Kelestarian Budaya Indonesia di Tengah Perubahan Zaman
Tulisan dari Intan Mutiara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia merupakan negara yang dikenal memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam. Hampir setiap daerah memiliki budaya dan tradisi yang menjadi identitas masyarakatnya, mulai dari bahasa daerah, pakaian adat, rumah tradisional, makanan khas, musik, tarian, upacara adat, hingga berbagai kerajinan. Keberagaman tersebut menjadi salah satu hal yang membuat Indonesia memiliki daya tarik tersendiri. Namun, di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, kelestarian budaya menjadi tantangan yang tidak bisa dianggap sederhana. Menurut saya, menjaga budaya bukan hanya tugas pemerintah atau para pelaku seni, tetapi merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat, terutama generasi muda.
Besarnya kekayaan budaya Indonesia dapat dilihat dari data Warisan Budaya Takbenda (WBTb). Berdasarkan data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, hingga tahun 2023 Indonesia memiliki 1.941 Warisan Budaya Takbenda yang berasal dari 8.065 karya budaya. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa Indonesia mempunyai kekayaan budaya yang sangat besar dan tersebar di berbagai daerah. Warisan tersebut tidak hanya berupa kesenian, tetapi juga mencakup tradisi, pengetahuan tradisional, bahasa, permainan tradisional, makanan, serta berbagai bentuk kebudayaan lainnya. Data tersebut seharusnya membuat masyarakat semakin sadar bahwa budaya Indonesia memiliki nilai yang sangat tinggi dan perlu terus dijaga.
Upaya untuk menjaga budaya juga terus dilakukan melalui pendataan dan penetapan Warisan Budaya Takbenda. Pada tahun 2024, tercatat 668 usulan budaya takbenda dari 32 provinsi yang diajukan untuk ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Setelah melalui proses kurasi dan penilaian, sebanyak 272 budaya direkomendasikan untuk ditetapkan. Menurut saya, angka tersebut memperlihatkan bahwa budaya Indonesia masih sangat hidup dan terus berkembang di tengah masyarakat. Namun, banyaknya budaya yang tercatat juga harus diikuti dengan upaya nyata agar budaya tersebut tidak hanya menjadi data atau catatan sejarah, tetapi tetap dikenal dan dipraktikkan oleh generasi berikutnya.
Salah satu tantangan terbesar dalam pelestarian budaya saat ini adalah perkembangan teknologi dan masuknya berbagai budaya dari luar. Media sosial membuat masyarakat, khususnya anak muda, dapat dengan mudah mengikuti tren dari berbagai negara. Hal ini sebenarnya bukan sesuatu yang buruk karena masyarakat dapat memperoleh wawasan dan pengetahuan yang lebih luas. Masalahnya muncul ketika budaya luar lebih dikenal dan diminati dibandingkan budaya sendiri. Tidak sedikit anak muda yang lebih mengetahui tren musik, pakaian, atau bahasa dari luar negeri, tetapi kurang mengenal kesenian dan tradisi yang berasal dari daerahnya sendiri.
Menurut saya, kondisi tersebut tidak seharusnya membuat generasi muda menjauhi teknologi. Justru teknologi dapat menjadi salah satu alat untuk melestarikan budaya. Media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube dapat digunakan untuk memperkenalkan tarian tradisional, makanan daerah, pakaian adat, cerita rakyat, musik tradisional, hingga kegiatan masyarakat di berbagai daerah. Jika dikemas dengan kreatif dan mengikuti cara komunikasi yang disukai anak muda, budaya tradisional dapat menjadi lebih menarik dan mudah dikenal oleh masyarakat luas.
Pelestarian budaya juga dapat dilakukan melalui pendidikan. Sekolah dan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam memperkenalkan budaya kepada generasi muda. Pembelajaran mengenai budaya tidak harus selalu dilakukan melalui buku atau teori. Siswa dapat diajak melihat pertunjukan seni, mempelajari permainan tradisional, membuat proyek dokumentasi budaya daerah, atau melakukan wawancara dengan masyarakat yang masih menjalankan tradisi tertentu. Dengan cara tersebut, generasi muda tidak hanya mengetahui budaya secara teori, tetapi juga memahami makna dan nilai yang terkandung di dalamnya.
Selain pendidikan, masyarakat juga dapat berperan melalui tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Menggunakan produk kerajinan lokal, membeli makanan khas daerah, menghadiri pertunjukan seni tradisional, mempelajari bahasa daerah, atau ikut dalam kegiatan adat merupakan bentuk dukungan terhadap keberlangsungan budaya. Menurut saya, hal-hal sederhana seperti ini justru penting karena budaya akan tetap hidup apabila masih digunakan dan diterapkan oleh masyarakat.
Pemerintah juga mempunyai tanggung jawab besar dalam memastikan budaya tetap terlindungi. Pendataan, dokumentasi, pemberian ruang bagi pelaku seni, penyelenggaraan festival budaya, serta dukungan terhadap komunitas merupakan beberapa bentuk upaya yang dapat dilakukan. Namun, pelestarian tidak akan berjalan maksimal jika hanya mengandalkan pemerintah. Diperlukan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, sekolah, komunitas budaya, pelaku seni, dan generasi muda agar kebudayaan dapat terus berkembang.
Pada akhirnya, melestarikan budaya bukan berarti menolak perkembangan zaman. Menurut saya, budaya justru harus mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai dan identitas aslinya. Tradisi boleh dikemas dengan cara yang lebih modern, selama makna dan nilai penting di dalamnya tetap dipertahankan. Dengan memanfaatkan teknologi dan kreativitas generasi muda, budaya Indonesia dapat diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas, bahkan sampai ke tingkat internasional.
Kelestarian budaya merupakan bagian penting dari jati diri bangsa. Jika generasi sekarang tidak mengenal dan menghargai budayanya sendiri, bukan tidak mungkin beberapa tradisi perlahan akan ditinggalkan dan akhirnya sulit ditemukan pada masa depan. Karena itu, menjaga budaya seharusnya tidak hanya dilakukan ketika ada acara adat atau festival budaya, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Menurut saya, budaya akan benar-benar lestari bukan hanya karena tercatat sebagai warisan, melainkan karena masih dicintai, dipelajari, dipraktikkan, dan diwariskan oleh masyarakat kepada generasi selanjutnya.

