Konten dari Pengguna

Karya Anak Indonesia di Negeri Perantauan

Novel Aku yang Kau Inginkan Karya Muhamad Fathi Ilmy
zoom-in-whitePerbesar
Novel Aku yang Kau Inginkan Karya Muhamad Fathi Ilmy

Muhamad Fathi Ilmy adalah potret seorang manusia yang tumbuh dari kegamangan menuju keberanian. Ia bukan anak yang sejak awal merasa pantas berdiri di tengah sorot. Ia lahir dan besar dalam sunyi—pemalu, tertutup, sering merasa bodoh, pengecut, dan payah di hadapan standar dunia. Sejak bangku SD di SDIT Sabilul Huda Cirebon, ia sudah akrab dengan rasa tidak percaya diri, dengan kecenderungan menunduk ketika dunia menuntutnya menatap lurus ke depan.

Perjalanan itu berlanjut ke MTs Amanatul Ummah Surabaya, tempat ia mulai benar-benar ditempa. Disiplin yang keras, tuntutan akademik dan sosial, serta jarak dari rumah membuatnya berhadapan langsung dengan dirinya sendiri. Di sana ia sering merasa tertinggal, merasa tidak cukup, dan berkali-kali ingin menyerah. Namun justru dari tekanan itulah ia belajar satu hal penting: bertahan pun adalah sebuah bentuk keberanian.

Di MA Al-Hikmah 2 Brebes, luka-luka itu tidak serta-merta hilang. Ia masih pemalu, masih sering ragu, masih kerap merasa tidak pantas. Namun perlahan, rasa sakit itu berubah menjadi ketekunan. Ia belajar bangkit setelah jatuh, belajar menerima hukuman sebagai proses, dan belajar bahwa kegagalan tidak selalu berarti akhir. Di ruang-ruang sunyi—terutama sepertiga malam—ia berdialog dengan Tuhan, menangis tanpa ditanya, dan menemukan kekuatan yang tidak ia sadari sebelumnya.

Fathi adalah pribadi yang keras pada dirinya sendiri, terlalu jujur dalam menilai kekurangan. Namun justru kejujuran itulah yang membentuk karakternya. Ia tidak tumbuh dari pujian, melainkan dari luka. Ia tidak ditempa oleh kemudahan, tetapi oleh proses panjang yang sering menyakitkan. Ia belajar bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak rapuh, melainkan berani tetap melangkah meski rapuh.

Ketika langkahnya akhirnya sampai ke Tunisia sebagai diaspora Indonesia, perjalanan itu mencapai babak baru. Jauh dari tanah kelahiran, ia justru lebih dekat dengan dirinya sendiri. Di negeri asing, ia belajar berinteraksi, belajar menyapa dunia, dan belajar gagal tanpa membenci diri sendiri. Tunisia bukan sekadar tujuan geografis, melainkan ruang penemuan jati diri. Di sanalah ia memahami bahwa hidup bukan tentang memenuhi harapan orang lain, melainkan tentang berdamai dengan proses menjadi diri sendiri.

Menulis kemudian menjadi jalan pulangnya. Muhamad Fathi Ilmy menulis bukan untuk terlihat hebat, bukan untuk mengejar pengakuan, melainkan untuk jujur. Dari sanalah lahir Aku yang Kau Inginkan—sebuah catatan batin tentang pencarian identitas, tentang pergulatan antara menjadi “yang diinginkan orang lain” dan keberanian untuk menjadi diri sendiri. Tulisan-tulisannya bernapas karena lahir dari pengalaman yang hidup: air mata, doa, kegagalan, dan harapan kecil yang terus dijaga.

Ia bukan tokoh besar, bukan pula pahlawan tanpa cela. Ia adalah manusia biasa yang terus berproses. Sosok yang pernah merasa tidak layak, namun memilih bertumbuh. Yang pernah ingin menyerah, namun tetap bertahan. Kekuatan Muhamad Fathi Ilmy tidak terletak pada kesempurnaan, melainkan pada keberanian untuk jujur pada dirinya sendiri dan tetap berjalan, meski pelan.

Dan di sanalah makna dirinya berdiri: menjadi aku—bukan bayangan harapan orang lain, melainkan manusia utuh yang menerima luka, merawat harapan, dan memilih untuk menjadi diri sendiri.