Konten dari Pengguna

Menunggu Kabar, Mencari Kepastian: Mengapa Anxious Attachment Melelahkan?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Isabela Andjani Santoso tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Pexels

Oleh: Isabela Andjani Santoso

Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.

Bagi sebagian orang, kabar mungkin hanya menjadi salah satu bentuk komunikasi dalam hubungan. Namun, bagi seseorang dengan anxious attachment, kabar bisa menjadi hal yang membuat mereka merasa tenang. Ketika kabar tidak kunjung datang, rasa penasaran yang mungkin biasa saja bagi orang lain dapat berubah menjadi kekhawatiran. “Dia kenapa?”, “Apa aku melakukan kesalahan?”, atau justru “Jangan-jangan terjadi sesuatu sama dia?” menjadi pertanyaan yang terus berputar di kepala.

Masalahnya, menunggu kabar bagi seseorang dengan anxious attachment tidak selalu sesederhana menunggu sebuah pesan masuk. Ada jeda yang harus dilewati, dan di dalam jeda itu muncul berbagai kemungkinan yang bisa dipikirkan. Pesan yang belum dibalas, tidak adanya interaksi seperti biasanya, atau perubahan kecil dalam komunikasi dapat membuat pikiran mulai mencari tahu apa yang sedang terjadi. Semakin lama tidak ada respons, semakin sulit untuk berhenti memikirkan berbagai kemungkinan tersebut.

Pada akhirnya, yang melelahkan bukan hanya menunggu kabar, tetapi juga terus mencari kepastian di tengah ketidakpastian.

Keinginan untuk mendapatkan jawaban tersebut bukan muncul tanpa alasan. Kepastian dapat menjadi tanda bahwa hubungan masih baik-baik saja dan dirinya masih diterima. Bartholomew dan Horowitz (1991) menjelaskan bahwa pola anxious attachment ditunjukkan melalui keinginan yang besar untuk mendapatkan perhatian dan validasi dari pasangan, disertai kekhawatiran terhadap kemungkinan ditolak. Individu dengan pola ini juga cenderung lebih peka terhadap perubahan sikap orang lain dan dapat menafsirkan sesuatu secara berlebihan. Kepekaan tersebut dapat membuat perubahan dalam komunikasi terasa lebih mengganggu, terutama ketika respons pasangan tidak seperti biasanya. Karena itu, jika kebutuhan akan kepastian terus muncul setiap kali terjadi perubahan dalam komunikasi, yang perlu diperhatikan bukan sekadar seberapa sering kabar diberikan, tetapi bagaimana pola komunikasi tersebut berlangsung. Yang dibutuhkan bukan komunikasi yang harus selalu ada, melainkan pola komunikasi yang konsisten.

Konsistensi dapat terlihat dari adanya pola komunikasi yang relatif stabil, baik dalam memberikan kabar maupun menunjukkan perhatian. Bukan berarti komunikasi harus selalu berlangsung dengan cara yang sama setiap hari, tetapi ada pola yang dapat dikenali sehingga perubahan dalam komunikasi tidak terasa datang secara tiba-tiba. Pola yang stabil seperti ini bukan hanya membantu mengurangi ruang untuk berbagai kemungkinan, tetapi juga menjadi bagian dari komunikasi yang membuat hubungan terasa lebih terarah.

Di sisi lain, kebutuhan akan konsistensi ini juga dapat menjadi beban bagi pasangan. Dalam komunikasi yang banyak berlangsung melalui chat dan media sosial, perubahan kecil seperti pesan yang belum dibalas atau tidak adanya tanda interaksi dapat lebih mudah diperhatikan. Namun, memberikan kabar secara konsisten tidak selalu mudah dilakukan, terutama ketika sedang fokus pada pekerjaan atau aktivitas lain, sementara kebutuhan untuk terus memberikan kabar tetap ada di sisi lain.

Perbedaan kebutuhan tersebut dapat membuat komunikasi terasa seperti tuntutan bagi salah satu pihak, sementara pihak lainnya merasa apa yang dilakukan belum cukup. Jika terus berulang, percakapan tentang kabar dapat berubah menjadi pertengkaran tentang siapa yang merasa kurang dipahami. Pola seperti ini bukan hanya melelahkan secara emosional, tetapi juga dapat membuat komunikasi yang seharusnya menjadi cara untuk menjaga kedekatan justru menjadi sumber ketegangan dalam hubungan.

Kalau pola ini ternyata melelahkan kedua pihak, lalu apa yang sebenarnya perlu diubah?

Kebutuhan akan kabar dan penjelasan dalam hubungan tetap penting, tetapi kecemasan yang muncul ketika kabar belum diterima juga perlu dikelola. Tidak setiap keterlambatan komunikasi berarti ada sesuatu yang salah dalam hubungan. Keinginan untuk segera mendapatkan jawaban perlu diimbangi dengan kemampuan memberi ruang dan memahami keadaan pasangan.

Kecemasan tersebut perlu dipahami tanpa langsung menganggap setiap perubahan dalam komunikasi sebagai tanda adanya masalah dalam hubungan. Ketika kabar belum diterima, rasa cemas, khawatir, sedih, atau marah tetap perlu dikenali dan diterima sebagai bagian dari emosi yang sedang dirasakan. Memberi jeda sebelum mengambil kesimpulan dapat membantu agar rasa khawatir tidak berkembang menjadi keinginan untuk segera mendapatkan jawaban. Hal tersebut juga tidak berarti pasangan boleh menghilang tanpa penjelasan ketika sedang sulit dihubungi.

Perubahan dapat dimulai dengan mengarahkan perhatian kembali pada diri sendiri, bukan menjadikan pasangan sebagai pusat aktivitas dan sumber rasa tenang. Ketika kabar belum diterima, tetap jalani aktivitas tanpa terus menunggu atau memusatkan perhatian pada pasangan. Penting juga untuk memahami perasaan yang muncul sebelum langsung mencari kepastian dari luar diri. Rasa cemas, khawatir, sedih, atau marah tidak perlu diabaikan, tetapi dapat dikenali dan diterima sebagai bagian dari emosi yang sedang dirasakan. Dengan begitu, seseorang dapat belajar menenangkan diri tanpa selalu bergantung pada respons orang lain. Dari sana, penting untuk membedakan fakta dan asumsi yang lahir dari kecemasan. Tidak adanya kabar memang merupakan fakta, tetapi berbagai kemungkinan setelahnya belum tentu menggambarkan keadaan yang sebenarnya.

Pada akhirnya, menghadapi dinamika anxious attachment bukan tentang berhenti membutuhkan kabar dari pasangan, melainkan tentang belajar memeluk kecemasan itu sendiri. Perubahan dimulai ketika kita mampu mengembalikan fokus kepada diri sendiri, mengenali emosi yang muncul, dan membedakan fakta dari asumsi yang lahir dari kecemasan. Hubungan tetap membutuhkan komunikasi untuk membangun rasa aman, tetapi ketenangan juga perlu tumbuh dari dalam diri agar ketidakpastian tidak selalu berubah menjadi kecemasan.