Logika Thrifting Gen Z: Menyucikan "Dosa" Fast Fashion

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Program Studi Aqidah Filsafat Islam
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Jauhar Maknun tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Setiap kali kita melihat layar TikTok atau Instagram Reels, pemandangan anak muda memamerkan hasil tangkapan baju bekas (thrift haul) menjadi hal yang lumrah. Pasar Senen di Jakarta atau Pasar Gedebage di Bandung kini tak lagi identik dengan tempat belanja masyarakat kelas bawah, melainkan telah bergeser menjadi "Mekkah"-nya Gen Z yang berburu estetika vintage, gorpcore, hingga Y2K.

Namun, jika dicermati lebih dalam melalui kacamata studi agama dan etika spiritual, fenomena thrifting bukan sekadar gerakan outfit of the day (OOTD) atau perlawanan terhadap harga baju mal yang mahal. Ada pergeseran makna yang jauh lebih dalam: sebuah pencarian spiritualitas modern di mana baju bekas diubah dari barang rongsokan menjadi media "penyucian" dosa ekologis.
Fast Fashion sebagai Dosa Ekologis Masa Kini
Dalam berbagai tradisi keagamaan, kerakusan (greed) dan perilaku berlebih-lebihan (israf) selalu dikategorikan sebagai tindakan destruktif. Di era modern, manifestasi terbesarnya ada pada industri fast fashion. Model bisnis ini memaksa manusia terus membeli, memakai sekali-dua kali, lalu membuang pakaian ke tempat pembuangan akhir.
Di mata Gen Z—generasi yang tumbuh di tengah ancaman krisis iklim—membeli baju baru dari raksasa fast fashion perlahan-lahan dipersepsikan seperti melakukan "dosa sosial". Ada rasa bersalah yang muncul ketika sebuah kaos murah yang dibeli ternyata menyumbang limbah mikroplastik di lautan atau melestarikan eksploitasi buruh di negara berkembang.
Konsumerisme bukan lagi sekadar urusan transaksi ekonomi, melainkan masalah moral. Lantas, bagaimana cara Gen Z menebus "dosa" tersebut?
Thrifting dan Ritual "Penyucian" (Purification)
Di sinilah logika thrifting bekerja. Dalam studi agama, manusia yang merasa berdosa akan melakukan ritual penebusan (redemption) atau penyucian (purification) untuk mengembalikan kesucian dirinya dan keselarasan dengan alam.
Bagi Gen Z, kegiatan thrifting dianalogikan sebagai bentuk penebusan dosa ekologis tersebut. Dengan mengadopsi pakaian bekas, mereka merasa berhasil memutus rantai limbah tekstil dan "menyelamatkan" sebuah pakaian dari takdir menjadi sampah. Ada kepuasan moral yang dirasakan: “Saya tetap bisa tampil keren tanpa harus merusak bumi.”
Selain itu, thrifting juga mencerminkan kembali nilai askese (kesederhanaan/pembatasan diri) yang diajarkan banyak ajaran spiritual dunia. Jika dulu kesolehan diukur dari sejauh mana seseorang mampu menahan diri dari godaan duniawi, Gen Z mempraktikkannya dengan menahan diri dari godaan membeli barang baru yang diproduksi secara massal.
Paradoks: Ketika "Penyucian" Menjadi Berhala Baru
Meski demikian, apakah gerakan thrifting ini benar-benar suci dari cela? Di sinilah pentingnya sikap kritis. Sering kali, spirit penyucian lingkungan ini terjebak dalam paradoks konsumerisme baru. Banyak anak muda yang melakukan thrift haul bukan karena butuh, melainkan demi kepuasan mengumpulkan barang unik (overconsumption versi baju bekas). Ketika baju bekas dibeli berkarung-karung hanya untuk konten media sosial, etika keberlanjutan itu gugur dan berubah menjadi sekadar fetisisme mode baru.
Belum lagi masalah gentrifikasi thrifting. Ketika anak muda kelas menengah memborong baju bekas di pasar tradisional untuk dijual kembali dengan harga berkali-kali lipat (reseller), mereka secara tidak langsung mengikis akses masyarakat berpendapatan rendah yang dulunya betul-betul bergantung pada baju bekas murah untuk bertahan hidup.
Redefinisikan Kesolehan Lewat Lemari Pakaian
Pada akhirnya, fenomena thrifting menunjukkan bagaimana Gen Z menginterpretasikan ulang ajaran kebaikan dan etika di era modern. Spiritualitas tak lagi cuma dibahas di ruang-ruang ibadah formal, melainkan merembet ke pilihan-pilihan gaya hidup sehari-hari—termasuk apa yang melekat di tubuh mereka.
Thrifting menjadi bukti bahwa bagi Gen Z, pakaian bukan cuma soal menutupi aurat atau mempercantik diri, melainkan sebuah pertanggungjawaban moral kepada bumi. Selama dilakukan dengan kesadaran penuh dan bukan sekadar ikut-ikutan tren konsumtif baru, lemari pakaian Gen Z akan terus menjadi arena kecil tempat mereka memperjuangkan "kesucian" di tengah riuhnya dunia yang makin tercemar.
