Amerika di Ambang Krisis Fiskal: Ancaman Baru bagi Stabilitas Ekonomi Global

Siswa Penabur Junior College Kelapa Gading
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ilyas Zaki Widjaja tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Amerika Serikat sedang berada di sebuah persimpangan fiskal. Dengan utang negara yang membengkak hingga triliunan, kita patut bertanya: apakah perekonomian global berada di ambang guncangan ekonomi yang dipicu oleh utang? Angkanya sangat menyeramkan. Utang federal sudah lebih dari $37 triliun. Untuk memberi gambaran yang besar, itu sudah melewati valuasi ekonomi AS yang berada di kisaran $30 triliun. Selain itu, ada juga defisit yang terus meningkat, biaya bunga yang melonjak, dan kepercayaan yang rapuh terhadap dominasi dolar. Ini bukan sekadar permasalahan domestik, tetapi berpotensi mengubah perekonomian di seluruh dunia.
Per Juni 2025, total utang federal AS mencapai $36.2 triliun, meningkat 31% sejak tahun 2019. Pada awal Agustus, utang tersebut telah melampaui $37 triliun. Congressional Budget Office (CBO) memproyeksikan bahwa dengan kebijakan saat ini, utang publik akan meningkat dari sekitar 99% PDB pada 2024 menjadi 116% pada 2034, dan kemungkinan melonjak hingga 172% pada 2054.
Undang-undang yang disebut One Big Beautiful Bill Act, yang disahkan di bawah Presiden AS Donald Trump, mempercepat tren ini, menambah $3 triliun utang nasional selama satu dekade sekaligus memangkas pendapatan hampir $4.5 triliun.
Pembayaran utang pun meroket. Pembayaran utang federal kini menelan biaya sekitar $1 triliun per tahun, bahkan melampaui pengeluaran pertahanan. Bunga saja menghabiskan 17% dari total belanja federal pada 2025.
Menurut saya, ketidakseimbangan fiskal ini memicu kekhawatiran investor. Lembaga pemeringkat menyuarakan kekhawatiran yang nyata. Moody’s menurunkan peringkat kredit AS dari Aaa menjadi Aa1 pada Mei 2025. Skeptisisme pasar pun terlihat dari kurva imbal hasil yang melebar. Suku bunga jangka pendek turun karena harapan pemangkasan suku bunga oleh The Fed, tetapi imbal hasil Treasury jangka panjang meningkat—sebuah sinyal jelas meningkatnya kekhawatiran fiskal.
Mengapa Masyarakat Perlu Memperhatikan Hal Ini?
1. Dominasi Dolar Terancam
Status cadangan global dolar bergantung pada kepercayaan masyarakat dan institusi terhadap keuangan AS. Namun, pakar ekonomi seperti Kenneth Rogoff memperingatkan bahwa utang yang tak terkendali, dikombinasikan dengan disfungsi politik, berisiko melemahkan kepercayaan mendasar tersebut—dan pada akhirnya, melemahkan dominasi global dolar.
2. Suku Bunga Lebih Tinggi dan Pertumbuhan Melambat di Seluruh Dunia
Krisis fiskal di dalam negeri dapat memaksa AS untuk menaikkan suku bunga, yang akan mendorong kenaikan suku bunga global. Negara-negara berkembang yang memiliki beban utang tinggi akan menanggung kerugian yang jauh lebih besar dibanding negara maju.
3. Arus Modal yang Terganggu
Investor asing memegang porsi signifikan dari utang AS. Sekitar $9 triliun obligasi Treasury—atau sekitar seperempat hingga sepertiga dari total utang—disimpan di luar negeri. Setiap penurunan kepercayaan atau kesalahan kebijakan dapat memicu capital flight, volatilitas mata uang, dan guncangan keuangan global.
Brookings mendefinisikan krisis fiskal sebagai penurunan mendadak permintaan obligasi pemerintah AS, yang memicu lonjakan suku bunga, anjloknya dolar, dan tekanan besar pada pasar ekuitas. Para ahli seperti Jamie Dimon dan Rogoff memperingatkan bahwa kombinasi defisit struktural dan kebuntuan politik membuat skenario seperti itu semakin mungkin terjadi. Ditambah dengan proyeksi akumulasi utang sekitar $1 triliun setiap lima bulan—dua kali lipat dari laju sebelumnya—kita melihat eskalasi cepat yang menyisakan sedikit ruang untuk koreksi.
Krisis utang AS bukanlah masalah domestik yang berdiri sendiri, melainkan alarm global. Selama Amerika Serikat tetap menjadi pusat keuangan dunia, stabilitas fiskalnya—atau kerentanannya—akan bergema di seluruh dunia. Jika para pembuat kebijakan terus menempuh jalur yang tidak berkelanjutan ini, mereka berisiko memicu siklus umpan balik yang tidak stabil: kenaikan suku bunga, runtuhnya kepercayaan, pelemahan dolar, dan kemungkinan terjadinya resesi global yang dapat dibandingkan dengan The Great Depression tahun 1929.
Menurut observasi pribadi saya, untuk mencegah bencana diperlukan komitmen kuat dari para pembuat kebijakan seperti The Fed. Selain itu, bagi kita semua, langkah yang bijak adalah bersiap-siap dengan menarik sebagian atau seluruh investasi dari pasar modal dan memindahkannya ke aset-aset yang lebih stabil seperti emas atau reksa dana pasar uang (RDPU). Jika pemerintah AS tidak mengambil tindakan terhadap masalah ini, negara tersebut tidak hanya mempertaruhkan kesehatan ekonominya, tetapi juga stabilitas sistem keuangan global secara keseluruhan.
“History doesn’t repeat itself, but it often rhymes.” – Mark Twain
