Konten dari Pengguna

UMKM Mahasiswa Naik Kelas, Pengalaman Mahasiswa Jualan di Era Digital

momen berjualan di event milad UMY ke 44, Sumber : Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
momen berjualan di event milad UMY ke 44, Sumber : Dokumentasi Pribadi

Di tengah arus digitalisasi yang terus mengalir deras, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tidak bisa lagi hanya mengandalkan cara-cara konvensional. Transformasi digital bukan sekadar tren, tapi sebuah keniscayaan. Namun kenyataannya, masih banyak pelaku UMKM yang belum terhubung dengan dunia digital karena keterbatasan akses, pemahaman, atau bahkan kepercayaan.

Padahal, data dari Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan bahwa dari lebih dari 64 juta UMKM di Indonesia, baru sekitar 30% yang sudah terdigitalisasi. Artinya, masih ada ruang besar untuk tumbuh dan berkembang — apalagi di kalangan anak muda.

Digitalisasi UMKM: Apa dan Mengapa Penting?

Digitalisasi UMKM berarti memanfaatkan teknologi digital untuk memperkuat kegiatan usaha. Mulai dari pemasaran online, pemesanan lewat aplikasi, sistem pembayaran digital, hingga pencatatan keuangan berbasis aplikasi.

Keuntungan digitalisasi sangat nyata:

  • Menjangkau pasar yang lebih luas

  • Mempermudah transaksi

  • Meningkatkan kepercayaan konsumen

  • Menciptakan efisiensi waktu dan biaya

Namun, seperti apa praktik nyatanya? Izinkan saya membagikan pengalaman pribadi.

Cerita "Dinsum Say" dan 400 Dimsum yang Ludes

Saya adalah mahasiswa Manajemen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Pada 18 Mei 2025, kampus kami mengadakan event besar: Milad UMY ke-44, dengan berbagai rangkaian kegiatan, termasuk bazar UMKM kampus.

Bersama Sany dan Gita, kami memberanikan diri membuka booth dengan nama “Dinsum Say”, menjual dimsum rumahan yang kami buat sendiri. Target kami sederhana: belajar berjualan, mengenalkan produk, dan profit.

Kami sadar, hanya berjualan di stan saja tidak cukup. Maka, kami mulai memanfaatkan kekuatan media digital. Kami membuat konten di Instagram, membagikan info produk, harga, dan testimoni lewat Instastory, serta menyebarkan promosi ke grup WhatsApp kampus.

Tapi yang paling menarik? Kami mengaktifkan pembayaran QRIS.

Kami pasang tulisan:

"Bayar Bisa Pakai QRIS!"

Ternyata itu jadi daya tarik tersendiri. Banyak pengunjung tidak membawa uang tunai, dan QRIS membuat transaksi jadi cepat dan praktis. Bahkan, banyak teman kampus yang sebelumnya ragu jadi mau beli karena kemudahan ini.

Hasilnya? 400 pcs dimsum ludes dalam satu hari.

Lebih dari sekadar jualan, ini jadi pengalaman nyata bagaimana digitalisasi benar-benar membantu pelaku usaha — bahkan di level mahasiswa.

Kesimpulan: Digitalisasi Itu Nyata dan Dekat

Pengalaman membuka “Dinsum Say” mengajarkan saya bahwa digitalisasi UMKM bukan sesuatu yang jauh atau rumit. Selama ada kemauan belajar dan sedikit keberanian mencoba, mahasiswa pun bisa menjadi pelaku UMKM digital.

QRIS, media sosial, dan semangat wirausaha adalah kombinasi sederhana yang bisa membawa perubahan besar — tidak hanya untuk omzet, tapi juga untuk pola pikir.

Semoga semakin banyak mahasiswa dan pelaku usaha muda yang terinspirasi untuk memulai langkah kecil kami di dunia digital. Karena setiap usaha kecil yang tersambung ke teknologi, adalah bagian dari masa depan ekonomi Indonesia.