Fakta Menyenangkan: Ternyata Bentuk Obat Ada Ilmunya

Mahasiswa Farmasi UII
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Indah Dewi kumorowati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sering kepikiran gak sih kenapa obat punya banyak bentuk? Misalnya aja kayak tablet, kapsul, sirup, inhaler, obat tetes, suppositoria, bahkan injeksi. Kenapa sih gak dibuat satu bentuk aja kayak tablet aja atau sirup doang? Kenapa sih harus bermacam-macam? Ternyata dibalik banyaknya bentuk obat, ada penjelasan ilmiahnya lhoo.
Sebenarnya, jawabannya sangat sederhana. Setiap obat dan setiap pasien punya kebutuhan yang berbeda-beda. Bentuk obat bukan cuma soal kemasan, tampilan, dan marketing agar orang tertarik untuk membeli. Melainkan dirancang supaya pengobatan aman, nyaman, dan efektif bagi pasien.
Bayangkan seorang balita atau anak-anak lebih mudah menelan sirup daripada tablet. Hal ini dikarenakan sediaan sirup lebih mudah ditelan oleh balita dan anak-anak serta sirup dapat menutupi rasa yang pahit dari obat. Sebaliknya, pasien dengan gejala atau memiliki riwayat penyakit muntah atau pasien tidak sadar sulit menelan obat. Berbeda halnya dengan lansia, menurut mereka obat justru membantu proses pengobatan berjalan dengan baik.
Selain berkaitan dengan kondisi pasien, obat juga disesuaikan dengan lokasi penyakitnya. Apabila terdapat penyakit atau infeksi yang menyerang kulit, maka bentuk obat dapat berupa salep atau krim. Mata yang mengalami iritasi membutuhkan obat tetes agar cairan langsung bekerja cepat melumasi selaput mata. Sementara itu, pada penderita asma dibutuhkan inhaler agar obat dapat segera bekerja pada saluran pernapasan.
Adapun obat dibuat agar bekerja perlahan di dalam tubuh dan tidak diminum terlalu sering. Misalnya saja, rhinos yang bekerja larut secara perlahan di dalam usus. Terdapat juga tablet hisap yang mudah untuk dikonsumsi, tidak menimbulkan rasa pahit dan tidak enak pada obat, serta untuk vitamin dan suplemen anak sediaan ini cocok untuk digunakan. Semua itu merupakan hasil produk obat yang telah dirancang sedemikian rupa agar meningkatkan efektivitas terapi dan kenyamanan pasien.
Adanya berbagai macam bentuk obat tersebut, terdapat ilmu yang disebut formulasi teknologi sediaan obat. Sederhananya formulasi yaitu proses merancang obat agar dapat disesuaikan dengan kebutuhan penggunaannya. Suatu obat dapat dibuat menjadi tablet, sirup, salep, atau bentuk lainnya dengan mempertimbangkan kenyamanan pasien serta cara kerja obat di dalam tubuh.
Sayangnya, masih banyak masyarakat yang menganggap semua bentuk obat memiliki fungsi yang sama sehingga sering kali menggunakannya tidak sesuai anjuran. Misalnya, menghancurkan tablet yang sebenarnya harus ditelan utuh. Padahal, setiap bentuk obat memiliki tujuan dan cara penggunaan yang telah dirancang secara khusus.
Keberagaman bentuk obat justru menunjukkan bahwa dunia farmasi terus berupaya menyesuaikan pengobatan dengan kebutuhan setiap pasien. Adanya obat berbentuk tablet, sirup, salep, inhaler, obat tetes, suppositoria atau injeksi yang di mana sediaan tersebut tidak hanya sekadar variasi produk saja melainkan terdapat pula proses perancangan yang bertujuan membantu obat bekerja dengan cara yang tepat sehingga pengobatan dapat efektif serta nyaman bagi pasien.
