Konten dari Pengguna

Di Balik Toga Wisuda: Menagih Janji Integritas Sarjana

Imam Mashudi Latif

Imam Mashudi Latif

Dosen Universitas Darul 'Ulum Jombang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Imam Mashudi Latif tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Wisudawan Universitas Darul 'UIum (dokumen pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Wisudawan Universitas Darul 'UIum (dokumen pribadi)

Setiap kali musim wisuda tiba, panggung pertunjukan akademik selalu dipenuhi oleh pemandangan yang serupa: kibaran toga, deretan karangan bunga, senyum haru para orang tua, serta jepretan kamera yang mengabadikan momen kelulusan. Halaman Universitas Darul ‘Ulum (Undar) Jombang pada Sabtu (10/10/2026) lalu—dalam wisuda ke-67 yang meluluskan 562 sarjana—juga menyajikan pemandangan yang tak jauh berbeda. Ada khidmat pembacaan ayat suci Al-Qur’an, laporan capaian akademik, hingga alunan lagu Bukit Berbunga karya Yonas Pareira yang mencairkan kekakuan protokoler.

Namun, ketika prosesi usai, toga dilepas, dan euforia perayaan mereda, sebuah pertanyaan mendasar kerap membayangi: setelah ini, apa?

Wisuda sejatinya bukanlah garis akhir perjalanan intelektual, melainkan muara awal ujian kehidupan yang sesungguhnya. Di tengah dinamika zaman yang kian riuh—perubahan teknologi yang cepat, ketatnya persaingan pasar kerja, serta pergeseran etika publik—ijazah dan gelar akademik hanyalah selembar kertas legalitas. Ia membuka pintu kesempatan, tetapi sama sekali tidak menjamin kualitas kontribusi sosial pemiliknya.

Antara Luaran Akademik dan Kebermanfaatan Publik

Secara institusional, tolok ukur kemajuan perguruan tinggi sering kali direduksi ke dalam angka-angka administratif: akreditasi, jumlah publikasi ilmiah, keberadaan jurnal bereputasi, hingga persentase kelulusan tepat waktu. Transformasi Undar yang kini mengelola 17 jurnal akademik tentu menjadi kabar baik bagi tradisi riset kampus. Namun, ukuran keberhasilan pendidikan tinggi yang paling hakiki tidak boleh berhenti di atas kertas.

Kualitas sebuah perguruan tinggi diuji dari sejauh mana ilmu pengetahuan yang diproduksi mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Apakah kecerdasan akademik para lulusannya berbanding lurus dengan kepekaan sosial mereka? Apakah gelar sarjana yang disandang melahirkan pribadi yang jujur dan tahan godaan, atau justru menambah deretan teknokrat yang terampil memanipulasi aturan demi kepentingan pribadi?

Pesan Rektor Undar, Prof. Dr. H. Amir Maliki Abitolkha, M.Ag., mengenai pentingnya meraih "ilmu yang berkah" menemukan relevansinya di sini. Keberkahan ilmu bukanlah jargon abstrak. Ia mewujud secara konkret ketika pengetahuan bertransformasi menjadi kemanfaatan sosial, ketika keahlian teknis berjalan seiring dengan integritas moral, dan ketika keberhasilan individu tidak menumpulkan empati terhadap sesama.

Merawat Trisula: Akhlak di Atas Ilmu

Di sinilah letak pentingnya merawat warisan pemikiran K.H. Musta’in Romly melalui konsep Trisula (tiga lembaga: pesantren, tarikat, dan perguruan tinggi) yang mengajarkan sifat taat, tekun, jujur, sabar, dan ikhlas. Konsep ini bukan sekadar warisan historis yang diulang-ulang dalam pidato tahunan atau dipajang sebagai simbol kelembagaan. Trisula adalah tawaran kerangka etis bagi generasi terdidik di tengah krisis keteladanan yang kerap melanda bangsa ini.

Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Dr. H. Tadjoer Ridjal, M.Pd., mengutip ungkapan Jawa yang sarat makna: “Rugi dunya ora dadi apa, rugi akhirat bakal cilaka.” Pesan reflektif ini menggarisbawahi prinsip utama pendidikan karakter: akhlak di atas ilmu.

Kecerdasan tanpa landasan moral yang kokoh berpotensi menjadi alat manipulasi yang merusak. Keahlian tinggi yang canggih tanpa dipandu oleh rasa tanggung jawab hanya akan berujung pada eksploitasi. Seseorang bisa saja memiliki pengetahuan yang luas dan kepakaran yang diakui, tetapi tanpa kejujuran dan kerendahan hati, gelar tinggi tersebut tidak otomatis menjadikannya manusia yang bijaksana.

Lingkungan kampus (habitat) yang konsisten membangun kebiasaan (habit) kejujuran dan disiplin pada akhirnya akan membentuk karakter (habitus) lulusan. Ketika para alumni melangkah ke masyarakat dan dunia kerja, karakter berakar etika inilah yang menjadi benteng pertahanan terbaik mereka.

Pesan dari Ketua Dewan Pembina Yayasan Undar, Dr. H. M. Mudjib Musta’in, S.H., M.Si., menghadirkan perenungan yang mendalam: dunia hanya membuat cerita; maka usahakanlah membuat cerita yang bagus.

Menulis "cerita yang bagus" setelah lulus kuliah tentu tidak selalu berarti harus memenangkan seluruh kompetisi hidup, meraih jabatan mentereng, atau mengumpulkan kekayaan finansial melimpah. Cerita yang bagus juga diukir oleh keberanian untuk tetap jujur di tengah lingkungan yang koruptif, keteguhan untuk membela nilai kebenaran di bawah tekanan, serta kesediaan untuk memberi kemanfaatan bagi lingkungan sekitar meskipun dalam cakupan yang sederhana.

Harapan Kepala LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur, Prof. Dr. Dyah Sawitri, S.E., M.M., agar para lulusan tidak sekadar menjadi pencari kerja (job seeker), melainkan juga pencipta lapangan kerja (job creator), mempertegas bahwa ruang pengabdian seorang sarjana sangatlah luas. Menjadi daya penggerak di masyarakat—baik melalui kewirausahaan, pemberdayaan komunitas, maupun pendidikan publik—adalah bukti nyata dari ilmu yang berdampak.

Pada akhirnya, ketika prosesi wisuda usai dan doa penutup dilantunkan, babak baru secara resmi dimulai. Pertanyaan paling krusial yang harus dijawab oleh setiap lulusan bukanlah seberapa cepat mereka mendapatkan pekerjaan pertama, melainkan: cerita seperti apa yang akan mereka tulis untuk masyarakat dengan ilmu yang telah digenggam?