Konten dari Pengguna

Setia ke Tahura, Benarkah Karena Cinta?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari IRVAN ADITYA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tahura Djuanda. "Sebenernya karena suka aja," kata Eky (25) saat ditanya alasannya sudah empat kali datang ke Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Sedetik kemudian, ia menambahkan, "Karena saya domisili dari Dago, jadi emang karena jarak dari rumah saya dekat."

Jawaban Eky menggambarkan pertanyaan yang ingin saya cari tahu selama sepekan terakhir. Dari 22 hingga 29 Oktober 2026, saya menemui 11 pengunjung yang sudah datang ke Tahura minimal tiga kali. Pertanyaannya sederhana: mereka terus kembali karena benar-benar suka, atau karena memang tidak ada pilihan lain?

Suasana Penangkaran Rusa di Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, Bandung. Foto: Dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Suasana Penangkaran Rusa di Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, Bandung. Foto: Dokumentasi pribadi

Ada yang benar-benar jatuh cinta

Sebagian pengunjung jelas punya ikatan yang kuat dengan Tahura. Sophia (24), warga Sukajadi, sudah enam kali datang sejak 2018, mulai dari wisata, tugas sekolah, hingga membantu temannya memotret alam. Saat ditanya apakah ia akan berpindah bila ada tempat lain yang sama dekat dan sama murah, jawabannya tegas.

"Tahura tetep bakal jadi opsi wisata yang aku pilih buat jalan-jalan santai deh kayanya, sampai tua nanti," ujarnya. Baginya, Tahura sudah menjadi tempat aman untuk melepas penat tanpa harus repot.

Pengunjung seperti Sophia inilah yang dalam ilmu perilaku konsumen disebut punya loyalitas sejati. Mereka kembali bukan hanya karena dekat atau murah, tetapi karena kenangan dan rasa nyaman yang sudah terbangun.

Ada yang setia karena dekat

Namun, tidak semua cerita seperti itu. Bagi sebagian pengunjung, jarak menjadi alasan yang paling kuat. Defri (23) dari Cisitu mengaku Tahura masih punya kekurangan, mulai dari harga tiket yang menurutnya cukup mahal untuk fasilitas umum, tempat sampah yang belum banyak, hingga jalan yang belum mulus.

Lalu, kenapa ia tetap datang? "Balik lagi karena akses dari rumah dekat, tidak usah pakai kendaraan juga bisa," katanya. Ia juga menyebut Tahura sebagai nuansa alam yang paling dekat dari Dago, meski ia mengaku tetap menikmatinya.

Cerita Defri dan Eky menunjukkan sisi lain dari kesetiaan. Mereka menyukai Tahura, tetapi kedekatan lokasi ikut menentukan pilihan mereka.

Ada juga yang siap pindah

Kelompok ketiga adalah pengunjung yang terbuka untuk mencoba tempat lain. Salma (24) dari Cimahi mengaku sudah lima kali ke Tahura dan tidak pernah bosan. Namun, bila ada tempat lain yang lebih nyaman dan lebih bersih, ia tidak keberatan untuk berpindah.

Hal serupa disampaikan Ranti (24), yang juga tinggal di Cimahi. Ia pernah mengajak keluarganya, termasuk orang tua, karena jalurnya landai dan aman. Meski begitu, ia mengaku akan mencoba tempat lain bila ada yang lebih murah dan lebih nyaman untuk menikmati alam.

Kekurangan yang masih dimaklumi

Hampir semua pengunjung yang saya temui menyebut kekurangan Tahura. Selain soal sampah dan jalan, ada yang mengeluhkan toilet yang kadang gelap, fasilitas yang makin sedikit di area atas, hingga jasa pemandu yang terkesan tidak resmi.

Menariknya, semua tetap kembali. Bagi pengunjung yang sudah jatuh cinta, kekurangan itu masih bisa dimaklumi. Namun, bagi mereka yang datang karena dekat atau masih terbuka pada pilihan lain, kekurangan yang sama bisa menjadi alasan untuk pindah suatu hari nanti.

Jadi, suka atau terpaksa?

Dari 11 pengunjung, hanya sebagian kecil yang benar-benar tidak tergoyahkan oleh pilihan lain. Sebagian besar berada di tengah-tengah: mereka menyukai Tahura, tetapi alasan kembali juga dipengaruhi jarak, harga, dan belum adanya tempat lain yang sebanding.

Bagi pengelola, ini bisa menjadi catatan penting. Ramainya pengunjung hari ini belum tentu bertahan bila suatu saat muncul ruang hijau baru yang lebih nyaman. Memperbaiki hal-hal kecil, seperti kebersihan, toilet, dan jalan, bisa menjadi cara sederhana agar pengunjung yang datang karena dekat perlahan menjadi pengunjung yang benar-benar cinta.

Ketika saya meminta satu kata untuk Tahura, jawaban mereka beragam: lestari, alami, hingga josjis. Apa pun alasannya, Tahura tetap punya tempat di hati para pengunjungnya. Tinggal bagaimana tempat itu dijaga agar mereka terus kembali, bukan karena terpaksa, tetapi karena memang suka.