Mengapa Orang Kaya Justru Suka Barang yang Tidak Mencolok?

hii aku Mina, Mahasiswi Universitas Pamulang, Prodi Pendidikan Ekonomi turning overlooked moments into something worth reading!!
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Irmina Imelvin zai tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dalam teori ekonomi mikro, harga yang tinggi umumnya membuat permintaan terhadap suatu barang menurun. Namun, ada pengecualian menarik yang dikenal sebagai barang Veblen, yaitu barang yang justru semakin diminati ketika harganya mahal. Fenomena ini kini muncul dalam bentuk baru melalui tren yang dikenal sebagai quiet luxury.

Berbeda dengan gaya hidup mewah yang identik dengan logo besar dan kemewahan mencolok, quiet luxury justru menonjolkan kesederhanaan. Tas tanpa logo mencolok, pakaian dengan desain minimalis, atau jam tangan klasik menjadi simbol status baru bagi sebagian kalangan berpenghasilan tinggi. Bagi mereka, kemewahan tidak lagi harus ditunjukkan secara terang-terangan.
Fenomena ini menarik karena nilai suatu barang tidak hanya ditentukan oleh kegunaannya. Kaos polos dengan bahan premium yang harganya jutaan rupiah pada dasarnya memiliki fungsi yang sama dengan kaos biasa, yakni sebagai pakaian. Namun, konsumen tertentu bersedia membayar jauh lebih mahal karena terdapat nilai simbolik yang melekat pada produk tersebut.
Dalam perspektif ekonomi mikro, perilaku tersebut menunjukkan bahwa utilitas atau kepuasan konsumen tidak hanya berasal dari manfaat fisik barang, tetapi juga dari makna sosial yang dimilikinya. Status, eksklusivitas, dan identitas diri menjadi bagian dari kepuasan yang dicari konsumen.
Media sosial ikut memperkuat tren ini. Jika beberapa tahun lalu kemewahan ditampilkan melalui barang-barang dengan logo besar, kini banyak figur publik dan kreator konten justru mempopulerkan gaya sederhana yang elegan. Kemewahan berubah bentuk, tetapi tetap menjadi sarana untuk menunjukkan posisi sosial.
Sebagian orang mungkin menganggap perilaku tersebut tidak rasional karena harga yang dibayarkan jauh lebih tinggi dibanding manfaat yang diperoleh. Namun, ekonomi mikro mengajarkan bahwa rasionalitas tidak selalu berarti mencari harga termurah. Konsumen dianggap rasional selama keputusan yang diambil mampu memberikan kepuasan sesuai preferensinya.
Fenomena quiet luxury menunjukkan bahwa pasar tidak hanya bergerak berdasarkan kebutuhan dasar manusia, tetapi juga oleh kebutuhan akan pengakuan dan identitas sosial. Di tengah dunia yang semakin terbuka dan penuh persaingan simbolik, kemewahan ternyata tidak hilang. Ia hanya berubah menjadi lebih sunyi dan lebih sulit dikenali.
Pada akhirnya, barang mahal tidak selalu dibeli karena fungsinya lebih baik, tetapi karena manusia sering kali membeli makna yang melekat di balik barang tersebut. Di situlah teori ekonomi mikro membuktikan bahwa nilai sebuah produk tidak hanya ditentukan oleh apa yang dimiliki barang itu, tetapi juga oleh apa yang dirasakan oleh pemiliknya.
