Konten dari Pengguna

Kenapa Semua Konten Psikologi Terasa Relate? Barnum Effect di Era Media Sosial

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Isnaini Aisyah Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Close-up of hands using a smartphone with a touchscreen, emphasizing mobile technology https://images.pexels.com/photos/215367/pexels-photo-215367.jpeg
zoom-in-whitePerbesar
Close-up of hands using a smartphone with a touchscreen, emphasizing mobile technology https://images.pexels.com/photos/215367/pexels-photo-215367.jpeg

Pernah saat sedang scrolling media sosial, tiba-tiba muncul video dengan kalimat seperti, “Kalau kamu sering merasa tidak enak menolak orang lain, kemungkinan kamu punya trauma masa kecil” atau “Orang yang sering terlihat ceria sebenarnya paling menyimpan luka batin”? Tanpa sadar, banyak orang langsung berpikir, “Wah, ini aku banget.”. Bahkan, tidak sedikit yang mulai merasa bahwa dirinya memiliki kondisi psikologis tertentu hanya berdasarkan konten singkat di media sosial. Hal ini menjadi semakin umum di tengah meningkatnya konsumsi konten psikologi digital, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda.

Fenomena tersebut sebenarnya tidak selalu berarti kontennya salah. Namun, ada satu konsep psikologi yang dapat membantu menjelaskan mengapa deskripsi yang terdengar umum bisa terasa sangat personal, yaitu Barnum Effect.

Apa itu Barnum Effect?

George dan Sylaja (2018, dalam Andi Widjannah Afdhal et al., 2024) mengemukakan bahwa Barnum Effect merupakan kecenderungan individu untuk menilai pernyataan yang tampak sangat akurat secara pribadi, meskipun pernyataan tersebut juga berlaku untuk orang lain. Dengan kata lain, seseorang dapat merasa sebuah pernyataan sangat menggambarkan dirinya, padahal pernyataan tersebut sebenarnya cukup luas sehingga dapat berlaku pada banyak orang.

Contoh sederhana dari Barnum Effect adalah pernyataan seperti, “Kamu terkadang merasa tidak percaya diri, tetapi di situasi tertentu kamu ingin dihargai oleh orang lain” atau “Kamu terlihat kuat di luar, tetapi sebenarnya memiliki banyak pikiran yang tidak semua orang tahu.”. Pernyataan seperti ini cenderung terasa personal karena menyentuh pengalaman emosional yang cukup umum dialami banyak individu. Namun, justru karena sifatnya yang umum itulah banyak orang merasa deskripsi tersebut “sangat akurat”.

Asal Usul Barnum Effect

Konsep Barnum Effect pertama kali dipopulerkan oleh Bertram R. Forer melalui eksperimennya. Dalam Dickson & Kelly (1985), dijelaskan bahwa Bertram R. Forer (1949) memulai penelitian empiris yang ditujukan untuk menemukan sejauh mana individu menerima deskripsi kepribadian umum sebagai sesuatu yang benar mengenai diri mereka sendiri. Forer memberikan Diagnostic Interest Blank kepada 39 mahasiswa di kelas pengantar psikologinya. Satu minggu kemudian ia memberikan kepada setiap subjek deskripsi kepribadian yang identik, yang terdiri atas pernyataan samar, ambigu, dan umum, yang sebagian besar diambil dari buku astrologi yang dijual di kios koran. Mahasiswa diminta menilai keakuratan profil mereka pada skala dari 0 (buruk) hingga 5 (sempurna). Rata-rata penilaian keakuratan adalah 4,3. Tidak ada seorang pun yang memberi nilai kurang dari 2, dan hanya 5 subjek yang memberi nilai kurang dari 4.

Penelitian ini menunjukkan bahwa manusia memiliki kecenderungan menerima informasi umum sebagai sesuatu yang terasa sangat personal.

Mengapa Barnum Effect Dapat Terjadi?

Menurut Jain (2007, dalam Andi Widjannah Afdhal et al., 2024), terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan munculnya Barnum Effect.

Pertama, prestige atau authority of the test administrator, yaitu kecenderungan individu untuk lebih mempercayai hasil tes ketika diberikan oleh seseorang yang dianggap memiliki otoritas, seperti psikolog atau mahasiswa psikologi, dibandingkan orang yang tidak memiliki latar belakang tersebut.

Kedua, generality of the statements, yaitu penerimaan yang lebih tinggi terhadap pernyataan yang bersifat umum dan dapat berlaku bagi hampir semua orang.

Ketiga, personalization, yaitu kecenderungan seseorang untuk lebih menerima hasil analisis apabila ia meyakini bahwa deskripsi tersebut dibuat secara khusus dan personal untuk dirinya.

Di media sosial, semua faktor ini hadir sekaligus. Akun dengan puluhan atau ratusan ribu pengikut memberi kesan otoritas. Konten dikemas seolah berbicara langsung ke penonton. Dan algoritmanya memastikan video yang paling banyak membuat orang berkata "ini aku banget" adalah video yang paling luas tersebar.

Dampaknya Tidak Selalu Negatif, tapi Perlu Diwaspadai!

Barnum Effect tidak selalu merugikan. Pada individu yang sedang mengalami krisis identitas atau kehilangan semangat, deskripsi positif yang terasa personal bisa memberikan sugesti yang membangun dan memperkuat rasa percaya diri (Andi Widjannah Afdhal et al., 2024).

Masalah muncul ketika efek ini mendorong seseorang memberikan label psikologis pada dirinya sendiri tanpa pemahaman yang memadai. Penelitian Andi Widjannah Afdhal et al. (2024) menunjukkan bahwa kecenderungan menerima hasil tes kepribadian online sebagai gambaran diri dapat dipengaruhi Barnum Effect, yaitu ketika deskripsi umum terasa akurat dan personal, lalu berujung pada self-diagnose tanpa evaluasi lebih lanjut. Kondisi ini juga dapat membuat individu lebih rentan terhadap kesalahan pemahaman tentang dirinya sendiri, membatasi eksplorasi potensi diri, dan memengaruhi cara mereka bersosialisasi (Vohs, 2016; Verywell Mind, 2021, dalam Andi Widjannah Afdhal et al., 2024).

Lalu, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Pada akhirnya, Barnum Effect menunjukkan bahwa manusia memiliki kecenderungan alami untuk mencari pemahaman tentang dirinya sendiri. Hal ini bukan sesuatu yang salah, tetapi perlu disertai sikap kritis dalam menerima informasi, terutama di era media sosial. Tidak semua hal yang terasa relate benar-benar menggambarkan kondisi psikologis seseorang secara akurat. Oleh karena itu, penting untuk tidak terburu-buru memberi label pada diri sendiri dan tetap mempertimbangkan sumber informasi maupun evaluasi profesional bila diperlukan.

________________________________________________

Ditulis oleh Isnaini Aisyah Putri dan Dr. Rachmat Mulyono, M.Si., Psikolog.

Referensi:

Andi Widjannah Afdhal, Lukman, & Ahmad Ridfah. (2024). Tes kepribadian online membentuk kepribadianku, benarkah?: Barnum effect ditinjau dari perbedaan jenis kelamin. PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial Dan Humaniora, 3(6), 771–782. https://doi.org/10.56799/peshum.v3i6.5212

Dickson, D. H., & Kelly, I. W. (1985). The ‘barnum effect’ in personality assessment: A review of the literature. Psychological Reports, 57(2), 367–382. https://doi.org/10.2466/pr0.1985.57.2.367

Forer, B. R. (1949). The fallacy of personal validation: A classroom demonstration of gullibility. The Journal of Abnormal and Social Psychology, 44(1), 118–123. https://doi.org/10.1037/h0059240