Konten dari Pengguna

Mafia Antibiotik Ternak: Alasan Tersembunyi Mengapa Daging Bikin Kebal Obat

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sayyidah Irdhiati Azzahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah kepikiran nggak, kenapa sekarang banyak orang minum antibiotik tapi nggak mempan? Dulu obat yang sama bisa bikin sembuh cepat, sekarang malah harus ganti dosis atau jenis yang lebih kuat. Banyak yang mengira ini cuma soal “tubuh kebal”, padahal masalahnya jauh lebih kompleks dan diam-diam berhubungan dengan apa yang kita makan setiap hari: daging.

Gambar Ilustrasi generated by AI
zoom-in-whitePerbesar
Gambar Ilustrasi generated by AI

Di balik industri peternakan modern, ada praktik yang jarang dibicarakan secara terbuka: penggunaan antibiotik secara masif pada hewan ternak. Bukan hanya untuk mengobati penyakit, tapi juga untuk mempercepat pertumbuhan dan mencegah infeksi di kandang yang padat. Secara bisnis, ini efisien. Secara kesehatan? Ini bom waktu.

Bayangkan ratusan bahkan ribuan ayam atau sapi hidup dalam satu area terbatas. Risiko penyakit tinggi, sehingga antibiotik jadi “tameng murah” untuk menjaga produksi tetap stabil. Masalahnya, penggunaan antibiotik terus-menerus ini menciptakan kondisi ideal bagi bakteri untuk beradaptasi. Mereka belajar bertahan, berevolusi, dan akhirnya menjadi kebal terhadap obat.

Bakteri yang sudah kebal ini nggak berhenti di kandang. Mereka bisa menyebar lewat daging yang kita konsumsi, lingkungan sekitar peternakan, bahkan air limbah. Ketika manusia terpapar, infeksi yang sebelumnya mudah diobati jadi lebih sulit ditangani. Inilah yang disebut resistensi antibiotik salah satu ancaman kesehatan global paling serius saat ini.

Ironisnya, banyak konsumen nggak sadar. Daging terlihat segar, harga terjangkau, dan tersedia di mana-mana. Padahal, di balik itu ada rantai produksi yang berpotensi mempercepat krisis kesehatan. Kita seperti jadi “korban tidak langsung” dari sistem yang mengutamakan kuantitas daripada keamanan jangka panjang.

Beberapa negara sudah mulai membatasi penggunaan antibiotik pada ternak, terutama yang digunakan untuk manusia. Tapi di banyak tempat, regulasi masih longgar atau pengawasannya lemah. Di sinilah muncul istilah “mafia antibiotik ternak” bukan selalu dalam arti organisasi kriminal, tapi sebagai gambaran sistem yang terus berjalan meski risikonya sudah jelas.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan?

Sebagai konsumen, kita punya peran lebih besar dari yang kita kira. Memilih produk yang jelas asal-usulnya, mendukung peternakan yang menerapkan praktik lebih sehat, dan meningkatkan kesadaran soal resistensi antibiotik adalah langkah awal. Tekanan dari publik juga bisa mendorong perubahan kebijakan.

Di sisi lain, edukasi jadi kunci. Banyak orang masih menganggap antibiotik sebagai “obat dewa” untuk segala penyakit, bahkan yang disebabkan virus. Padahal, penggunaan yang tidak tepat—baik pada manusia maupun hewan hanya akan mempercepat munculnya bakteri super yang sulit dikalahkan.

Masalah ini bukan sekadar isu peternakan atau kesehatan, tapi soal masa depan. Kalau kita terus abai, bukan tidak mungkin di masa depan luka kecil atau infeksi ringan bisa kembali mematikan karena obat sudah tidak bekerja lagi.

Jadi, lain kali saat kita makan ayam goreng atau sate, mungkin ada baiknya kita bertanya: daging ini berasal dari sistem seperti apa? Karena jawabannya bisa menentukan apakah antibiotik masih akan menyelamatkan kita… atau justru sudah kehilangan kekuatannya.

Referensi:

Ballo, E. M., Kallau, N., & Ndaong, N. A. (2022). Kajian review resistensi Escherichia coli terhadap antibiotik β-laktam dan aminoglikosida pada ternak ayam dan produk olahannya di Indonesia. Jurnal Veteriner Nusantara, 5(1), 101-121.

Coyne, L., Arief, R., Benigno, C., Giang, V. N., Huong, L. Q., Jeamsripong, S., ... & Rushton, J. (2019). Characterizing antimicrobial use in the livestock sector in three South East Asian countries (Indonesia, Thailand, and Vietnam). Antibiotics, 8(1), 33.

Dewi, R. R., Berutu, K. M., & Sihombing, J. M. (2023). Antibiotic resistance pattern of Escherichia coli derived from retail raw meat in North Sumatera, Indonesia. Jurnal Ilmu dan Teknologi Hasil Ternak (JITEK).

Khairullah, A. R., Moses, I. B., Yanestria, S. M., Dameanti, F. N. A. E. P., Effendi, M. H., Tang, J. Y. H., ... & Latifah, L. (2025). Potential of the livestock industry environment as a reservoir for spreading antimicrobial resistance. Open Veterinary Journal, 15(2), 504.

Ningtyas, N. S. I. I., Agustin, A. L. D., Yustinasari, L. R., Widodo, A., & Putra, I. P. C. (2026). Antibiotic Resistance of Escherichia coli Bacteria in Cattle: Challenges to Food Self-Sufficiency in Indonesia. Mandalika Veterinary Journal, 6(1), 23-32.