Konten dari Pengguna

Tiket Konser Pakai Utang, Puas Sehari, Pusing berbulan bulan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Iqvi nur hidayati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar 1. Ilustrasi dibuat dengan AI, 2026.
zoom-in-whitePerbesar
Gambar 1. Ilustrasi dibuat dengan AI, 2026.

Fenomena war tiket konser band atau penyanyi terkenal belakangan ini selalu berhasil bikin media sosial heboh. Pengumuman kedatangan musisi favorit sering kali datang mendadak, sementara kondisi dompet atau tabungan di akhir bulan belum tentu lagi siap. Di tengah situasi yang serba kepepet tapi enggan ketinggalan momen (Fear of Missing Out), opsi menggunakan fitur cicilan Paylater atau pinjaman instan kerap jadi jalan pintas yang paling menggiurkan.

Saat hari pertunjukan tiba, rasanya memang puas sekali. Menyanyikan lagu favorit secara langsung dan mengunggah keseruannya ke media sosial memberikan sensasi gembira yang luar biasa. Namun, begitu euphoria konser selesai dan berganti bulan, kenyataan finansial baru benar-benar terasa menekan.

Ketika gaji bulanan masuk ke rekening, sebagian porsinya harus langsung terpotong hanya untuk membayar cicilan tiket konser yang pertunjukannya sendiri sudah berlalu. Mau tidak mau, pengeluaran harian harus diperketat, jajan dikurangi, dan beberapa kebutuhan lain terpaksa ditunda demi menutup tagihan tersebut.

Kejadian seperti ini sebenarnya jadi cermin besar bagi gaya hidup anak muda zaman sekarang. Demi mengejar kepuasan jangka pendek dan kebanggaan di media sosial, kita tanpa sadar sering mengorbankan kestabilan keuangan pribadi di masa depan.

Mengurangi Jebakan Paylater di Balik Antusiasme Berburu Tiket Konser

Kalau dicermati, keputusan nekat membeli tiket hiburan dengan utang sering terjadi karena kita makin sulit membedakan mana kebutuhan utama dan mana yang sekadar keinginan sesaat. Menonton konser pada dasarnya adalah kebutuhan rekreasi. Sepatutnya, pos hiburan seperti ini dipenuhi menggunakan dana simpanan khusus hobi yang dianggarkan dari jauh hari, bukan dari fasilitas pinjaman.

Ketika melihat angka limit Paylater yang melimpah, otak kita seolah-olah menganggapnya sebagai "uang tambahan", padahal itu adalah beban utang yang wajib dikembalikan beserta bunganya. Sensasi memiliki kemampuan finansial semu inilah yang membuat kita makin gampang memaklumi pengeluaran impulsif.

Rekreasi dan menikmati hiburan itu tentu sangat penting untuk menjaga kesehatan mental. Namun, cara kita membiayainya juga harus tetap masuk akal. Jika ada konser atau acara yang sangat ingin didatangi, langkah terbaik adalah merencanakan tabungannya sejak jauh-jauh hari. Kalaupun tabungan belum mencukupi saat penjualan tiket dibuka, berani menahan diri jauh lebih bijak daripada memaksakan diri menggunakan pinjaman instan.