Anak Perempuan sebagai Jawara Taekwondo: Gengsi Anak Laki-Laki Terusik?

Isna - Mahasiswa jurusan Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Itsnaini Latifatur Rohmah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sekelompok anak perempuan asyik bermain boneka. Tidak jauh dari mereka, seorang anak perempuan kelas IV Sekolah Dasar (SD) berdiri di atas matras, mengenakan dobok —seragam taekwondo—dengan sabuk terikat di pinggangnya. Ia merentangkan kuda-kuda, melayangkan tendangan, lalu bergerak gesit menghadapi lawan latihannya. Baginya, latihan itu bukan sesuatu yang menakutkan, melainkan permainan menantang yang menyenangkan. Ia belajar membaca gerakan lawan, menyusun strategi, dan mengukur kemampuannya sendiri. Namun, bagi sebagian orang, pilihannya mungkin mengundang pertanyaan: mengapa anak perempuan tertarik pada olahraga bela diri yang selama ini kerap diidentikkan dengan laki-laki?
Pertanyaan tersebut memperlihatkan bahwa pilihan aktivitas anak masih sering dipengaruhi stereotip gender. Anak perempuan kerap diasosiasikan dengan kelembutan, sedangkan anak laki-laki dilekatkan dengan kekuatan dan keberanian. Akibatnya, ketika anak perempuan memilih taekwondo, pilihannya bisa dianggap tidak lazim. Padahal, kemampuan, minat, dan keberanian tidak ditentukan oleh jenis kelamin.
Penelitian Arundati Shinta (2012) mengkaji variabel psikososial yang memengaruhi pilihan peran gender anak. Kajian ini relevan untuk memahami bahwa cara anak memandang peran gender tidak terbentuk dalam ruang kosong, tetapi berkaitan dengan lingkungan sosialnya. Orang tua, guru, teman sebaya, dan media dapat ikut membentuk pandangan anak tentang aktivitas yang dianggap sesuai bagi laki-laki atau perempuan. Penelitian tersebut tidak secara khusus membahas taekwondo, tetapi dapat menjadi pijakan untuk memahami bagaimana pandangan tentang peran gender terbentuk. Karena itu, anak membutuhkan kesempatan untuk mengeksplorasi minat dan kemampuannya tanpa dibatasi anggapan bahwa kegiatan tertentu hanya pantas untuk laki-laki atau perempuan.
Tantangan Anak Perempuan dalam Taekwondo
Menjadi atlet anak bukan hanya tentang berlatih dan memenangkan pertandingan. Ada tuntutan yang harus diseimbangkan, mulai dari jadwal latihan yang berbenturan dengan ulangan sekolah hingga persiapan menghadapi kompetisi. Salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah tuntutan menurunkan berat badan dalam waktu singkat agar sesuai dengan kategori pertandingan, kemudian menaikkannya kembali untuk kompetisi berikutnya.
Bagi anak yang masih tumbuh, pengaturan berat badan perlu dilakukan dengan sangat hati-hati. Target kompetisi tidak seharusnya mengalahkan kebutuhan tumbuh kembang anak. Pelatih dan orang tua perlu mengutamakan keselamatan, mempertimbangkan kondisi fisik anak, serta menghindari target perubahan berat badan yang tidak sesuai dengan kebutuhan kesehatannya. Jika pengaturan berat badan memang diperlukan, pendampingan tenaga kesehatan yang kompeten menjadi penting. Prestasi seharusnya dicapai melalui pembinaan yang sehat, bukan dengan mengorbankan kesejahteraan anak.
Peran Orang Tua: Mendukung Tanpa Menekan
Dukungan ayah dan ibu menjadi salah satu unsur penting dalam perjalanan anak sebagai atlet. Dukungan bukan sekadar mengantar latihan, menyediakan perlengkapan, atau mendampingi pertandingan. Dukungan juga berarti mendengarkan cerita anak, memahami perasaannya, menghargai usahanya, dan tidak menjadikan kemenangan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
Grolnick dan Slowiaczek (1994) menjelaskan keterlibatan orang tua dalam konteks pendidikan melalui model yang mencakup dimensi perilaku, kognitif-intelektual, dan personal. Meskipun kerangka tersebut dikembangkan untuk memahami keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak, gagasannya dapat menjadi titik awal untuk memikirkan bentuk dukungan orang tua dalam kegiatan olahraga, dengan tetap memperhatikan perbedaan konteksnya.
Dalam taekwondo, dukungan dapat diwujudkan melalui keterlibatan dalam kebutuhan latihan, percakapan tentang pengalaman bertanding, serta perhatian terhadap kondisi dan perasaan anak. Orang tua juga dapat membantu anak mengatur waktu antara latihan, belajar, dan beristirahat.
Pada praktiknya, dukungan tidak selalu mudah diberikan. Orang tua mungkin menghadapi keterbatasan waktu dan biaya pertandingan, serta kesulitan mengikuti sistem pendaftaran digital atau administrasi kompetisi. Namun, orang tua dapat berusaha mencari solusi sesuai kemampuan keluarga, mempelajari sistem yang diperlukan, dan berkomunikasi dengan pelatih. Yang terpenting, anak tidak dibuat merasa bersalah atas keterbatasan yang dihadapi keluarganya.
Dukungan juga berarti memberi ruang bagi anak untuk bertumbuh tanpa mengambil alih seluruh prosesnya. Anak dapat dilibatkan dalam menyusun jadwal, mempersiapkan perlengkapan, mengevaluasi pertandingan, dan belajar bertanggung jawab atas pilihannya. Dengan begitu, orang tua tidak hanya membantu anak menjalani kegiatan olahraga, tetapi juga mendukung tumbuhnya kemandirian.
Meruntuhkan Stereotip, Membuka Ruang Potensi
Dalam teori sosial-kognitif, Bandura (1986) menjelaskan bahwa perilaku dan keyakinan seseorang berkembang melalui interaksi antara faktor pribadi, perilaku, dan lingkungan. Pengalaman langsung, pengamatan terhadap orang lain, serta respons dari lingkungan menjadi bagian dari proses belajar. Dalam taekwondo, anak berlatih menguasai keterampilan, menerima koreksi pelatih, mengamati atlet lain, serta menghadapi pengalaman menang maupun kalah.
Bagi anak perempuan, pengalaman berlatih taekwondo dapat menjadi kesempatan untuk membangun keyakinan bahwa dirinya mampu mempelajari keterampilan yang menantang. Ia belajar bahwa keberanian bukan berarti tidak pernah takut, melainkan kesediaan untuk mencoba dengan persiapan yang baik. Ia juga belajar bahwa kekuatan bukan hanya kemampuan mengalahkan lawan, tetapi juga mengendalikan diri, menghormati orang lain, dan bangkit setelah mengalami kegagalan.
Meski demikian, tidak semua anak harus menjadi atlet juara untuk dianggap berhasil. Ada anak yang berkembang melalui olahraga, ada pula yang menemukan potensinya dalam seni, sains, atau bidang lain. Tujuan pendampingan bukan memaksa anak meraih medali, melainkan membantunya menemukan kemampuan, minat, dan ruang pertumbuhan yang sesuai.
Ketika anak perempuan menjadi jawara taekwondo, apakah gengsi anak laki-laki benar-benar terusik? Barangkali persoalan utamanya bukan tentang siapa yang lebih unggul, melainkan anggapan bahwa kekuatan, keberanian, dan prestasi lebih pantas dimiliki laki-laki.
Matras taekwondo seharusnya menjadi ruang bagi setiap anak untuk belajar dan berkembang, bukan tempat untuk membuktikan bahwa satu gender lebih unggul daripada gender lainnya. Sebab, kemenangan terbesar bukan semata-mata berdiri di podium, melainkan ketika anak berani mencoba, mengenali potensinya, dan tumbuh tanpa harus dibatasi oleh stereotip.
