Konten dari Pengguna

Mengapa Kita Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain di Media Sosial?

Intan Haryani

Intan Haryani

Mahasiswa Sistem Informasi Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Intan Haryani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : chatgpt
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : chatgpt

Media Sosial dan Kebiasaan Membandingkan Diri

Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Hanya dengan membuka ponsel, kita dapat melihat berbagai aktivitas orang lain, mulai dari teman yang sedang berlibur, mendapatkan prestasi, menjalani pekerjaan impian, hingga menikmati kehidupan yang terlihat menyenangkan.

Masalahnya, media sosial sering kali hanya memperlihatkan bagian tertentu dari kehidupan seseorang. Kita melihat hasil akhirnya, tetapi tidak selalu mengetahui proses, kegagalan, atau masalah yang mereka hadapi.

Ketika melihat orang lain berhasil, sementara diri sendiri sedang menghadapi kesulitan, tanpa sadar muncul pertanyaan seperti, “Mengapa hidup saya tidak seperti dia?” Dari sinilah kebiasaan membandingkan diri dapat muncul.

Kita Membandingkan Kehidupan Nyata dengan Tampilan di Media Sosial

Salah satu alasan mengapa perbandingan sosial terasa begitu kuat adalah karena apa yang ditampilkan di media sosial biasanya sudah dipilih terlebih dahulu.

Seseorang mungkin mengunggah foto ketika mendapatkan nilai bagus, diterima di kampus impian, mendapatkan pekerjaan, atau pergi berlibur. Namun, mereka belum tentu mengunggah berapa kali mereka gagal, merasa lelah, atau mengalami masalah sebelum mencapai hal tersebut.

Akibatnya, kita sering membandingkan kehidupan nyata kita dengan versi terbaik kehidupan orang lain di media sosial.

Padahal, kehidupan setiap orang memiliki cerita yang berbeda. Apa yang terlihat sempurna di layar belum tentu menggambarkan keadaan sebenarnya.

Mengapa Kita Merasa Tertinggal?

Perasaan tertinggal juga dapat muncul ketika melihat pencapaian orang lain. Misalnya, ketika seorang mahasiswa melihat temannya sudah memiliki banyak prestasi, aktif dalam organisasi, mengikuti berbagai kegiatan, atau mendapatkan pekerjaan sebelum lulus.

Hal tersebut sebenarnya bisa menjadi motivasi. Namun, jika dilakukan terus-menerus tanpa menyadari kondisi diri sendiri, perbandingan tersebut justru dapat membuat seseorang merasa kurang.

Kita mulai mengukur keberhasilan berdasarkan pencapaian orang lain, bukan berdasarkan perkembangan diri sendiri.

Padahal, setiap orang memiliki waktu dan perjalanan yang berbeda. Ada yang berkembang lebih cepat dalam satu bidang, tetapi membutuhkan waktu lebih lama dalam bidang lainnya.

Tidak Semua yang Terlihat Harus Menjadi Standar

Media sosial juga dapat membuat standar kehidupan terlihat semakin tinggi. Kita melihat orang lain memiliki barang bagus, penampilan menarik, kehidupan sosial yang aktif, atau pencapaian tertentu. Lama-kelamaan, hal tersebut dapat dianggap sebagai ukuran bahwa seseorang sedang menjalani kehidupan yang ideal.

Padahal, tidak semua hal yang populer di media sosial harus menjadi standar kehidupan kita.

Memiliki kehidupan yang sederhana bukan berarti gagal. Belum memiliki pencapaian tertentu pada usia tertentu juga bukan berarti tertinggal. Setiap orang memiliki prioritas, kesempatan, kondisi ekonomi, lingkungan, dan tujuan hidup yang berbeda.

Bagaimana Mengurangi Kebiasaan Membandingkan Diri?

Mengurangi kebiasaan membandingkan diri bukan berarti harus berhenti menggunakan media sosial. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menggunakannya.

Pertama, kita perlu menyadari bahwa media sosial bukan gambaran kehidupan seseorang secara keseluruhan. Apa yang muncul di layar hanyalah sebagian kecil dari kehidupan mereka.

Kedua, mulai perhatikan bagaimana perasaan kita setelah menggunakan media sosial. Jika melihat unggahan tertentu justru membuat kita merasa rendah diri, iri, atau tidak cukup baik, mungkin sudah waktunya mengurangi paparan terhadap konten tersebut.

Ketiga, kita bisa mengubah cara melihat pencapaian orang lain. Daripada berpikir, “Kenapa saya tidak seperti dia?”, kita dapat mengubahnya menjadi, “Apa yang bisa saya pelajari dari perjalanan dia?”

Dengan begitu, media sosial tidak hanya menjadi tempat untuk membandingkan diri, tetapi juga dapat menjadi sumber inspirasi.

Fokus pada Perjalanan Diri Sendiri

Pada akhirnya, membandingkan diri dengan orang lain merupakan sesuatu yang cukup manusiawi. Kita mungkin tidak bisa sepenuhnya menghindarinya, terutama ketika kehidupan orang lain begitu mudah terlihat melalui media sosial.

Namun, kita dapat memilih bagaimana meresponsnya.

Setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda. Ada yang sedang berada di tahap memulai, ada yang sedang berjuang, dan ada pula yang sudah mencapai sesuatu yang kita inginkan.

Daripada terus melihat pencapaian orang lain sebagai ukuran kekurangan diri sendiri, lebih baik menjadikan perjalanan mereka sebagai pengingat bahwa setiap orang memiliki waktunya masing-masing.

Media sosial seharusnya menjadi alat untuk terhubung dan mendapatkan informasi, bukan menjadi alasan untuk terus merasa bahwa hidup kita tidak cukup baik.