi dan perumus kebijakan. Padahal, sebagai organisasi payung, PPI diharapkan bertransformasi menjadi institusi yang mampu merancang policy, sistem pendampingan akademik, bantuan darurat finansial, pusat konsultasi bahasa, hingga jaringan kesehatan.
Tanpa transformasi tersebut, dampak permasalahan akan meluas layaknya domino effect: satu persoalan akademik memicu stres ekonomi, berlanjut pada kesehatan mental, lalu berujung pada menurunnya produktivitas. Di saat yang sama, dikotomi antarkelompok hanya akan memperdalam jurang perpecahan.
Melalui Muara Refleksi, peserta sepakat bahwa PPI Tunisia harus kembali pada ruhnya: bukan sekadar penyelenggara acara, melainkan rumah bersama—wadah advokasi, penguatan akademik, serta penjaga nilai persatuan diaspora. Sebuah organisasi yang bukan hanya merayakan kebersamaan, tetapi benar-benar mengokohkannya dalam kebijakan nyata.
Milad ke-32 ini pun menjadi momentum kontemplatif. Bukan sekadar menambah usia organisasi, melainkan menegaskan kedewasaan arah gerak: dari seremonial menuju substansial, dari kegiatan menuju kebijakan, dari individu menuju kolektivitas.
Karena pada akhirnya, diaspora yang kuat bukan ditentukan oleh banyaknya acara, melainkan oleh kokohnya solidaritas dan kualitas intelektual anggotanya.

