Inovasi Budidaya Cacing Sutra Menggunakan Sistem Resirkulasi Sebagai Pakan Alami

Mahasiswa Akuakultur yang Sedang Berpendidikan di Universitas Diponegoro
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Indriani Rahayu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Desa Tambaksari, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal, merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi besar di sektor perikanan budidaya. Kegiatan pembesaran dan pembenihan ikan seperti lele, nila, dan gurame menjadi sumber mata pencaharian masyarakat. Namun, tingginya harga pakan komersial mendorong perlunya inovasi dalam penyediaan pakan alami yang lebih ekonomis, mudah dibudidayakan, dan memiliki kandungan nutrisi yang baik. Salah satu solusi yang diterapkan melalui program KKN yang saya terapkan adalah budidaya cacing sutra (Tubifex sp.) menggunakan sistem resirkulasi.

Cacing sutra merupakan pakan alami yang kaya protein dan sangat baik digunakan terutama untuk larva maupun benih ikan. Melalui program ini, budidaya dilakukan menggunakan rak bertingkat yang dilengkapi sistem resirkulasi air sehingga penggunaan air menjadi lebih efisien dan kualitas media budidaya tetap terjaga. Media budidaya dibuat dari campuran lumpur dan pupuk organik berupa kotoran ayam dengan perbandingan 2:1, kemudian didiamkan selama 3–5 hari agar mikroorganisme alami berkembang sebagai sumber pakan cacing sebelum bibit ditebar.
Penerapan inovasi budidaya cacing sutra menggunakan sistem resirkulasi diharapkan dapat menjadi alternatif penyediaan pakan alami yang berkelanjutan bagi pembudidaya ikan. Selain membantu mengurangi ketergantungan terhadap pakan buatan yang harganya terus meningkat.
Kesan: Melalui program ini diharapkan masyarakat dapat memahami teknik budidaya cacing sutra menggunakan sistem resirkulasi sehingga mampu menghasilkan pakan alami secara mandiri, mengurangi biaya produksi, serta meningkatkan produktivitas usaha budidaya ikan secara berkelanjutan.
