Bukan Sekali Dua Kali: Cerita Anak Muda yang Terus Kembali ke Tahura Djuanda

Mahasiswa Magister Pariwisata Universitas Pendidikan Indonesia
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari IRVAN ADITYA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tahura, Rohman (22) sudah lima kali datang ke Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Pekerja kantoran asal Cikutra ini mengaku lebih banyak duduk saat bekerja, sehingga ia butuh tempat untuk bergerak. "Buat olahraga, buat ngebakar kalori," katanya saat ditemui di Tahura, Kamis (22/10/2026).
Rohman tidak sendirian. Dari lima pengunjung berusia 20–22 tahun yang saya temui hari itu, semuanya sudah datang ke Tahura minimal tiga kali. Alasan mereka kembali ternyata beragam, mulai dari olahraga, mengerjakan tugas, hingga berkencan.

Pelarian dari macet dan padatnya kota
Bagi sebagian anak muda ini, Tahura adalah tempat terdekat untuk melepas penat dari kota. Rizki (22), warga Sukaluyu yang sudah 6–7 kali berkunjung sejak 2020, menyebut kemacetan sebagai alasan utamanya. "Karena hiruk pikuk perkotaan yang serba macet, saya rasa ini bisa jadi tempat refreshing," ujarnya.
Hal serupa disampaikan Nazhif (20). Ia merasa Tahura menawarkan sesuatu yang sulit ditemukan di tengah kota. "Karena padatnya kota, di mana lagi yang oksigennya bersih?" katanya.
Dari tempat menugas hingga tempat kencan
Tahura juga menjadi ruang untuk kegiatan sehari-hari anak muda. Nazhif biasa datang untuk mengerjakan tugas sekaligus berkencan dengan pacarnya. Ilham (20), pengunjung asal Cisarua, awalnya datang untuk mencoba lari, lalu kembali untuk melihat Gua Belanda, penangkaran rusa, dan curug. Kini, ia menyebut Tahura sebagai tempat yang menyimpan cerita pribadinya. "Jadi ada sejarah dalam hubungan saya," katanya.
Sementara itu, Erni (20) dari Parongpong menyukai suasana Tahura yang seru dan jalurnya yang landai. Ia juga senang dengan banyaknya jajanan UMKM di sepanjang jalur. "Tempat yang memorable banget buat saya pribadi," ujarnya.
Soal harga, pendapat mereka terbelah
Tiket masuk Tahura untuk wisatawan lokal saat ini Rp15.000 ditambah asuransi Rp2.000, sehingga totalnya Rp17.000. Bagi Rohman, angka ini terasa cukup berat untuk kunjungan rutin. "Agak keberatan," akunya.
Namun, pengunjung lain menilai harga tersebut masih masuk akal. Nazhif menyebutnya terjangkau karena pengunjung sudah bisa menikmati penangkaran rusa hingga curug. Ilham dan Erni juga menilai harga dan jarak Tahura masih sepadan untuk kalangan anak muda.
Dekat dari kota, sulit dicari gantinya
Kedekatan lokasi menjadi alasan yang paling sering disebut. Saat ditanya ke mana mereka akan pergi jika Tahura tidak ada, sebagian besar menyebut Lembang, Cikole, Tangkuban Perahu, atau Ciwidey, yang semuanya dinilai lebih jauh. "Itu sih bingung ya, karena Tahura salah satu destinasi yang dekat dari pusat kota," kata Nazhif.
Meski begitu, tidak semua datang hanya karena dekat. Erni mengaku tetap akan memilih Tahura walaupun ada tempat lain yang sama dekat dan sama murah. "Karena Tahura itu sejuk," katanya. Apakah anak muda lain juga sesetia itu, atau sekadar belum punya pilihan lain? Pertanyaan ini akan saya bahas lebih jauh dalam tulisan berikutnya.
Pesan untuk yang belum pernah datang
Di akhir obrolan, mereka punya pesan untuk yang belum pernah ke Tahura. Rizki mengajak orang-orang yang sibuk bekerja untuk sesekali berekreasi ke alam tanpa harus pergi jauh. Rohman mengingatkan pengunjung untuk mematuhi aturan, seperti tidak membuang sampah sembarangan dan tidak memberi makan monyet. Sementara Nazhif menjawab singkat: "Cobain."
