Wajah Asli Kemiskinan di Tengah Klaim Pertumbuhan Ekonomi

Mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Imelia Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di bawah gelombang megah jalan tol Jakarta yang riuh oleh kendaraan mewah, Pak Slamet (54) mengumpulkan sisa-sisa botol plastik demi menyambung hidup. Di sudut kota ini, hasil jerih payahnya sering kali tak mencukupi untuk sekadar membeli sepiring nasi dan lauk yang layak. Ketika berita di televisi terus mengabarkan klaim peningkatan ekonomi yang tumbuh pesat, ada rasa asing yang mengganjal. Ada jurang yang teramat lebar antara angka statistik yang memukau dengan realitas piring makan di meja masyarakat kelas bawah.
Narasi pemerintah menitik beratkan pada pertumbuhan ekonomi yang stabil, peningkatan investasi, penurunan kemiskinan dan pengangguran, serta terjaganya fiskal. Angka-angka tersebut merupakan indikator ekonomi yang relevan, tetapi belum cukup untuk menilai kesejahteraan secara menyeluruh.
Data Kerentanan Ekonomi
Jika kita menelaah lebih dalam, data BPS mencatat tingkat kemiskinan nasional Indonesia pada kisaran 8%. Namun, disparitas ketimpangan di lapangan menunjukkan cerita yang sangat berbeda.
Kemiskinan Perdesaan vs Perkotaan: Terdapat perbedaan nyata antara wilayah desa dan kota. Tingkat kemiskinan di perdesaan masih konsisten lebih tinggi (berada di kisaran 11%–12%) dibandingkan wilayah perkotaan (berada di kisaran 7%–8%). Di desa, masyarakat terhambat oleh keterbatasan akses pasar, fasilitas dasar, dan infrastruktur. Sementara di kota, tantangannya bergeser pada tingginya biaya hidup serta kerapuhan kerja di sektor informal.
Sementara itu, Bank Dunia memperkirakan 64,1% penduduk Indonesia berada di bawah garis ketahanan ekonomi sebesar US$ 8,30 atau sekitar Rp51.087 per orang per hari. Dari data tersebut, Indonesia memang telah berhasil menekan angka kemiskinan ekstrem (versi nasional), namun mayoritas populasi (64,1%) masih berada dalam kondisi rentan secara ekonomi dan belum mencapai standar keamanan finansial kelas menengah global.
Indikator Statistik dan Kesejahteraan Riil
Angka pertumbuhan ekonomi yang terkesan positif dapat terasa semu bagi pekerja dan masyarakat rentan bukan karena angka tersebut pasti keliru, melainkan karena indikator pertumbuhan ekonomi dan indikator kesejahteraan mengukur hal yang berbeda. Pertumbuhan yang tidak diikuti kenaikan upah riil, pekerjaan yang layak, perlindungan sosial, dan distribusi pendapatan yang lebih merata dapat menghasilkan situasi ketika ekonomi nasional berkembang, tetapi sebagian masyarakat masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasarnya.
Kebutuhan Pertumbuhan Inklusif dan Akses Layanan Dasar
Rakyat tidak membutuhkan pertumbuhan yang abstrak di dalam laporan statistik, melainkan pertumbuhan inklusif yang berdampak langsung pada daya tahan dan martabat hidup harian mereka. Pertumbuhan tersebut dapat diwujudkan dengan diciptakannya lapangan kerja yang layak, menjaga ruang hidup dan ekologi, memangkas ketimpangan dengan disediakannya pendidikan yang layak, fasilitas kesehatan yang memadai dan jaringan transportasi umum yang terjangkau.
Makna Pertumbuhan Yang Dibutuhkan Oleh Rakyat
Pada akhirnya, makna pertumbuhan yang sejati diukur dari seberapa kuat masyarakat kelas bawah bertahan dan berkembang tanpa harus mengorbankan masa depan anak-anak mereka. Pertumbuhan yang bernilai adalah pertumbuhan yang menempatkan manusia sebagai tujuan utama pembangunan, bukan sekadar instrumen untuk mendongkrak grafik statistik.
