Konten dari Pengguna

Ketika Bayangan Menjadi Tempat Pulang

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Izar Zarkazi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

poto ini adalah bayangan ku yang selalu mengikuti disaat aku berdiri dikaca sumber: dokumen pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
poto ini adalah bayangan ku yang selalu mengikuti disaat aku berdiri dikaca sumber: dokumen pribadi.

Setiap pagi manusia berangkat mengejar cahaya. Mereka percaya bahwa semakin terang hidupnya, semakin dekat dengan kebahagiaan. Namun, tidak ada yang bertanya kepada bayangan yang selalu mengikuti tanpa pernah diajak berbicara.

Bayangan adalah satu-satunya teman yang tidak pernah meminta dikenalkan kepada orang lain. Ia hadir ketika kita berdiri, didepan kaca, kita diam. Anehnya, semakin terang cahaya yang menyinari kita, semakin jelas pula bayangan itu muncul. Seolah-olah kehidupan selalu mengingatkan bahwa setiap keberhasilan akan selalu memiliki sisi yang tidak terlihat.

Bayangkan jika suatu hari bayangan dapat berbicara. Mungkin ia akan berkata, "Aku tidak iri pada wajahmu yang dipuji banyak orang. Aku hanya ingin sesekali dipandang." Kalimat itu terdengar aneh, tetapi mirip dengan kehidupan manusia. Banyak orang sibuk memperlihatkan sisi terbaiknya, sementara sisi rapuhnya disembunyikan begitu dalam.

Ada filosofi sederhana yang jarang disadari. Bayangan tidak pernah berjalan di depan. Ia memilih berada di belakang, seolah mengajarkan bahwa masa lalu tidak perlu memimpin langkah kita. Namun, pada waktu tertentu, saat matahari mulai tenggelam, bayangan justru berada di depan. Mungkin hidup sedang memberi tanda bahwa masa depan kadang dibentuk oleh apa yang pernah kita tinggalkan.

Tidak ada orang yang memotret bayangannya untuk dipajang di ruang tamu. Padahal, bayangan adalah saksi paling setia atas setiap perjalanan. Ia ikut menyaksikan tangisan yang tidak diketahui siapa pun, langkah kecil yang penuh keraguan, hingga keberanian yang lahir tanpa tepuk tangan.

Mungkin yang paling aneh bukanlah bayangan itu sendiri, melainkan manusia yang selalu ingin terlihat bercahaya, tetapi takut menerima bahwa dirinya juga memiliki sisi gelap. Padahal tanpa sisi gelap itu, bayangan tidak akan pernah ada.

Barangkali, rumah yang sebenarnya bukanlah tempat kita pulang setiap malam, melainkan keberanian untuk berdamai dengan bayangan diri sendiri. Karena saat seseorang mampu menerima seluruh dirinya, cahaya dan gelap tidak lagi saling bertentangan. Keduanya justru menjadi alasan mengapa manusia tetap utuh.