Saya Kenal Orang yang Setiap Hari Bekerja, Tapi Tetap Disebut Pengangguran

hii aku Mina, Mahasiswi Universitas Pamulang, Prodi Pendidikan Ekonomi turning overlooked moments into something worth reading!!
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Irmina Imelvin zai tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Saya pernah mengenal seseorang yang hampir setiap hari bekerja.
Pagi berangkat, sore pulang. Kadang bahkan bekerja sampai malam kalau ada yang membutuhkan bantuannya.
Kalau dilihat sekilas, rasanya tidak ada alasan untuk menyebutnya pengangguran.
Tapi ketika berbicara soal pendapatan, ceritanya berbeda.
Pekerjaannya tidak selalu ada. Penghasilannya tidak tetap. Ada hari ketika ia bekerja cukup lama, tetapi uang yang dibawa pulang tidak seberapa. Ia bekerja, tetapi pekerjaannya belum benar-benar mampu membuat kehidupannya lebih baik.
Dari situ saya mulai berpikir: sebenarnya siapa yang disebut pengangguran?
Selama ini saya membayangkan pengangguran sebagai orang yang tidak bekerja sama sekali. Duduk di rumah, belum mendapatkan pekerjaan, atau sedang mencari pekerjaan.
Ternyata persoalannya tidak sesederhana itu.
Dalam ekonomi makro, kondisi tenaga kerja tidak hanya dilihat dari ada atau tidaknya pekerjaan. Ada juga fenomena seperti setengah pengangguran, yaitu ketika seseorang bekerja tetapi waktu kerja atau pemanfaatan kemampuannya masih belum optimal.
Ada pula pengangguran terselubung, ketika jumlah orang yang bekerja dalam suatu kegiatan sebenarnya lebih banyak daripada yang dibutuhkan.
Istilah-istilah tersebut awalnya terdengar seperti materi kuliah biasa bagi saya.
Sampai saya melihat contohnya dalam kehidupan nyata.
Saya jadi menyadari bahwa angka pengangguran yang kita lihat dalam berita mungkin belum sepenuhnya menggambarkan bagaimana sulitnya seseorang mendapatkan pekerjaan yang benar-benar layak.
Seseorang bisa saja memiliki pekerjaan, tetapi tetap kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Di sinilah menurut saya persoalan ketenagakerjaan menjadi lebih menarik.
Kita sering menganggap bahwa solusi dari pengangguran adalah menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan.
Tentu itu penting.
Tetapi menurut saya, pertanyaan berikutnya juga tidak kalah penting:
Pekerjaan seperti apa yang sebenarnya sedang kita ciptakan?
Kalau seseorang bekerja tetapi jam kerjanya tidak cukup, penghasilannya sangat rendah, atau pekerjaannya tidak sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, apakah masalah ketenagakerjaan benar-benar selesai hanya karena statusnya sudah “bekerja”?
Saya rasa belum.
Bagi seseorang yang sedang membutuhkan penghasilan, memiliki pekerjaan memang jauh lebih baik daripada tidak memiliki pekerjaan sama sekali. Namun, pekerjaan juga seharusnya memberikan kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraan.
Karena itu, saya mulai melihat pengangguran bukan hanya sebagai persoalan tentang ada atau tidaknya pekerjaan, tetapi juga tentang kualitas pekerjaan yang tersedia.
Mungkin inilah alasan mengapa ekonomi makro terasa lebih dekat setelah saya melihatnya dari kehidupan sehari-hari.
Di balik angka pengangguran, ada orang yang tetap bangun pagi meskipun belum tahu berapa penghasilan yang akan dibawa pulang.
Ada orang yang bekerja ketika ada kesempatan, lalu kembali mencari pekerjaan ketika kesempatan itu selesai.
Dan ada orang yang terlihat bekerja setiap hari, tetapi secara ekonomi masih belum benar-benar memiliki kehidupan yang aman.
Jadi, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan hanya:
“Berapa banyak orang yang bekerja?”
Tetapi juga:
“Berapa banyak orang yang benar-benar memiliki pekerjaan yang layak?”
Karena bagi saya, bekerja dan memiliki kehidupan yang sejahtera ternyata bukanlah dua hal yang selalu berjalan bersamaan.
